Embung untuk Lumbung, dari Kekeringan Menuju Alam Lestari
Panas terik Kabupaten Blora menjadi pertanda air adalah emas di daerah ini. Sebagian wilayah di kabupaten yang dikelilingi hutan ini, kehidupan warganya bergantung pada belas kasih hujan.
Satu diantaranya, adalah Desa Megeri, terletak di Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Ngawi di sisi timurnya, yang merupakan batas antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Namun, sebuah perubahan kini mulai menggenang di cekungan tanah seluas 1,84 hektare di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) UGM.
Adalah Embung Watu Macan. Diresmikan pada Kamis, 25 September 2025. Siang itu, suhu udara pada tampilan layar handphone menjukkan angka 34 derajat namun terasa 39 derajat.
Keberadaan embung itu, bukan sekadar kolam penampung air, melainkan bentuk janji untuk mengubah tadah hujan menjadi lumbung kehidupan yang berkelanjutan.
Embung Watu Macan, Oasis di Tengah Kekeringan
Terdapat cerita panjang tentang kekeringan yang telah lama membelenggu Desa Megeri. Lahan kritis dan ketergantungan pada air hujan membatasi daya jelajah pertanian dan ekonomi warga.
Embung Watu Macan, dengan kapasitas tampung mencapai 10.000 meter kubik, hadir sebagai jawaban kongkrit. Kehadirannya, bagai oasis yang dihadirkan di tengah tantangan alam, sebuah infrastruktur yang dirancang untuk menjadi penopang ketahanan air jangka panjang.
Yang menarik dari embung ini, bukan hanya fungsinya sebagai penampung air. Namun, jauh lebih besar. Seperti diungkapkan oleh President Director Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari, filosofinya adalah "Embung untuk Lumbung".
"Embung ini, kami tidak hanya menghadirkan infrastruktur air, tetapi juga berperan sebagai lumbung. Lumbung pengetahuan, ekonomi, dan lingkungan bagi masyarakat," Agus menuturkan saat berlangsungnya peresmian Embung Watu Macan.
Visi itu diwujudkan dengan pendekatan yang terintegrasi. Di sekeliling embung, tidak hanya akan ditanami vegetasi biasa, tetapi juga pembibitan pohon nilam, durian, dan kelengkeng. Langkah ini dirancang untuk memperkuat ekosistem ekonomi baru yang berbasis pertanian dan wisata.
Komisaris Independen PT Pertamina (Persero), Condro Kirono, membayangkan kawasan ini akan bertransformasi menjadi eko-eduwisata.
“Embung ini akan menunjang kebutuhan pertanian, agroforestri, hingga pengembangan pariwisata. Harapannya, kawasan ini bisa berkembang menjadi eko-eduwisata, yang menggabungkan keindahan alam dengan edukasi tentang konservasi dan kearifan lokal,” ujar Condro Kirono.
Ia mengajak masyarakat untuk turut serta menjaga aset berharga ini.
“Embung ini harus dijaga dengan baik karena menjadi sumber kehidupan yang berharga bagi masyarakat,” kata Condro.
Kolaborasi menjadi kunci kesuksesan program ini. Pertamina Foundation tidak bekerja sendirian. Universitas Gadjah Mada (UGM) hadir sebagai mitra dengan menyediakan lahan, pendampingan teknis, pemberdayaan masyarakat, dan penyediaan bibit.
“Inilah bentuk kolaborasi UGM dengan Pertamina Foundation sebagai upaya pengelolaan air berkelanjutan sekaligus pemberdayaan masyarakat desa di lahan kritis. Ini juga menjadi simbol penguatan tridharma perguruan tinggi,” jelas Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM, Arief Setiawan Budi Nugroho pada kesempatan yang sama.
Bupati Blora, Arief Rohman, menyambut baik kehadiran embung ini dan berharap ia bisa menjadi prototipe percontohan untuk daerah lainnya.
“Pemkab Blora akan mendukung penuh program ini. Kami siap bersinergi dengan Pertamina agar manfaatnya semakin luas bagi masyarakat,” ungkap Arief Rohman.
Harapan besar dirasakan warga. Seperti diungkapkan, Kepala Desa Megeri Podo. Dia menyaksikan genangan air yang sementara terisi dari pipa yang menjulur dari tepian sungai Bengawan solo. Menjulur daru bawah hingga puncak tanah berbukit yang dikeruk menjadi embung.
“Atas nama seluruh warga Desa Megeri, saya mengucapkan terima kasih kepada Pertamina. Embung ini bukan hanya bangunan biasa bagi kami, tapi jalan hidup baru. Air jadi lebih mudah, pertanian bisa lebih subur, dan insyaAllah rezeki kita akan semakin lancar ke depannya,” tutur Podo dengan penuh keyakinan.
Sekadar diketahui, peresmian yang ditandai dengan penandatanganan prasasti, pemecahan kendi, dan penanaman pohon produktif bersama itu bukanlah garis akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang.
Embung Watu Macan lebih dari sekadar beton dan tanah; ia adalah harapan yang ditanam hari ini, untuk dituai sebagai lumbung kemakmuran. Upaya pembangunan embung ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan Asta Cita Pemerintah.
Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target net zero emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.
Advertisement