BPOM Surabaya Tekankan Peran Vital Pers Sebagai Jembatan Informasi Obat dan Makanan Aman
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya memperkuat kolaborasi strategis dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur melalui Media Gathering bertajuk "Sinergi Cerdas BPOM dan PWI".
Forum silaturahmi dan edukasi media ini digelar di Ruang Aula Gandrung Banyuwangi, Balai Besar POM Surabaya, pada Kamis, 6 Agustus 2026. Langkah bersama ini diinisiasi untuk mengoptimalkan pengawasan serta penyebaran informasi terkait keamanan obat dan makanan bagi masyarakat luas di tengah masifnya arus peredaran produk ilegal di era digital.
Ketua PWI Jawa Timur, Lutfil Hakim, menegaskan, keterbukaan informasi yang ditunjukkan oleh BBPOM merupakan bukti nyata komitmen lembaga publik dalam membangun komunikasi yang transparan dan akuntabel. Menurutnya, langkah BBPOM yang proaktif merangkul insan pers adalah gerbang utama bagi masyarakat untuk mendapatkan akses informasi yang benar dan tepercaya.
"Ketika instansi itu sudah mengundang wartawan, itu berarti sudah membuka pintu bahwa informasi di situ bisa diakses. BPOM Pusat dan daerah termasuk lembaga pemerintah yang paling aktif membangun komunikasi publik dan meraih predikat badan publik informatif," ujar Lutfil Hakim.
Lebih lanjut, Lutfil memaparkan kompleksitas cakupan tugas BPOM yang sangat luas, mulai dari pembuatan regulasi, penyusunan standardisasi, uji laboratorium pre-market, penerbitan izin edar, hingga pengawasan post-market serta penindakan hukum. Cakupan kerja yang mencakup standarisasi dosis kosmetik, herbal, suplemen, hingga keamanan pangan tersebut dinilai membutuhkan partisipasi publik dan dukungan media secara berkelanjutan.
Lutfil juga menyoroti tantangan berat pengawasan peredaran produk obat dan makanan di platform e-commerce dan media sosial. Merujuk data Cyber Patrol hasil kolaborasi bersama Kementerian Kominfo pada tahun 2025, terdapat sedikitnya 197.000 pranala (link) ilegal yang berhasil ditindak dengan estimasi nilai keekonomian mencapai Rp49 triliun, yang berpotensi menyelamatkan hingga 6,7 juta jiwa konsumen dari bahaya produk berbahaya.
Besarnya potensi pasar di Jawa Timur dengan jumlah penduduk mencapai 44 juta jiwa, melebihi populasi benua Australia yang berpenduduk 28 juta jiwa, menjadi alasan utama mendesaknya penguatan jejaring pengawasan. Mengingat BPOM hanya didukung oleh empat kantor Loka POM di wilayah Jatim (Surabaya, Kediri, Jember, dan Madiun), peran jurnalis dipandang sangat vital sebagai sarana edukasi dan pengawasan sosial.
"Harus ada keberpihakan sebagai jurnalis, itu amanat undang-undang. Terkait dengan keselamatan konsumen, kalau ada indikasi di lapangan, cepat dimuat supaya BPOM tahu. Tulis juga kalau ada hal yang perlu dikritik, karena itu bagian dari menyelamatkan masyarakat," tegas Lutfil.
Di sisi lain, Lutfil mengingatkan jurnalis media arus utama (mainstream) untuk tidak sekadar memproduksi berita peristiwa secara biasa agar mampu bersaing dengan konten-konten di media sosial. Berdasarkan analisisnya terhadap dinamika media, beberapa saluran podcast besar mampu meraih ratusan juta tayangan meski dengan tim yang ringkas, sehingga media formal dituntut untuk memberikan makna kedalaman (value) serta keberpihakan yang nyata pada perlindungan masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BPOM di Surabaya, Yudi Noviandi, menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan penuh dari PWI Jawa Timur dan seluruh jajaran jurnalis yang hadir. Yudi menegaskan bahwa pengawasan obat dan makanan tidak akan berjalan maksimal tanpa bantuan dan kerja sama aktif dari insan pers.
"Tanpa kehadiran pers, apa yang dikerjakan, apa yang dilaksanakan itu tidak akan bermakna. Tanpa kehadiran pers, banyak isu terjadi di masyarakat yang tidak bisa kami tangani. Kami ingin komunikasi terjalin lancar dan saling kenal," ungkap Yudi Noviandi.
Yudi menjelaskan bahwa selama ini mayoritas laporan dan pengaduan yang masuk ke BBPOM berasal dari konsumen perorangan, sementara masukan langsung dari jaringan media masih perlu ditingkatkan. Melalui sinergi ini, BPOM membuka kanal komunikasi seluas-luasnya agar isu-isu krusial di lapangan dapat dengan cepat direspons sebelum menjadi keresahan publik.
Dalam kesempatan tersebut, Yudi juga membagikan capaian BBPOM Surabaya yang berhasil meraih penghargaan sebagai Lembaga Publik Paling Informatif se-Jawa Timur pada tahun sebelumnya dengan skor 99,68 dari skala 100 dari Komisi Informasi (KI) Jawa Timur.
Yudi menambahkan bahwa capaian predikat informatif tersebut kini disempurnakan dengan kolaborasi terstruktur bersama media massa. Sinergi ini diharapkan tidak hanya mempertahankan prestasi keterbukaan informasi, tetapi juga secara substansial meningkatkan kualitas pengawasan produk obat, kosmetik, obat bahan alam (herbal), suplemen kesehatan, dan makanan olahan.
Media gathering ini dihadiri oleh Kepala BPOM Kediri, Kepala BPOM Jember, dan Kepala Loka POM Madiun, serta jajaran bidang Informasi dan Komunikasi BPOM Surabaya. Kehadiran para pimpinan unit pelaksana teknis daerah ini makin memperkuat komitmen jejaring pengawasan dan saluran komunikasi BPOM yang solid hingga ke tingkat kabupaten/kota di seluruh Jawa Timur.
Turut hadir pula puluhan perwakilan wartawan dari berbagai media lintas platform, mulai dari cetak, elektronik, hingga media siber (online), baik skala lokal Jawa Timur maupun nasional. Kehadiran insan pers dari berbagai daerah menjadi jaminan tersampaikannya pesan-pesan edukasi pengawasan obat dan makanan secara merata ke seluruh lapisan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, BPOM Surabaya beserta jajaran Loka POM di Jawa Timur dan PWI Jawa Timur sepakat untuk terus mengawal informasi tepercaya, memberantas hoaks seputar obat dan makanan, serta memastikan seluruh produk yang beredar di masyarakat Jawa Timur terjamin keamanan, mutu, dan khasiatnya secara berkelanjutan.