Bedah Buku "Presiden Solusi: Problem Solving Ala Presiden Prabowo" Warnai Hari Pustakawan 2026
Puncak peringatan hari Pustakawan 2026 ditandai dengan bedah edah buku bertajuk βPresiden Solusi: Problem Solving Ala Presiden Prabowoβ. Agenda literasi tersebut berlangsung di Plaza Insan Berprestasi Kemen Dikdasmen, Jl. Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu, 8 Juli 2026. Buku itu diharapkan dapat memperkaya wawasan masyarakat Indonesia dalam menghadapi setiap masalah dan mendapatkan solusinya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, mengatakan, di tengah akselerasi perubahan global yang berlangsung begitu dinamis, orientasi dunia pendidikan nasional dituntut untuk bertransformasi.
Mu'ti, menegaskan, kemampuan memecahkan masalah (problem solving) kini menjadi salah satu pilar keterampilan paling krusial yang wajib dimiliki oleh generasi masa depan Indonesia.
Menurutnya, para peserta didik tidak lagi bisa hanya sekadar bertumpu pada penguasaan materi pengetahuan tekstual semata. Lebih dari itu, mereka dituntut untuk adaptif, cakap berpikir kritis, berani mengambil keputusan taktis, serta piawai menemukan jalan keluar atas berbagai kompleksitas persoalan yang menghadang.
Mendikdasmen menyambut positif pemilihan buku tersebut sebagai materi diskusi utama dalam rangka memperingati Hari Pustakawan 2026 yang jatuh tepat pada hari ini. Ia menilai, substansi yang dikupas di dalam buku tersebut memiliki koherensi yang sangat kuat dengan kebutuhan mendasar bangsa saat ini, khususnya dalam upaya membangun cetak biru pendidikan yang mampu mencetak generasi pembelajar sekaligus calon pemimpin masa depan.
"Buku 'Presiden Solusi: Problem Solving Ala Presiden Prabowo' ini mengangkat tema besar mengenai kepemimpinan, metodologi pemecahan masalah, formulasi pengambilan keputusan, hingga keberanian tinggi dalam menghadapi tantangan. Tema-tema ini sangat relevan dengan kebutuhan objektif bangsa hari ini dan tentu sangat linier dengan dunia pendidikan yang tengah kita geluti bersama," ujar Abdul Mu'ti.
Sebagai informasi, buku yang mengupas rekam jejak kepemimpinan ini ditulis secara kolaboratif oleh para pemikir di lingkaran dekat istana. Mereka adalah Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Kebijakan Dirgayuza Setiawan, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah M. Qadari, serta Asisten Khusus Presiden Bidang Analisa Data Strategis Agung Gumilar.
Buku ini merangkum secara komprehensif berbagai kebijakan strategis yang ditelurkan oleh Presiden Prabowo Subianto selama 18 bulan pertama masa pemerintahannya. Di dalamnya, tertuang 108 formula solusi jitu yang telah dihadirkan oleh kabinet pemerintah untuk menjawab rupa-rupa persoalan kronis yang selama ini dihadapi oleh lapisan masyarakat.
Di tengah dinamika sosial di mana masih banyak pihak yang cenderung lebih vokal menyoroti kekurangan performa birokrasi, Menteri Abdul Mu'ti menilai berbagai lompatan kebijakan yang dilakukan Presiden Prabowo justru sudah semestinya mendapatkan apresiasi yang objektif. Buku ini dianggap mampu menjadi dokumen referensi yang valid bagi publik.
"Menghadirkan 108 solusi konkret dalam koridor kepemimpinan yang berjalan kurang dari 2 tahun itu bukan sesuatu yang kaleng-kaleng, tetapi sebuah prestasi yang seharusnya membuat kita geleng-geleng kepala. Sebanyak 108 solusi jitu yang sekarang sudah mulai dirasakan dampaknya secara nyata oleh rakyat itulah sumber inspirasi besar yang bisa kita serap dari buku ini," katanya.
Lebih jauh, Abdul Mu'ti menggarisbawahi bahwa konsep problem solving yang diuraikan di dalam buku tersebut tidak boleh diredam maknanya hanya sebatas kemampuan teknis mekanis saja. Keterampilan memecahkan masalah adalah sebuah cetak biru cara berpikir (mindset) yang wajib diinternalisasi oleh setiap individu, yakni ketajaman dalam memahami anatomi persoalan secara jernih, kelihaian mempertimbangkan opsi-opsi taktis, hingga keberanian mengeksekusi keputusan di tengah situasi ketidakpastian.
Pola pikir tangguh inilah yang kini tengah diakomodasi oleh Kemendikdasmen untuk disuntikkan ke dalam kurikulum pembelajaran para siswa di sekolah.
"Nilai-nilai luhur dan ketangguhan inilah yang ingin kita tancapkan kuat-kuat kepada para peserta didik kita di seluruh Nusantara. Anak-anak kita hari ini tidak boleh hanya sekadar cakap dan pasif membaca teks di lembar buku. Mereka harus memiliki kepekaan untuk membaca realitas sosial di sekitar mereka, berpikir kritis, cakap bekerja sama dalam tim (collaboration), dan aktif mencari solusi atas persoalan hidup yang mereka hadapi," ujarnya.
Advertisement