Desa Pampang (2): Pesan Budaya Yang Tak Lekang
Oleh:
Himawan Bayu Patriadi, PhD.,
Dosen Hubungan Internasional,
Universitas Jember.
Ketika memasuki komplek Lamin Adat Pemung Tawai suku Dayak Kenyah desa Pampang, separuh bentang halaman sudah dipenuhi kendaraan. Mayoritas adalah kendaraan roda empat, nyaris tak ada sepeda motor. Sebuah sinyal, bahwa mayoritas pengunjung bukan orang sekitar. Ternyata benar. Tatkala sang pembawa acara, Bapak Laing, membuka acara dengan membacakan buku tamu; banyak pengunjung yang berasal dari luar kota, seperti Balikpapan, Banjarmasin, Surabaya, Jakarta, dan Bandung. Bahkan, di antaranya ada yang datang dari mancanegara; yakni pasangan dari Italia, beberapa orang dari Brunei Darussalam, dan serombongan turis asal Jepang.
Turun dari mobil, bangunan Lamin Adat langsung menyergap pandangan. Kombinasi bentuk rumah panggung, ukuran panjang beratap sirap, bahan dari kayu Ulin berwarna gelap, dilengkapi ukiran tradisional dengan warna serasi, mengesankan kemegahan sekaligus keanggunan. Di depannya, berdiri papan nama, diapit sepasang patung kayu sosok Dayak kenyah dengan telinga khas memanjang, lengkap dengan beban anting-antingnya. Di kanan kirinya, dua totem berukir berdiri tegak, tempat pijak patung kayu dua burung Enggang yang sedang berkepak. Himpitan dua fenomena, variasi pengunjung dan keunikan bangunan adat, melahirkan rasa penasaran dalam angan: ini sekedar event wisata atau lebih sebagai peristiwa budaya?
Memasuki Lamin Adat, benak mendadak terasa sesak. Pasalnya, banyak renik otentik seputar panggung. Tiang besar terbuat dari kayu Ulin utuh berukir, dinding belakang panggung lebar dari kayu penuh ukiran bertabur paduan warna, putih, kuning, merah dan hitam; sedangkan totem burung Enggang melayang indah, menjadi tambatan tali kain warna-warni yang menjuntai untuk alat tarian Kanjet Anyam. Angan-pun mengendus rajutan makna yang terkandung. Susunan tempat duduk kayu disusun dalam bentuk huruf “U”, menyisakan ruang kosong di tengah, guna tempat pentas budaya. Di deretan kursi depan sebelah kiri, sudah duduk para Tetua Adat, lengkap dengan pakaian tradisional Dayak-nya. Di deretan tengah dan kanan, duduk pengunjung dari mancanegara. Kursi selebihnya, berhias tulisan “reservasi”, disediakan bagi pengunjung yang sudah memesan. Saya dan kolega dari FISIP–Universitas Mulawarman duduk di baris kedua bagian tengah; supaya bisa memandang keseluruhan panggung beserta latar-belakangnya.
Kebimbangan sempat menyambar, kala angan kepikiran tentang ketentuan adat yang mengatur pengambilan gambar. Tiba-tiba, Mas “Jo” (nama panggilan) yang ber-etnis Dayak Kenyah, suami salah satu kolega; melangkah ke depan dan berbisik kepada salah seorang Tetua Adat. Entah apa yang dibisikkan. Tapi, yang jelas, kami mendapatkan buahnya. Tak dinyana sebelumnya, kami difasilitasi untuk berfoto bersama dengan Tetua Adat tersebut. Baru kemudian saya tahu, kalau beliau adalah Bapak Simson Imang, sosok penting di desa Pampang; karena perannya yang signifikan. Selain sebagai penggagas pembangunan Lamin Adat Pemung Tawai tahun 1991, beliau juga pengawal utama bagi kelestariannya, sekaligus juga inisiator pengusulan Pampang sebagai Desa Budaya.
Ketika kembali duduk, saya mulai menatap setiap pojok arsitektur Lamin Adat Pemung Tawai. Angan-pun bergulat untuk meretas berbagai makna simbolis yang tersirat. Tegaknya bangunan Lamin ditopang oleh tiang-tiang besar yang terbuat dari kayu Ulin gelondongan utuh. Salah satunya berdiri di sebelah kiri saya duduk. Warna gelap melambari setiap gores ukiran di tubuhnya. Konon, kekokohan bangunan Lamin Adat ini melambangkan kekuatan pemimpin dan bersatunya masyarakat Dayak Kenyah dalam mempertahankan eksistensi sukunya.
Burung Enggang (Rhineplax virgil), ada yang menyebutnya Tingang; merupakan burung ikonik, khususnya di bumi Kalimantan. Badannya besar, dengan bulu berwarna kontras, hitam dan putih. Julukan Inggrisnya, Helmeted Hornbill, mengacu pada jambul keras di atas kepalanya dan paruhnya yang besar berwarna putih gading. Dalam kehidupan suku Dayak Kenyah, termasuk yang menetap di desa Pampang ini, burung Enggang menempati posisi istimewa. Di Lamin Adat Pemung Tawai, keistimewan tersebut tercermin baik pada sepasang totemnya sebagai pengapit papan nama di halaman Lamin Adat maupun yang melayang di atas ruang pentas budaya. Tak mengherankan, jika representasinya selalu hadir dalam seni dan budaya suku Dayak Kenyah. Dalam tarian, misalnya, selalu ada gerak yang mewakilinya; sedangkan bulunya menghiasi jemari dan topi adat (tapung) para penari.
Bagi suku Dayak Kenyah, sosok burung Enggang bermakna dalam. Selain simbol kepemimpinan, burung ini juga menyimbolkan kemakmuran, dan kedekatan dengan alam. Sayapnya yang terbal nan kokoh melambangkan pemimpin kuat, yang senantiasa melindungi dan mengayomi semua warganya. Ekornya yang panjang, dipersepsikan sebagai indikator kemakmuran dan kesejahteraan bagi semua anggota suku. Sementara itu, kebiasaan makannya mencerminkan keramahan terhadap lingkungan, karena berperan menjaga kelestarian alam. Simbolisasi ini punya pijakan empiris. Pasalnya, sisa pencernaannya dari biji-bijian yang dimakan, tersebar melalui kotorannya kala ia terbang jauh dari induk pohonnya. Hasilnya, menjadi bibit semaian pohon baru yang menunjang kelestarian hutan. Tak heran, jika burung Enggang mendapat julukan “Sang Petani Hutan” yang tak tergantikan. Lebih dari itu, dalam sosoknya-pun juga terkandung nilai spiritual. Dalam mitologi Dayak Kenyah, burung Enggang diyakini sebagai titisan leluhur dan utusan penguasa langit. Tak pelak, burung Enggang dianggap sakral, karena merepresentasikan jagad kedewataan.
Kala menatap latar belakang panggung pentas, terbuat dari ukiran kayu yang lebar; mata terpaku pada obyek yang sebelumnya terlewat dari perhatikan. Persis di tengah ‘backdrop’ kayu berukir terdapat ornamen yang menonjol keluar. Bentuknya bersusun. Di atas terdapat patung kayu yang menggambarkan orang Dayak Kenyah dengan topeng bermotif ukiran khas Dayak, dengan memegang tombak dan tameng; sedangkan di bawahnya, yang merupakan pijakannya, sebuah ukiran gerabah, berupa guci warna putih tulang bergambar naga berwarna merah. Angan-pun terbangun, menggantang ciri dengan makna yang terkandung. Patung kayu, nampaknya, merepresentasikan sosok Dayak Kenyah dengan identitas budayanya.
Akan tetapi, ukiran guci dan gambar naga, sependek pengetahuan saya, bukanlah lambang asli Kalimantan. Keduanya, justru mirip simbol masyarakat China. Memori memperkuat konstatasi ini. Tahun 2016, saya diundang ke Kunming, Tiongkok; untuk presentasi dalam International Conference on Public Management (ICPM), yang diselenggarakan Yunnan University of Finance and Economics (YUFE). Dalam persinggahan selama perjalanan di Propinsi Yunnan ini, baik itu gedung, toko, maupun restoran; ada tiga lambang budaya China yang sering dijumpai: guci, naga, dan warna merah. Ternyata, ukiran guci dan naga di backdrop ukiran kayu di Lamin Adat Pemung Tawai punya makna serupa. Bagi Suku Dayak, keduanya ternyata bukanlah representasi tempat tinggal, melainkan simbolisasi asal-muasal. Dalam penjelasannya, seperti yang sering dikutip media, Pak Simson mengatakan: “Lambang naga ini [versi] awalnya menceritakan perjalanan Dayak Kenyah menuju Indonesia … Dayak kenyah ini [satu] keturunan dengan China Mongol, [setelah] perjalanan [jauh]; [dan] dari Brunei [Darussalam] dia jalan terus ke Indonesia. Kalau versi kedua, [adanya] kemunculan naga ketika [dulu ada] banjir di sungai seberang (Mahakam)”. Ungkapan kisah dari Pak Simson ini tidaklah sendiri. Pasalnya, informasi Mas “Jo” seakan melengkapi. Sesaat setelah perhelatan budaya selesai, ia cerita: “Saya punya saudara di desa [Pampang] ini, tapi [kebetulan] tak ikut pagelaran budaya hari ini. Suku Dayak Kenyah tersebar di beberapa wilayah Kalimantan Timur, bahkan ada yang [tinggal] di Serawak dan Filipina”. Rangkaian kisah ini mengindikasikan bahwa tersebarnya komunitas suku Dayak Kenyah di berbagai wilayah, karena di antara mereka ada yang menetap di setiap tempat persinggahan dalam perjalanan migrasinya ke Indonesia.
Kisah migrasi di atas, seperti telah disinggung dalam tulisan serial pertama, selaras dengan teori "Out of Taiwan". Memang sebelumnya ada juga teori “Out of Yunnan”, yang mengatakan bahwa leluhur komunitas Astronesia di Asia Tenggara berasal dari Kawasan Yunnan, di bagian selatan China. Namun, banyak teoritisi cenderung lebih menerima argumen Teori “Out of Taiwan”, karena lebih banyak didukung bukti ilmiah. Dari segi bahasa, misalnya, Robert Andrew Blust, seorang American linguist dari University of Hawaii at Manoa; menegaskan bahwa bahasa Astronesia, termasuk bahasa yang ada di Kalimantan, berakar pada bahasa asli Formosa (Taiwan). Bahkan, Peter Stafford Bellwood, arkeolog asal Australian National University (ANU), Canberra; dalam bukunya First Islanders (2017) menegaskan bahwa “penutur bahasa Astronesia yang menyebar di Asia Tenggara, hingga ke kepulauan Pasifik dan Mandagaskar, berasal dari kepulauan di Taiwan”.
Namun, laiknya hukum alam, meski perlahan budaya selalu berkembang. Demikian pula dengan suku Dayak kenyah. Adatnya bukan warisan nenek moyang semata, tapi juga diperkaya oleh adaptasi mereka terhadap lingkungan sekitar. Tak pelak, ukiran kayu dan tarian di Lamin Adat Pemung Tawai pekat dengan saripati nilai filosofi. Seperti dijelaskan oleh Pak Simson Imang, selain menggambarkan asal-usul leluhur, backdrop ukiran kayu dengan nuansa taburan warna yang berbeda melambangkan Bhinneka Tunggal Ika. Alasannya, “Karena dulu antara Dayak Kenyah [sendiri] berperang, [tapi] setelah [Indonesia] merdeka [serta] mengenal agama dan pemerintah, [kejadian seperti itu] sudah [berakhir]” (Kaltim Faktual, 11/02/2024). Penegasan ini, membuktikan bahwa budaya tak beku dan kaku, tapi berkembang seiring bagaimana nalar dan kreativitas suku dalam menjawab tantangan di sepanjang perjalanan melintasi lorong waktu.
Demikian pula dengan tarian yang disajikan. Meski sepuluh tarian dipentaskan hanya dalam waktu satu jam, endapan nilai yang diekspresikan lewat gerak tubuh penari, pekat dengan keindahan. Tari Lemada Lasan, misalnya, sebuah ekspresi pembersihan spiritual untuk mengawali acara, dan harus dilakukan seorang lelaki atau tetua adat; menggambarkan ketulusan hati dan pernghormatan kepada para tetamu. Tari Ajay, gerak penggambaran epik perjuangan, mencerminkan karakter ketangguhan dan persatuan komunal dalam menjawab setiap tantangan jaman. Partisipasi anak kecil di barisan para penari, yang kadang gerakannya hanya “rubuh-rubah gedang” alias ikut-ikutan; tidak harus dinilai negatif, seperti mengganggu kerapian. Dalam konteks ini, sangat mungkin, tersirat makna lain. Kehadiran penari kecil itu bisa jadi diniatkan untuk menyemai semangat keterlibatan semua tingkatan, demi transmisi budaya antar generasi. Jika tafsiran ini benar, isunya bukan lagi sekedar masalah keindahan (beauty); tapi juga pentingnya kelestarian (sustainability), sebuah nilai yang sering kita abaikan. Demikian pula dengan Kanjet Anyam. Gerak tari menganyam tali, yang melibatkan para pengunjung, melambangkan persaudaraan dan persatuan. Saya pribadi, yang melibatkan diri untuk mengikuti irama tari, beberapa kali bingung untuk masuk dalam lingkaran anyaman. Untungnya, penari selalu sabar dalam mengarahkan. Lesson learned-nya, menganyam persatuan perlu kecermatan dan kesabaran.
Satu setengah jam di desa Pampang, membuat angan merenung dalam. Terjawablah sudah rasa penasaran. Khidmat menikmati ukiran kayu dan pentas tarian di Lamin Adat Pemung Tawai bukanlah sekedar event wisata, tapi juga peristiwa budaya. Bagi suku Dayak Kenyah, masa lalu bukanlah sesuatu yang di-museum-kan, karena selalu melekat dalam laku hidup keseharian. Setiap guratan ukiran dan gerak gemulai tarian bukan sekedar cermin keindahan, tapi juga endapan nilai lintas jaman. Penghormatan, keterbukaan, kebersamaan, persaudaraan, ketangguhan, dan harmoni dengan alam; adalah kompas sosial untuk tak tersesat dalam perjalanan. Wallahua’lam …
Advertisement