Elang Bido, di Antara Hutan Jati Bojonegoro dan Tuban
Keberadaan elang bido (Spilornis cheela) masih dapat ditemukan di kawasan hutan jati dan sekitarnya di wilayah Bojonegoro, Jawa Timur. Salah satu buktinya adalah peristiwa penyelamatan seekor elang bido yang terjerat di wilayah Tuban, yang kemudian dievakuasi ke kantor Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Bojonegoro untuk proses rehabilitasi.
Satwa langka pemangsa ular ini kini berada dalam kandang rehabilitasi sementara di kantor SKW II Bojonegoro. Proses pelepasan tali yang melilit di kakinya dilakukan secara hati-hati oleh petugas akhir Juni 2025 lalu.
Menurut keterangan petugas, elang bido yang terjerat di Tuban diduga merupakan korban perangkap atau aktivitas manusia lainnya. Setelah berhasil diselamatkan, elang tersebut dibawa ke Bojonegoro untuk menjalani perawatan medis dan pemulihan kondisi fisik sebelum nantinya akan dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.
Kawasan hutan jati di perbatasan Bojonegoro dan Tuban, tepatnya di Kecamatan Kedewan, memang masih lumayan rimbun. Juga kawasan hutan di beberapa desa di Kecamatan Bangilan, Tuban. Dua kecamatan di dua kabupaten ini, beririsan dengan kawasan Pegunungan Kendeng Utara. Sebagian berada di dataran tinggi sekitar 330 meter di atas permukaan air laut (mdpl) ini, daerah dengn tanah berkapur.
Di kawasan hutan ini, memang menjadi tujuan para pemburu. Mulai dari burung, juga babi hutan, bajing dan hewan lainnya. Namun, seiring dengan penebangan hutan, para penghuni satwa di hutan jati itu, menyingkir.
Seorang pemburu asal Bojonegoro, Mbah Yik,71, tahun, menyatakan, hutan di Kecamatan Kedewan dan sekitarnya, masih menyimpan pelbagai jenis burung. Tetapi khusus untuk jenis elang bido, memang mulai jarang ditemukan. Padahal, 10-15 tahun silam, elang bido masih sering ditemukan. Bahkan, anak-anaknya juga diperjualbelikan. “Tapi sekarang susah mencarinya,” ujarnya pada Ngopibareng.id, Kamis 24 Juli 2025.
Elang bido dikenal sebagai predator alami yang berperan penting dalam ekosistem, terutama dalam memangsa ular, reptil, katak, dan mamalia kecil. Namun, populasi burung pemangsa ini di alam liar terindikasi mengalami penurunan akibat degradasi habitat dan aktivitas manusia.
Ciri Fisik Khas Elang Bido
Elang bido memiliki tubuh berwarna dominan cokelat gelap hingga hitam, dengan garis putih lebar di ekor dan ujung belakang sayap yang terlihat jelas saat terbang. Sayapnya sangat lebar dan membulat, serta saat mengepakkan sayap di udara, bentuknya menyerupai huruf “C” — mirip dengan elang jawa.
Ciri khas lain yang mudah dikenali: Kulit kuning terang tanpa bulu di sekitar mata hingga paruh. Kemudian, jambul pendek dan lebar berwarna hitam-putih Sementara iris mata kuning, paruh cokelat abu-abu, dan kaki berwarna kuning Suara panggilan keras: terdengar seperti “Kiiiik” panjang dengan nada yang ditekan di akhir
Warna dan Pola Bulu Berdasarkan Usia
Dewasa: Bagian atas cokelat abu-abu gelap, bagian bawah cokelat dengan bintik-bintik putih. Terdapat pita abu-abu lebar di tengah ekor yang berpola tiga garis hitam.
Remaja: Warna bulu lebih cokelat dan lebih banyak putih, terutama di bagian bawah. Perut cenderung putih kekuningan dengan guratan gelap lebar. Ekor berwarna lebih terang dengan tiga pita hitam khas.
Sebagian pecinta burung meyakini bahwa kulit kaki elang bido memiliki kekebalan terhadap bisa ular. Hal ini menjadikan mereka dikenal dengan sebutan "elang ular", karena kebiasaannya memangsa ular dan reptil lain sebagai makanan utama.
Meskipun belum sepenuhnya dibuktikan secara ilmiah, kemampuan elang ini berburu ular berbisa menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi pengamat burung dan peneliti satwa liar.
Pentingnya Pelestarian dan Perlindungan Habitat
Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya konservasi satwa liar dan perlindungan habitat alaminya, terutama di wilayah hutan jati yang menjadi salah satu rumah alami bagi elang bido.
Upaya rehabilitasi seperti ini menunjukkan komitmen pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kelangsungan hidup satwa liar yang terancam. Dengan habitat yang terus menyempit, populasi elang bido di Bojonegoro dan sekitarnya perlu mendapatkan perhatian lebih melalui edukasi masyarakat dan pengawasan terhadap perburuan liar.