Berterima Kasih! Jalan Bersyukur, Menanam Benih Kebajikan
Allah Swt berfirman,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Allah SWT berfirman, ...dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat." (QS. Ibrahim [14]: 7).
Imam Ja'far Shadiq radhiyallahu anhu berkata,
"Mensyukuri nikmat menjauhkan dari dosa." Beliau radhiyallahu anhu juga berkata, "Bersyukur ialah seseorang mengakui bahwa nikmat itu berasal dari Allah (bukan dari kecerdikan, ilmu, akal, dan usaha dirinya atau orang lain), serta merasa puas dengan apa yang diberikan Allah, dan tidak menjadikan nikmat dari Allah itu sebagai alat untuk berbuat dosa. Syukur yang sesungguhnya ialah menggunakan nikmat Allah di jalan-Nya."¹
Dalam hadis kita mendapati Allah SWT berkata kepada Musa, "Penuhilah hak syukur kepada-Ku."
Musa menjawab, "Ini sesuatu yang mustahil dilakukan. Karena pada setiap kalimat syukur ada kewajiban syukur yang lain."
Lalu Allah SWT berkata, "Pernyataanmu ini dan pengakuan bahwa segala sesuatu berasal dari-Ku adalah sebaik-baiknya syukur kepada-Ku."²
Berterima kasih kepada manusia berarti berterima kasih kepada Allah SWT. Dalam hadis dikatakan, "Seseorang yang tidak berterima kasih kepada makhluk Allah maka ia tidak berterima kasih kepada Allah."
Menurut hadis, orang yang tidak bersyukur kepada manusia maka dia telah tidak bersyukur kepada Allah SWT.³
Jika kita menggunakan nikmat Allah di jalan yang tidak benar maka itu berarti kufur nikmat. Sebagaimana dikatakan dalam penggalan ayat, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku). Atau dalam ayat lain,
بَدَّلُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ كُفْرًا
Orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan ingkar kepada Allah (QS. Ibrahim [14]" 28).
TANAMLAH BENIH KEBAJIKAN
Hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
" Apabila seseorang sudah meninggal maka seluruh amalannya terputus kecuali dari tiga perkara ( yaitu ) dari sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak sholeh yang mendo’akannya."
( H. R. Muslim, no . 1631 )
وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥٓ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
" Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong ( agama )-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”
( Q. S. Al-Hajj : 40 )
إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
( Q. S. At Taubah : 121 )
من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه
“ Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
( H. R. Muslim no . 1893 )
Semoga kita dan seluruh keluarga kita selalu bertakwa kepada Allah, selalu menebar benih kebajikan, bahagia di dunia bahagia di akhirat.
Aamiin....!!!
Semoga Bermanfaat.
¹Tafsir Namuneh.
²Tafsir Namuneh.
³Bihar al-Anwar, jil. 71, hal. 44.
(Syekh Muhsin Qiraati)
Advertisement