Duka Keluarga Jenazah Gagal Dimakamkan di TPU Desa Grogol, Sidoarjo
Duka mendalam menyelimuti keluarga Irwan Dwi Wahyudi saat prosesi pemakaman orang tua mereka, almarhum Khoiruddin (77), justru berujung penolakan. Di tengah suasana kehilangan, rombongan pengantar jenazah terpaksa kembali ke rumah duka setelah dihadang warga saat hendak memasuki Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Grogol, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo.
Khoiruddin menghembuskan napas terakhir pada Selasa 16 Desember 2025 malam, setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Siti Fatimah. Pagi harinya, keluarga membawa jenazah menuju pemakaman desa dengan harapan almarhum dapat dimakamkan secara layak di tanah yang selama ini mereka yakini sebagai tempat peristirahatan terakhir warga Desa Grogol. Namun harapan itu runtuh seketika.
“Sesampainya di depan gerbang makam, kami dihadang. Jenazah tidak diizinkan masuk. Kami diminta kembali,” ujar Irwan Dwi Wahyudi, anak almarhum, Jumat, 19 Desember 2025, dengan suara bergetar.
Irwan mengisahkan, penolakan terjadi tanpa peringatan sebelumnya. Di tengah isak tangis keluarga dan pelayat, jenazah terpaksa diputar balik. Tak sedikit anggota keluarga yang syok dan tak kuasa menahan air mata.
“Kami sedang berduka, pikiran kami fokus mengantar ayah untuk terakhir kali. Tapi justru dihadapkan pada penolakan seperti ini,” tuturnya.
Menurut Irwan, alasan yang disampaikan warga berkaitan dengan sengketa akses jalan menuju makam yang dibangun pengembang perumahan. Jalan tersebut diklaim masih menjadi bagian dari konflik lahan antara warga desa dan pihak perumahan.
Bagi keluarga, persoalan itu terasa begitu berat diterima. Pasalnya, almarhum Khoiruddin disebut sebagai warga Desa Grogol yang telah lama tinggal di wilayah tersebut.
“Ayah kami warga desa sini. Kami tidak mengerti mengapa harus ada izin atau penolakan. Rasanya seperti kehilangan dua kali,” ucap Irwan lirih.
Peristiwa tersebut meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Penolakan pemakaman dinilai mencederai nilai kemanusiaan, terlebih terjadi di saat keluarga tengah berada dalam kondisi paling rapuh.
“Sebagai anak, saya hanya ingin ayah kami dimakamkan dengan tenang. Tapi kenyataannya, kami harus membawa pulang jenazah. Itu tidak akan pernah kami lupakan,” katanya.
Kejadian itu direkam oleh pihak keluarga dan diunggah ke media sosial sebagai bentuk luapan kesedihan. Video tersebut dengan cepat menyebar dan memantik empati serta kemarahan warganet.
Irwan menegaskan, keluarga tidak berniat memperkeruh suasana. Mereka hanya berharap kejadian serupa tidak menimpa keluarga lain di kemudian hari.
“Duka seharusnya menjadi ruang untuk saling menguatkan, bukan menambah luka. Kami tidak ingin ada keluarga lain yang merasakan sakit seperti ini,” pungkasnya.
Sebelumnya, warga Sidoarjo digegerkan oleh viralnya video penolakan pemakaman jenazah di TPU Desa Grogol. Peristiwa tersebut diduga dipicu sengketa lahan dan fasilitas umum antara warga Desa Grogol dan warga Perumahan Surya Kencana yang hingga kini belum menemukan titik temu.