70 Persen Infrastruktur Pertanian Jember Rusak, Luasan Panen Belum Maksimal
Kerusakan infrastruktur pertanian menjadi persoalan serius yang membuat Kabupaten Jember tertinggal dalam capaian produksi pangan. Padahal Jember merupakan salah satu kabupaten yang memiliki luas lahan pertanian terbesar di Jawa Timur.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengungkapkan, berdasarkan data yang diperoleh di lapangan hampir 70 persen infrastruktur pertanian di Jember saat ini dalam kondisi rusak dan tidak optimal. Persoalan tersebut berdampak langsung pada rendahnya luas panen.
“Kenapa Jember yang dulu pernah menjadi yang terbaik hari ini tercecer di urutan keempat dan kelima? Ternyata hampir 70 persen infrastruktur pertanian di Jember hari ini rusak,” katanya, Senin, 22 Desember 2025 sore
Ia menjelaskan, kondisi tersebut ironis karena luas lahan pertanian Jember justru lebih besar dibanding beberapa daerah lain di Jawa Timur, namun hasil panennya kalah jauh. Menurutnya, persoalan tersebut menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan secara bersama-sama.
“Maka Jember dengan luas lahan pertanian yang salah satu yang terluas di Jawa Timur justru luas panennya kalah dengan beberapa kabupaten yang memiliki lahan lebih sempit. Ini PR kita bersama dan ini tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Fawait menegaskan, Pemerintah Kabupaten Jember di bawah kepemimpinannya berkomitmen memperbaiki sektor pertanian secara konkret, sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat di bawah Presiden Prabowo Subianto. Komitmen itu diwujudkan melalui alokasi anggaran dan program pembangunan pertanian terbesar sepanjang sejarah Kabupaten Jember.
“Komitmen pemerintah pusat dan pemerintah daerah hari ini bisa dibuktikan secara konkret dengan program-program yang ada. Program tahun 2025 ini bahkan menjadi yang terbesar dalam sejarah 40 tahun Kabupaten Jember,” ujarnya.
Ia menyebut, ribuan hektare lahan pertanian telah dan akan terus dioptimalkan melalui pembangunan dan perbaikan infrastruktur pertanian, mulai dari saluran irigasi, jalan usaha tani, hingga bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Ia juga mengajak media dan masyarakat untuk ikut mengawasi bantuan alat pertanian agar tidak disalahgunakan atau dipindahtangankan. Pengawasan bersama dinilai penting agar bantuan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani.
“Kami minta bantuan kawan-kawan media dan masyarakat untuk ikut memantau alat-alat pertanian yang sudah diberikan. Kami tidak bisa mengawasi satu-satu,” ajaknya.
Lebih jauh Gus Fawait mengatakan fokus perbaikan infrastruktur, lanjutnya, tidak hanya menyasar sektor pertanian, tetapi juga jalan-jalan di wilayah Kabupaten Jember yang menjadi penopang distribusi hasil panen. Dari hasil pengecekan di lapangan, kebutuhan anggaran untuk perbaikan jalan mencapai Rp1,2 triliun.
“Ketika kita cek ke bawah, ternyata kerusakan jalan membutuhkan anggaran Rp1,2 triliun. Kalau hanya mengandalkan APBD Jember, tidak mungkin selesai,” ungkapnya.
Karena itu, Pemkab Jember akan melakukan lobi intensif ke pemerintah pusat agar pembangunan jalan dan infrastruktur pertanian dapat dituntaskan dalam empat tahun ke depan.
“Kami akan melobi pemerintah pusat supaya dalam empat tahun ke depan tidak boleh lagi ada jalan rusak dan infrastruktur pertanian yang tidak optimal di Kabupaten Jember,” tegasnya.
Fawait menekankan, prioritas utama pemerintah daerah adalah memastikan panen petani berjalan optimal. Menurutnya, infrastruktur yang baik harus sejalan dengan peningkatan produktivitas lahan.
“Yang penting itu panennya optimal dulu. Walaupun jalannya tidak begitu bagus, kalau panennya optimal tetap bisa diangkut. Tapi kalau jalannya bagus, panennya tidak optimal, mau mengangkut apa?” pungkasnya.