Cerita Dibalik Penangkapan Gubernur Riau, Abdul Wahid Sempat Berssembunyi di Kafe
Gubernur Riau, Abdul Wahid (AW), tersangka kasus korupsi anggaran, sempat bermain kucing kucingan sebelum petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK ) menangkapnya.
AW bersembunyi di sebuah kafe dekat rumahnya, setelah curiga ada petugas operasi tangkap tangan (OTT) membuntutinya.
Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, mengatakan, Abdul Wahid sembunyi di sebuah kafe setelah lembaga antirasuah mengumpulkan Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Jalan dan Jembatan pada Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (PUPRPKPP) Riau yang membawa sejumlah uang.
"Kami menduga memang sudah janjian. Kemudian janjian jam segini kok enggak datang, enggak ada. Kemungkinan dia sudah mulai curiga hingga akhirnya tim datang ke lokasi," ujar Asep di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, dikutip Kamis 6 Novemver 2025
Asep memanparkan kafe yang didatangi tim KPK tersebut berada tidak jauh dari rumah Abdul Wahid. Berada di jajaran bangunan yang sama dengan rumahnya.
Abdul Wahid kaget dan tak berkutik ketika petugas KPK tiba tiba menangkapnya. Dengan tangan diborgol kader PKB itu dibawa ke Gedung KPK di Kuningan Jakarta Seletan.
"Jadi, kafe itu bukan kafe yang jauh, bukan. Kafe itu ada di jajaran rumahnya," katanya.
KPK Menahan 10 Orang dan Barang Bukti 1,6 Miliar
KPK menahan 10 orang dalam OTT tersebut. Di antaranya Abdul Wahid, Kepala Dinas PUPR-PKPP Muhammad Arief Setiawan, Sekretaris Dinas PUPR-PKPP Ferry Yunanda, dan Tata Maulana yang merupakan orang kepercayaan Abdul Wahid.
Satu orang lain atas nama Dani M. Nursalam yang merupakan Tenaga Ahli Gubernur Riau Abdul Wahid menyerahkan diri pada Selasa Selasa 4 November 2025 malam.
Selain itu, KPK juga menyita sejumlah uang dalam pecahan rupiah, dolar Amerika Serikat dan Poundsterling setara Rp1,6 miliar.
Uang itu bukan pemberian pertama. KPK menyebut Abdul Wahid diduga telah menerima sejumlah uang yang tak termasuk kerugian sebelum terjaring OTT.
Uang (Rp1,6 miliar) itu diduga bagian dari penyerahan kepada kepala daerah. Artinya, kegiatan penangkapan tangan ini adalah bagian dari beberapa atau dari penyerahan sebelumnya, ungkap Juru Bicara KPK Budi Prasetyo di Kantornya, Jakarta.
Jadi, sebelum kegiatan menangkap tangan ini, sudah ada penyampaian-penyerahan lainnya, sambungnya.
Ketua DPR Prihatin Masih Ada Pejabat Korusi
Ketua DPR RI Puan Mahariani dalam pernyataan resmi menyesalkan masih ada pejabat penyelenggara yang korupsi. Padahal Prwsiden Prabowo fidak kurang kurang mengingatkan jangan korupsi, agar ingat anak istri.
" Kalau sampai ketangkap, seluruh keluarga, anak istri dan orang tuaakan ukut menanggung aib. Maka dari itu saya minta kepada seluruh pejat negara hati hati, jangan korupsi" pesan Puan di Gedung Parlemen Senayan Jakarta, Kamis 6 November, 2025.