BBKSDA Jatim Tinjau Gunung Blego, Cegah Konflik Monyet Ekor Panjang dengan Petani
Konflik antara petani dan satwa liar kembali mencuat di lereng Gunung Blego, Desa Cileng, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Kawanan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) dilaporkan sering turun dari hutan lindung untuk mencari makanan di kebun warga, terutama saat musim kemarau ketika sumber pakan di hutan menipis.
Tim Resor Konservasi Wilayah (RKW) 05 Madiun Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama BPBD Kabupaten Magetan dan perangkat Desa Cileng melakukan pemeriksaan lapangan satu pekan terakhir ini.
Tim menemukan sejumlah tanda aktivitas satwa liar, seperti batang singkong patah, sisa buah pisang rusak, hingga bekas pijakan di area kebun warga yang berjarak sekitar dua kilometer dari kaki Gunung Blego. Namun, tidak ditemukan kawanan monyet secara langsung.
Gunung Blego merupakan kawasan hutan lindung di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah yang didominasi vegetasi pinus dan hutan jati di bagian bawah. Kondisi vegetasi campuran ini menciptakan zona peralihan antara hutan dan lahan pertanian, sehingga memudahkan satwa liar berpindah ke wilayah manusia ketika pakan di habitat aslinya menurun.
Data dari perangkat Desa Cileng, populasi Monyet Ekor Panjang di sekitar kawasan itu diperkirakan mencapai sekitar 50 ekor, dengan frekuensi kemunculan yang meningkat dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Fenomena ini diduga terjadi karena tekanan ekologis dan perubahan perilaku satwa akibat berkurangnya sumber pakan alami di hutan.
Sebagai tindak lanjut, BBKSDA Jatim merekomendasikan warga agar melakukan pemantauan mandiri di kebun rawan gangguan, melaporkan kejadian serangan satwa kepada pihak berwenang, serta melakukan pengusiran tanpa melukai satwa. “Pendokumentasian aktivitas satwa juga disarankan untuk mendukung analisis perilaku dan pola pergerakan monyet,” ujar petugas BBKSDA Jatim Selasa 11 November 2025.
Dalam jangka menengah, BBKSDA Jatim akan melakukan survei populasi Monyet Ekor Panjang di Gunung Blego untuk memperoleh data akurat mengenai jumlah individu dan sebaran habitatnya. Hasil survei ini diharapkan menjadi dasar penyusunan strategi mitigasi konflik berbasis ekosistem serta program edukasi masyarakat tentang pengelolaan lahan ramah satwa liar.
Pemerintah Desa Cileng menyatakan siap mendukung upaya konservasi, termasuk kemungkinan relokasi satwa apabila sudah mengganggu hasil pertanian warga. Desa juga bersedia menyediakan kandang jebak sesuai prosedur konservasi jika dibutuhkan.
Konflik antara manusia dan satwa liar di lereng Gunung Blego menjadi gambaran tantangan hidup di tepi hutan, di mana manusia dan alam terus beradaptasi mencari keseimbangan. Setiap musim kemarau, monyet-monyet kembali turun mencari makan, sementara petani berjuang menjaga hasil panen mereka.
Bagi BBKSDA Jatim, solusi terbaik bukan hanya melindungi satwa, tetapi juga memastikan harmoni antara kebutuhan manusia dan kelestarian alam. Gunung Blego pun menjadi simbol penting dari upaya menjaga keseimbangan itu di tengah perubahan iklim dan tekanan ekologis yang terus meningkat.