Film “Bumi Manusia Extended” Hadir dalam Format Serial Enam Bagian
Film adaptasi novel legendaris karya Pramoedya Ananta Toer, “Bumi Manusia”, kembali hadir dalam versi extended. Melalui wajah barunya ini film yang pernah yatang bebrapa tahun lalu menawarkan cerita lebih lengkap dan mendalam.
Versi terbaru kembali digarap oleh sutradara Hanung Bramantyo dan akan tayang secara eksklusif dalam format serial enam bagian di platform digital KlikFilm. Serial tersebut mulai tayang pada 5 Maret 2026 dan dijadwalkan hadir dua kali setiap pekan, yakni setiap Senin dan Kamis.
Menurut Hanung Bramantyo bahwa versi extended ini memberikan kesempatan baginya untuk menyampaikan cerita secara lebih utuh. “Sejak awal saya menyadari bahwa Bumi Manusia adalah dunia cerita yang luas. Dalam versi extended ini, kami dapat menghadirkan kembali detail relasi antartokoh, konflik identitas, serta dinamika kolonialisme yang sebelumnya harus dipadatkan. Ini bukan sekadar menambah durasi, tetapi memperdalam rasa dan perspektif,” ujar Hanung dalam keterangannya. Hanung mengakui bahwa keterbatasan tersebut merupakan konsekuensi dari tuntutan industri film saat itu.
Padahal, lanjut hanung, rekaman awal hasil syuting sebenarnya memiliki durasi yang sangat panjang. “Total materi yang kami syuting dulu mencapai sekitar enam jam. Namun demi kebutuhan distribusi bioskop, semuanya harus dipadatkan menjadi sekitar dua jam. Proses itu sangat berat karena banyak adegan penting yang akhirnya harus dipotong,” tambahnya. Dalam produksinya Falcon Pictures yang bekerja sama dengan platform streaming KlikFilm. Adanya format baru ini juga menjadi kesempatan untuk menampilkan kembali sejumlah adegan yang sebelumnya tidak masuk ke versi layar lebar karena keterbatasan durasi.
Saat pertama kali tayang tujuh tahun lalu, “Bumi Manusia” memang memicu perdebatan terutama pembaca novel aslinya. Versus bioskop dirasa kurang menonjolkan kisah romansa antara Minke dan Annelies. Sedangkan aspek sosial, politik, dan pemikiran kritis yang ada dalam novel yang menjadi kekuatan terasa belum tergarap sepenuhnya. Kini, melalui format serial digital, Hanung memiliki ruang yang lebih bebas untuk menyampaikan keseluruhan cerita.
Salah satu bagian yang kembali dihadirkan adalah interaksi Minke dengan tokoh Jean Marais, seorang pelukis asal Prancis yang berperan dalam memperluas wawasan dan pemikiran tokoh utama terhadap kolonialisme dan identitas. Selain memperkaya alur cerita, versi extended ini juga memberi ruang lebih besar bagi karakter kuat seperti Nyai Ontosoroh untuk berkembang. Dalam novel aslinya, tokoh tersebut dikenal sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan sistem kolonial dan menjadi salah satu karakter paling berpengaruh dalam sastra Indonesia.
Sementara itu Direktur KlikFilm, Frederica, mengatakan perilisan versi extended ini peringatan satu abad kelahiran Pramoedya Ananta Toer. “Perayaan seabad Pram menjadi momentum penting untuk kembali memperkenalkan karya besarnya kepada generasi baru. Kami percaya Bumi Manusia adalah karya yang tidak cukup diceritakan hanya dalam satu format. Versi extended ini memberi ruang kontemplasi yang lebih luas bagi penonton,” kata Frederica. Ia menambahkan bahwa kehadiran serial ini diharapkan dapat menjadi alternatif tontonan berkualitas menjelang libur Lebaran 2026. Tidak hanya sebagai hiburan, karya ini juga diharapkan mampu menghadirkan refleksi tentang sejarah, kemanusiaan, dan jati diri bangsa.
Respons positif juga datang dari keluarga Pramoedya. Perwakilan keluarga, Astuti Ananta Toer, menyambut baik adaptasi baru ini karena dinilai dapat menjangkau generasi muda melalui medium yang lebih dekat dengan mereka. “Kami melihat format serial ini sebagai cara baru untuk menjaga karya Bapak tetap hidup dan relevan. Harapannya, setelah menonton, semakin banyak orang yang tertarik membaca kembali novelnya dan memahami gagasan besar tentang kemanusiaan, keadilan, dan harga diri,” ujar Astuti.
Melalui “Bumi Manusia Extended”, penonton diajak kembali menyelami suasana Hindia Belanda, menyaksikan pergulatan identitas Minke, serta merasakan keteguhan Nyai Ontosoroh menghadapi hukum kolonial yang menindas. Dengan durasi yang lebih panjang dan alur yang lebih lengkap, kisah klasik ini akan mampu menghadirkan pengalaman menonton yang lebih emosional sekaligus reflektif bagi penonton masa kini.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement