Dosen Asal Jember Perkenalkan Kopi Lokal di Forum Akademik Dunia
Kopi Jember diproyeksikan akan mendapat panggung baru di kancah internasional. Melalui jalur akademik, komoditas lokal ini dikenalkan oleh Amri Dhimas Maulana, warga Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, Jember.
Amri adalah dosen Universitas Tazkia sekaligus mahasiswa program doktor (S3) Pendidikan IPS di Universitas Pendidikan Indonesia.
Amri hadir sebagai pemateri dalam World Engineering Educational Forum & Global Engineering Deans Council (WEEF & GEDC) Annual Conference 2025 yang berlangsung di EXCO Convention Hall, Daegu, Korea Selatan. Forum internasional bergengsi ini digelar selama lima hari pada 21–25 September 2025.
Forum rutin tahunan itu menjadi wadah bagi akademisi, praktisi, hingga pemimpin pendidikan tinggi untuk mendiskusikan inovasi dan pengembangan keilmuan. Tahun ini, Daegu Gyeongbuk Institute of Science and Technology (DGIST) dipercaya sebagai tuan rumah.
Amri menyebut keikutsertaannya dalam forum tersebut sebagai kesempatan strategis, bukan hanya untuk berbagi gagasan, melainkan juga memperkenalkan kopi Jember kepada dunia.
“Saya mengikuti kegiatan ini dengan dukungan penuh dari LPDP. Sejak awal, LPDP konsisten memfasilitasi generasi muda Indonesia untuk berkiprah di dunia akademik global. Bagi saya, forum ini bukan hanya ajang akademik, tapi juga langkah penting memperkenalkan kopi Jember ke pasar internasional,” ujarnya, Selasa, 23 September 2025.
Riset IPS dan Kopi Jember
Dalam konferensi tersebut, Amri mempresentasikan riset berjudul “Social Studies Learning with Local Coffee: A Community-Based Approach From The Field to Digital Marketplace.”
Riset ini mencoba menjembatani pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan realitas lokal, khususnya potensi kopi di Kabupaten Jember yang kualitasnya sudah diakui luas.
“Tren kopi kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup, termasuk generasi muda. Melalui riset ini, saya ingin mengintegrasikan kopi Jember dalam pembelajaran IPS, sehingga siswa lebih sadar akan lingkungannya sekaligus memiliki pola pikir kritis, kreatif, dan berdaya saing global,” jelasnya.
Belajar Kopi dari Kebun hingga Pasar Digital
Riset ini menggunakan pendekatan Community-Based Learning, siswa diajak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Mereka bukan hanya belajar teori di kelas, tetapi juga diajak mengenal kopi dari kebun hingga ke ranah pemasaran digital.
Amri memilih lokasi penelitian di sejumlah SMP penghasil kopi unggulan di Jember, antara lain SMPN 1 Tanggul, SMPN 5 Tanggul, SMPN 6 Tanggul, SMPN 7 Tanggul, SMPN 4 Bangsalsari, dan SMPN 1 Sumberbaru. Sekolah-sekolah ini berada di kecamatan yang memiliki tradisi kuat dalam produksi kopi.
Proses penelitian juga melibatkan petani kopi lokal, pelaku usaha seperti Koplak Food, serta komunitas wirausaha kopi di sekitar sekolah. Melalui kemitraan ini, siswa diarahkan untuk tidak hanya memahami agribisnis kopi, tetapi juga strategi pemasaran modern.
“Anak-anak SMP di kawasan penghasil kopi harus tahu bahwa apa yang tumbuh di kebun sekitar mereka punya nilai ekonomi besar. Dengan platform digital seperti TikTok, Shopee, atau Lazada, mereka bisa membayangkan bagaimana kopi dari desa mereka bisa menembus pasar global,” tuturnya.
Konsistensi Angkat Kopi Jember
Partisipasi Amri di WEEF & GEDC bukan kali pertama. Sebelumnya, ia juga sempat membawakan riset serupa di sebuah konferensi internasional di Istanbul, Turki. Konsistensi itu menunjukkan kesungguhannya mengangkat kopi Jember sebagai identitas budaya sekaligus kekuatan ekonomi lokal.
“Kopi bukan sekadar komoditas pertanian. Kopi adalah bagian dari identitas budaya kita, sekaligus potensi ekonomi besar. Dengan riset yang memadukan akademik, pendidikan, dan pemberdayaan komunitas, kopi Jember punya peluang besar semakin dikenal, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” katanya.
Harapan untuk Generasi Muda
Amri menegaskan, riset ini ia dedikasikan untuk membuka wawasan generasi muda agar lebih mencintai potensi lokal sekaligus mampu beradaptasi dengan tantangan global.
Partisipasinya dalam forum dunia ini sekaligus menunjukkan bahwa penelitian pendidikan, jika dikaitkan dengan potensi lokal, maka dapat memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. Tidak hanya menghasilkan teori, tetapi juga berdampak pada pola pikir siswa, pemberdayaan petani, hingga perluasan jejaring pasar kopi.
“Harapan saya, kopi Jember bisa menjadi ikon yang tidak hanya membanggakan daerah, tetapi juga Indonesia di tingkat internasional,” pungkasnya.