Alumni 1984 Seni Rupa IKIP Surabaya Gelar Pameran Bersama
Sebanyak 13 alumni Jurusan Seni Rupa IKIP Negeri Surabaya angkatan 1984, menggelar pameran bersama di di Galeri Merah Putih, Komplek Balai Pemuda Surabaya. Ibaratnya macan tua turun gunung dalam pameran yang bertajuk “Sapa”. Sapa artinya menyapa, sapa juga berarti siapa, saja.
Pameran yang berlangsung hingga Kamis (28/3) mendatang dibuka Gentur Prihantono, pembina panitia pameran, hari Jumat lalu.
“Insinyur sipil dan arsitek banyak menggunakan jasa seniman. Bahkan ada organisasi bernama Himpunan Desain, yang di dalamnya banyak senimannya meski mereka bukan insinyur. Tapi karya para seniman memiliki kekuatan nilai seni dan nilai teknik gambar yang dibutuhkan insinyur sipil dan arsitek,” kata Gentur yang juga Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur, periods 2023-2026.
Tema Sapa diangkat sebagai tajuk pameran, karena makna Sapa adalah ajakan berkomunikasi saling terhubung. “Juga bisa bermakna Siapa (Jawa: Sapa). Jadinya sapa kowe sapa aku (siapa kamu siapa aku) yang menunjukkan eksistensi seseorang,” kata Supriyanto, ketua panitia pameran.
Karya yang terpajang di dinding galeri bervariasi ukuran dan media, mulai dari media kanvas ukuran 60 x 80 cm hingga ukuran 150 x 300 cm digantung di atas partisi yang hampir menyentuh langit langit ruangan galeri.
Juga media instalasi berdimensi volume 100 x 40 x 203 cm. Media lainnya adalah lembar multiplek ukuran 120 x 280 cm yang tampil unik dan menyita perhatian pengunjung pameran.
Berbagai gaya lukisan dari abstrak, realis, impresionis, tampil memenuhi ruang galeri. Sebuah media upcycle karya Bagas Karunia Putra berdiri menjulang setinggi 203 cm dari lantai, dengan tempelan berbagai aksesoris bahan upcycle (barang bekas namun diolah hingga tampil Indah), seperti kepala boneka manekin, lempengan hard disc, dudukan kipas angin, kayu bekas setinggi 100 cm, lembaran akrilik, sebuah pegas, dan kumparan dinamo kecil untuk pengatur gerakan.
Bagas merangkai bahan bekas itu hingga akhirnya bergerak teratur dan seimbang sebagai gambaran interaksi dan keseimbangan kehidupan yang diberi judul Interaksi.
Perupa Didik Hari Purnomo menghadirkan lembaran multiplek yang menggambarkan tembok kusam dengan menempelkan lukisan potrait dirinya berlinang air mata sambil menggenggam bendera Merah Putih sebagai bentuk keprihatinannya pada carut marutnya kondisi bangsa.
Sedangkan multiplek karya Supriyanto berkonten kritik sosial pembangunan IKN yang digambarkan lewat lukisan seorang pemulung berlatarbelakang gedung Istana Garuda, dan narasi berita koran Dampak Perpindahan Ibu Kota Negara Terhadap Kemiskinan di Kota Balikpapan.
Para perupa yang berpameran adalah Supriyanto, Bagas Karunia Putra, Didik Hari Purnomo, Sumantri, Dwikora Tulastiono, Lulus Widodo, Guntur Sasono, Wempy Wahyudi, Ari Budi Sucahyo, Heppy Fahrudin, Eko Wirogojati, Mufsliha, Totok Carol Sandhy, Suryanto, Suwandi, dan Setyo Purnomo.*