Transjatim Makin Padat, Pemprov Jatim Didorong Tambah Trip dan Feeder ke Pelosok
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berkomitmen terus memperluas dan meningkatkan layanan transportasi publik bagi masyarakat. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan layanan bus Transjatim, yang kini menjadi pilihan favorit warga di kawasan Surabaya Raya.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo, Budi Basuki, mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan kajian penambahan rute dan armada baru bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Kajian ini bertujuan untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih efisien dan terintegrasi.
“Kami berterima kasih atas dukungan DPR RI terhadap pengembangan transportasi publik di daerah. Transjatim ini bentuk nyata kehadiran pemerintah dengan konsep Buy The Service (BTS), di mana subsidi menjadi kunci keberlanjutan operasionalnya,” ujar Budi Basuki, Minggu, 2 November 2025.
Menurutnya, Pemkab Sidoarjo akan melakukan re-routing dan pengadaan angkutan feeder dalam perubahan anggaran tahun ini agar masyarakat semakin mudah mengakses layanan bus massal.
“Harapannya, transportasi di Sidoarjo semakin terintegrasi antara terminal, stasiun, dan layanan bus Transjatim, terutama di wilayah selatan dan kawasan padat penduduk,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Anggota DPR RI Komisi VII Fraksi Gerindra, Bambang Haryo Soekartono (BHS), memberikan apresiasi atas langkah Dishub Sidoarjo yang proaktif meningkatkan layanan Transjatim. Ia menilai layanan tersebut telah menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam hal kenyamanan, keterjangkauan, dan kepercayaan publik.
“Pelayanan Transjatim, baik koridor 1 ke Gresik maupun koridor 6 menuju Mojokerto, sudah sangat baik dan memuaskan masyarakat. Tingkat keterisian penumpang (load factor) mencapai 70 hingga 100 persen, menandakan kepercayaan publik terhadap transportasi massal ini semakin tinggi,” ujar BHS.
Menurut BHS, jika tingkat keterisian sudah di atas 70 persen, itu menjadi sinyal kuat bagi pemerintah untuk segera menambah jumlah armada atau meningkatkan frekuensi perjalanan agar kenyamanan penumpang tetap terjaga.
“Kapasitas di atas 70 persen artinya layanan sudah mendekati batas ideal. Pemerintah perlu menambah trip dan menyiapkan feeder agar Transjatim menjangkau wilayah pelosok,” tegasnya.
Selain mendorong penambahan armada, BHS juga menekankan pentingnya aspek keselamatan penumpang. Ia mencontohkan penerapan sabuk pengaman (seatbelt) di negara maju sebagai praktik yang dapat diterapkan di Indonesia.
“Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Disiplin penggunaan sabuk pengaman dan kelengkapan keselamatan lainnya penting, baik bagi pengemudi maupun penumpang,” ujarnya.
Dengan terus meningkatnya minat masyarakat, Transjatim kini dipandang sebagai model transportasi publik efisien yang bisa dikembangkan ke lebih banyak daerah di Jawa Timur.