Tumpeng Tempe 14 Meter di Sedengan Mijen, Sidoarjo, Jadi Magnet Ruwat Desa Jelang Ramadan
Tradisi Ruwat Desa di Desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, kembali menyita perhatian publik menjelang bulan suci Ramadan. Tahun ini, perayaan berlangsung lebih meriah dengan hadirnya tumpeng tempe raksasa setinggi 14 meter yang menjadi ikon utama acara.
Gunungan tempe yang menjulang di lapangan desa tersebut dibuat dari sekitar 3 kuintal kedelai, melibatkan gotong royong warga serta sumbangan sukarela para pengrajin tempe lokal. Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk syukur, tetapi juga mencerminkan identitas Sedengan Mijen sebagai salah satu sentra tempe di Sidoarjo.
Kepala Desa Sedengan Mijen, Hasanuddin, mengatakan, tumpeng tempe bukan sekadar sajian unik, melainkan simbol kuat dari budaya dan potensi ekonomi desa.
“Ruwat desa ini merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus doa untuk para leluhur desa,” ungkapnya, Minggu, 1 Februari 2026.
Selain tumpeng tempe raksasa, kemeriahan juga ditambah dengan arak-arakan 31 tumpeng hasil bumi yang dibawa masing-masing RT. Pawai tumpeng tersebut menjadi gambaran kebersamaan sekaligus persatuan warga dalam menjaga tradisi turun-temurun.
Meski jumlah pengrajin tempe di desa itu kini tersisa sekitar 25 orang, Hasanuddin menegaskan bahwa kualitas tempe Sedengan Mijen tetap terjaga dan memiliki cita rasa khas.
Dalam kesempatan yang sama, Camat Krian Nawari, yang hadir mewakili Bupati Sidoarjo, memberikan apresiasi atas kekompakan masyarakat Sedengan Mijen. Ia menyebut tradisi Ruwat Desa ini telah masuk dalam agenda resmi Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo ke-167.
“Tradisi ini sangat positif dan berpotensi menjadi daya tarik wisata daerah karena dikelola dengan baik serta penuh kebersamaan,” ujar Nawari.
Usai doa bersama dan istighosah, momen paling ditunggu pun tiba. Tumpeng tempe setinggi 14 meter tersebut langsung diperebutkan ribuan warga yang meyakini potongan tempe membawa berkah.
Salah satu pengunjung asal Kecamatan Prambon, Kusairi, 35 tahun, mengaku sengaja datang demi menyaksikan langsung fenomena unik tersebut.
“Saya datang dari Prambon untuk melihat tumpeng tempe raksasa ini. Alhamdulillah masih kebagian dua potong,” katanya.
Selama kegiatan berlangsung, situasi tetap aman dan kondusif dengan pengamanan dari aparat TNI-Polri. Ruwat Desa Sedengan Mijen pun ditutup dengan harapan agar tradisi budaya dan semangat kebersamaan warga terus lestari dari generasi ke generasi.