Banjir di Jember, Warga Dievakuasi ke Sekolah hingga Masjid
Banjir yang melanda Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, merendam sedikitnya 500 rumah dan melumpuhkan jalan provinsi Ambulu–Balung. Ratusan warga terpaksa dievakuasi ke sekolah, masjid, hingga rumah warga yang berada di dataran lebih tinggi.
Kapolsek Wuluhan, Iptu Handoko Dhardak Saputro, mengatakan, kenaikan debit air sudah terpantau sejak malam hari setelah ada laporan peningkatan volume sungai dari wilayah utara.
“Kita laporkan mulai tadi malam dengan informasi air sungai di daerah atas atau utara mengalami kenaikan, sehingga kita langsung antisipasi,” ujarnya, Jumat, 13 Februari 2026.
Air mulai meluber sekitar pukul 23.00 WIB dan terus meninggi hingga masuk ke dalam rumah warga pada pukul 03.30 WIB.
“Air mulai meluber itu diperkirakan jam 11 malam dan genangan semakin meninggi serta masuk ke rumah warga sekitar jam setengah empat pagi,” jelasnya.
Wilayah terdampak meliputi Dusun Sumberrejo, Tanjungsari, hingga mengarah ke Dusun Krajan di Sanggunirigan. Ketinggian air tertinggi terjadi di Dusun Tanjungsari, khususnya RT 17, 18, dan 20 RW 7, yang sempat mencapai dada orang dewasa.
“Yang paling tinggi tadi pagi sampai ketinggian dada orang dewasa itu di Dusun Tanjungsari, terutama RT 17, 18, 20 RW 7,” tegasnya.
Selain itu, air juga kembali meluap di Dusun Sumberejo dan merendam sejumlah RT. Meski kini genangan mulai surut sekitar 60 sentimeter, limpasan air masih mengalir menuju Desa Tamansari.
Dampaknya, jalan provinsi Ambulu–Balung di wilayah Dusun Krajan tergenang dan tidak dapat dilalui secara normal. Polisi menerjunkan personel untuk melakukan pengaturan dan pengalihan arus lalu lintas.
“Untuk anggota kita terjunkan untuk pengaturan lalu lintas. Kendaraan dari arah Balung kita belokkan kanan lewat jalan desa, dan dari Wuluhan kita belokkan kiri arah jalan desa,” katanya.
Di Desa Gelundengan, aparat memastikan seluruh warga di wilayah terdampak telah dievakuasi pada Jumat siang.
“Sekira pukul 11.30 kita pastikan semuanya sudah terevakuasi. Ada yang mengamankan diri di SD 03 Gelundengan, ada yang di masjid, dan mayoritas di rumah tetangga yang datarannya lebih tinggi,” ungkapnya.
Berdasarkan hasil asesmen sementara, sekitar 500 KK terdampak dengan air masuk ke dalam rumah. Guna mencegah risiko korsleting dan bahaya listrik saat banjir, pihak kepolisian juga berkoordinasi dengan PLN untuk memadamkan aliran listrik di wilayah terdampak sejak pagi hari.
“Kita share lock ke petugas PLN untuk dimatikan di RT-RT yang terdampak. Mulai pagi tadi sudah dimatikan,” pungkasnya.