Temuan Prasasti Palsu di Bojonegoro: Komunitas Bumi Budaya Ungkap Fakta Lain
Komunitas Bumi Budaya mengungkap fakta menarik di balik penemuan dua lempengan batu bertuliskan aksara kuno di lokasi wisata Puthuk Kreweng, Desa Mojodelik, Bojonegoro. Artefak ini disebut sebagai “prasasti palsu tapi asli dari batu” karena mengandung paradoks unik: otentik secara fisik, namun diragukan keaslian isi dan konteks sejarahnya.
Paradoks Sejarah: Asli Secara Fisik, Palsu Secara Isi
Komunitas Bumi Budaya menegaskan bahwa lempengan batu tersebut secara teknis dapat disebut prasasti karena memuat aksara yang dipahat di atas media batu keras. Namun, isi tulisan dan konteks pembuatannya menimbulkan keraguan serius.
Totok Supriyanto, Ketua Komunitas Bumi Budaya, menjelaskan bahwa paradoks ini mencerminkan kekosongan epistemik dalam masyarakat—ketika aksara kuno diproduksi tanpa pemahaman mendalam atas sejarah, konteks budaya, dan logika perkembangan naskah Jawa.
“Penemuan ini menunjukkan bahwa masyarakat kita pernah kehilangan kendali atas narasi sejarah sendiri, dan kini mulai bangkit melalui pendekatan ilmiah,” ujar Totok.
Kesalahan Epistemik dan Penyalahgunaan Mistika
Menurut Totok, pembuat prasasti palsu ini gagal memahami bahwa masyarakat Jawa kini telah mengalami pergeseran budaya: dari mistisisme menuju rasionalitas. Ia juga menyoroti bahwa semakin banyak orang Jawa yang mampu membaca dan menafsirkan aksara kuno secara kritis dan ilmiah.
"Kesalahan dalam bentuk, gaya aksara, dan konteks penemuan menunjukkan bahwa prasasti ini kemungkinan besar dibuat dalam waktu dekat, bukan berasal dari zaman kuno," tambahnya.
Komunitas Bumi Budaya melihat gejala ini sebagai bentuk penyalahgunaan mistika, di mana cerita spiritual—seperti mimpi tentang pria berkepala ular—digunakan untuk membenarkan klaim sejarah yang tidak tervalidasi.
Kronologi Penemuan Prasasti di Puthuk Kreweng
Temuan prasasti di Bojonegoro bermula dari mimpi Kepala Desa Mojodelik, Yuntik Rahayu, yang kemudian menemukan dua batu bertuliskan aksara kuno saat kerja bakti di area Puthuk Kreweng. Tulisan pada batu menyerupai Aksara Jawa, namun tidak dikenali oleh Yuntik. Artefak tersebut kini telah didata oleh pihak Dinas Provinsi Jawa Timur.
Pentingnya Pendekatan Ilmiah dalam Menafsirkan Artefak
Komunitas Bumi Budaya menekankan pentingnya pendekatan kritis dan ilmiah dalam menafsirkan temuan prasasti dan artefak sejarah. Keberadaan prasasti palsu seperti ini menjadi pengingat bahwa setiap artefak harus melalui proses verifikasi sebelum dijadikan rujukan sejarah.
“Penemuan ini justru mencerminkan kemajuan literasi sejarah masyarakat Jawa modern. Masyarakat semakin sadar akan pentingnya bukti ilmiah, bukan sekadar narasi spiritual,” tutup Totok.
Kesimpulan
Fenomena “prasasti palsu dari batu asli” di Bojonegoro mengajarkan pentingnya membangun kesadaran sejarah yang berbasis pada ilmu pengetahuan, bukan mitos. Komunitas Bumi Budaya terus mendorong masyarakat dan pemerintah untuk mengedepankan literasi budaya dan pendekatan akademik dalam menjaga warisan sejarah.