Bila Ada Keragu-raguan dalam Bertindak, Tinggalkanlah! Pesan Rasulullah
Hati itu laksana gelombang. Bisa pasang bisa surut. Sebagaimana diungkapkan Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin, maka hanya Mukminin yang selalu mengingat Allah Ta'ala yang bisa memberikan keteguhan dan keimanan.
Begitu pun dalam bertindak seseorang terkadang diselimuti keragu-raguan. Yang menjadikannya tak lain adalah sikap kurang percaya diri.
Karena itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (SAW) berpesan agar meninggalkan keragu-raguan. Berikut hadits Nabi Shallallahu alaihi wasallam tentang “Meninggalkan Keragu-raguan”.
عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الْحَسَنُ بْنُ عَلِي بْنِ أبِي طَالِبٍ سِبْطِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ : حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ .
[رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح
Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah dan kesayangannya dia berkata : Saya menghafal dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam (sabdanya): Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.
(Riwayat Turmuzi dan dia berkata: Haditsnya hasan shahih)
Pelajaran yang terdapat di dalam hadits:
Meninggalkan syubhat dan mengambil yang halal akan melahirkan sikap wara’.
Keluar dari ikhtilaf ulama lebih utama karena hal tersebut lebih terhindar dari perbuatan syubhat, khususnya jika diantara pendapat mereka tidak ada yang dapat dikuatkan.
Jika keraguan bertentangan dengan keyakinan maka keyakinan yang diambil.
Sebuah perkara harus jelas berdasarkan keyakinan dan ketenangan. Tidak ada harganya keraguan dan kebimbangan.
Berhati-hati dari sikap meremehkan terhadap urusan agama dan masalah bid’ah.
Siapa yang membiasakan perkara syubhat maka dia akan berani melakukan perbuatan yang haram.
Tema hadits yang berkaitan dengan Al-Quran:
1. Meninggalkan keragu-raguan
قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِيدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ
Berkata rasul-rasul mereka: "Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan?" Mereka berkata: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami, bukti yang nyata".
[QS. Ibrahim :10].
2. Mukmin yang benar meninggalkan sifat keragu-raguan
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.
[QS. Al-Hujurat :15].
Demikian wallahu a'lam bisshawab. Semoga bermanfaat. Amiin.
Advertisement