Anak-anak Banyu Urip Kidul Pamer Karya di Galeri Merah Putih
Anak-anak dari Banyu Urip Kidul (Bukid), Surabaya, merayakan pameran lukisan mereka di Galeri Merah Putih, kompleks Balai Pemuda, Surabaya.
Pameran ini menjadi penanda penting bagi perjalanan kreatif mereka yang untuk pertama kalinya bertemu dengan publik seni yang lebih luas.
Peserta pameran merupakan anak-anak usia balita hingga remaja yang tergabung dalam Sanggar Rumah Bukid, sebuah ruang kreatif yang tumbuh dari gang permukiman padat di Jalan Banyu Urip Kidul 5D/5, Surabaya. Dari ruang sederhana itulah, imajinasi dan keberanian berekspresi mereka berkembang.
Sebanyak 24 karya lukis mereka memenuhi dinding utama ruang galeri. Karya-karya tersebut diapit oleh 13 lukisan para guru di sisi kiri dan kanan dinding galeri. Penataan ini, menurut Ketua Sanggar Rumah Bukid, Hari Prayitno, mengandung makna filosofis.
“Penataan itu ibarat sendang kapit pancuran. Sendangnya adalah 24 karya anak-anak, dan pancurannya adalah 13 karya lukis guru mereka,” ujar Hari saat membuka pameran, Sabtu (13/12/2025). Pameran ini berlangsung hingga Kamis (18/12/2025).
Sanggar Rumah Bukid sendiri baru berdiri kurang dari satu tahun. Sanggar ini didirikan oleh Ani Hasan (75 tahun), pensiunan guru fisika SMPN 3 Surabaya, yang sejak awal meyakini bahwa setiap anak memiliki bahasa visualnya sendiri. Keyakinan tersebut menjadi pondasi utama dalam proses belajar di sanggar ini.
Bersama Hari Prayitno, yang juga dosen seni rupa di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, Sanggar Rumah Bukid menjadi ruang belajar yang membebaskan. Anak-anak diajak melukis tanpa tekanan, tanpa tuntutan harus “indah” menurut standar orang dewasa.
Goresan warna-warna berani dan tema keseharian menjadi napas utama karya-karya mereka dalam mewarna. Kehadiran lukisan para guru bukan untuk menyaingi, melainkan menjadi pendamping yang menegaskan proses belajar, tumbuh, dan berjalan bersama.
Tema pamerannya Among-Among dipilih untuk menegaskan nilai kebersamaan, pengasuhan, dan kegembiraan dalam proses kreatif anak. Menurut Hari, konsep among memiliki makna yang khas.
“Among berbeda dengan ngemong yang menekankan kedekatan afektif, ngopeni yang bersifat teknis, atau mimpin dalam struktur hierarkis,” jelasnya.
“Among bukan tindakan mengarahkan, melainkan mengiringi. Bukan intervensi, melainkan menjaga ruang agar kehidupan dapat bertumbuh sesuai kodratnya,” tambah Hari yang lulusan magister seni lukis Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Bagi anak-anak Bukid, pameran ini menjadi pengalaman pertama mereka hadir di ruang seni formal. Mereka belajar bahwa karya yang lahir dari kampung memiliki nilai, ruang, dan apresiasi yang setara.
Pameran ini juga mendapat dukungan dari Camat Sawahan, Amiril Hidayat, ST, serta pihak Kelurahan Banyu Urip, yang hadir membuka pameran bersama anak-anak dan para pendamping mereka.
Galeri Merah Putih pun menjadi saksi bagaimana imajinasi anak-anak kampung Bukid menemukan panggungnya dan dirayakan dengan penuh kebanggaan dalam sebuah pameran yang gemilang.(nto)