Bank Mandiri Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2 Persen pada 2026, Ini Syaratnya
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk optimistis perekonomian Indonesia mampu tumbuh hingga 5,2 persen pada 2026. Namun, target tersebut dinilai sangat bergantung pada akselerasi belanja pemerintah untuk menjaga konsumsi masyarakat tetap kuat.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen dapat tercapai apabila pemerintah mampu menjaga stabilitas inflasi, termasuk mempertahankan kebijakan subsidi energi seperti saat ini.
“Pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,2 persen, kecuali ada kenaikan dari harga subsidi BBM yang mungkin bisa ketarik ke bawah 5,2 persen,” ujar Andry dalam acara Mandiri Macro and Market Brief 2026 yang dikutip Rabu, 13 Mei 2026.
Pertumbuihan Ekonomi Ditopang Program Prioritas Pemerintah
Bank Mandiri menilai optimisme tersebut didukung capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61 persen.
Kinerja positif itu ditopang percepatan sejumlah program prioritas pemerintah, mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih).
Memasuki kuartal II 2026, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan masih tetap kuat meski tidak setinggi kuartal pertama. Faktor musiman seperti Ramadan dan Lebaran yang telah berlalu menjadi salah satu penyebab perlambatan moderat tersebut.
Head of Macroeconomic & Financial Market Research Department Bank Mandiri, Dian Ayu Yustina, mengatakan ketidakpastian ekonomi global masih menjadi tantangan utama bagi perekonomian domestik.
“Kita melihat ada peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga di kisaran 5,1-5,5 persen di kuartal II tahun 2026 ini,” ujarnya.
Konflik Global dan Harga Minyak Jadi Tantangan
Sementara itu, Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Ari Rizaldi, menilai sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif akan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.
Menurut Ari, tantangan global masih membayangi, termasuk konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong harga minyak dunia menembus US$100 per barel serta memicu volatilitas pasar keuangan global.
“Ke depan, tantangan global akan terus ada, namun di balik setiap tantangan juga terdapat peluang yang dapat dioptimalkan melalui strategi yang tepat. Dengan sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif, kami meyakini pertumbuhan ekonomi dapat terus terjaga secara berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menambahkan koordinasi pemerintah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan.
Bank Indonesia juga disebut terus melakukan bauran kebijakan, termasuk intervensi nilai tukar untuk menjaga stabilitas rupiah yang terdepresiasi 3,9 persen sepanjang 2026.
Kinerja Bank Mandiri Tumbuh Solid
Di tengah tantangan global, Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan bisnis yang melampaui rata-rata industri perbankan nasional.
Hingga Maret 2026, penyaluran kredit bank only mencapai Rp1.530 triliun atau tumbuh 17,4 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara dana pihak ketiga (DPK) naik menjadi Rp1.675 triliun atau tumbuh 21,1 persen yoy.
Current Account Saving Account (CASA) juga meningkat menjadi Rp1.201 triliun atau tumbuh 12,7 persen yoy.
Adapun laba bersih konsolidasi Bank Mandiri tercatat mencapai Rp15,4 triliun atau naik 16,6 persen yoy. Rasio Return on Equity (ROE) berada di level 22,1 persen, Capital Adequacy Ratio (CAR) 19,7 persen, serta rasio BOPO membaik menjadi 58 persen.
“Bank Mandiri optimistis dapat mempertahankan kinerja yang solid sepanjang 2026. Ke depan, kami akan terus menjalankan strategi bisnis secara disiplin dan terukur, sekaligus memperkuat peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” kata Ari.