Beasiswa Harus Dipertanggungjawabkan dalam Bentuk Pengabdian Pada Masyarakat
Pendidikan tidak sekadar membuka akses belajar, tetapi juga menyalakan kembali mimpi anak-anak Indonesia yang tumbuh dalam keterbatasan. Karena itu, beasiswa perlu dipandang bukan hanya sebagai bantuan biaya pendidikan, melainkan investasi untuk melahirkan generasi yang kelak mampu memberi dampak bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq dalam Media Briefing SCG Sharing the Dream 2026 Awarding Ceremony di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026, siang.
Fajar menuturkan, pentingnya akses pendidikan kembali ia rasakan saat mengunjungi sejumlah daerah dengan kondisi geografis dan sosial yang menantang. Salah satunya Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang sebagian besar wilayahnya berupa perairan dan memiliki komunitas masyarakat Suku Bajo.
Di daerah tersebut, Fajar bertemu dengan siswa dari sekolah yang seluruh peserta didiknya berasal dari Suku Bajo. Ketika ditanya tentang cita-cita, mereka menyebut profesi seperti guru, dokter, tentara, dan polisi.
Menurut Fajar, jawaban sederhana itu menunjukkan bagaimana pendidikan mampu memperluas cakrawala seorang anak. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan masyarakat pesisir pun dapat membayangkan masa depan yang lebih luas, termasuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan mengembangkan pengetahuan yang relevan dengan kehidupan masyarakatnya.
Ia juga menceritakan pertemuannya dengan perempuan pertama dari Suku Bajo yang berhasil meraih gelar dokter. Perempuan tersebut kini menjadi dosen di Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Wakatobi.
“Pendidikan telah membangun mimpi seorang anak,” kata Fajar.
Ia mengatakan, mimpi tersebut bahkan berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Anak-anak Suku Bajo, misalnya, berharap suatu saat dapat memanfaatkan teknologi untuk membantu orang tua mereka yang selama ini melaut menggunakan peralatan tradisional.
Bagi Fajar, kondisi itu menjadi bukti bahwa pendidikan dapat mengubah cara anak melihat masa depan sekaligus mendorong mereka mencari solusi atas persoalan yang dihadapi keluarga dan komunitasnya.
Pengalaman serupa ditemui Fajar ketika mengunjungi Kabupaten Muaro Jambi, dua hari sebelum acara tersebut. Ia mendatangi SMA Negeri 1 Muaro Jambi yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh (PJJ) bagi anak-anak yang tidak dapat mengikuti pendidikan formal reguler. PJJ tersebut ditujukan bagi anak yang menghadapi hambatan ekonomi, geografis, maupun kondisi sosial tertentu.
Di sekolah itu, Fajar bertemu seorang siswa yang tetap bekerja sebagai pencuci sepeda motor sembari mengikuti pendidikan. Setiap hari, anak tersebut memperoleh penghasilan sekitar Rp50 ribu dari pekerjaannya.Ketika ditanya tentang cita-citanya, ia menjawab ingin membahagiakan orang tua dengan memperoleh pekerjaan yang lebih baik.
Bagi Fajar, kisah tersebut memperlihatkan peran negara dalam memastikan keterbatasan ekonomi tidak mematikan harapan anak.
“Pendidikan itu menghidupkan mimpi seorang anak yang nyaris padam,” ujarnya.
Vice President Corporate Administration SCG Paramate Nisagornsen, mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaannya. Komitmen itu diwujudkan melalui perluasan akses pendidikan dan kesempatan bagi generasi muda calon pemimpin masa depan.
"Dengan memberikan kesempatan kepada para penerima beasiswa untuk memperoleh pengalaman internasional. Serta berinteraksi dengan generasi muda dari berbagai negara di ASEAN," katanya di Gedung Kemendikdasmen.
SCG kali ini meluncurkan program beasiswa SCG Sharing the Dream 2026 untuk 400 siswa SMA dan 12 mahasiswa Indonesia sebagai bentuk komitmen pengembangan generasi muda.