Sosok Sartono, Pencipta Lagu Hymne Guru Asal Madiun yang Hidup Sederhana
Lagu Hymne Guru menggema menjelang Hari Guru Nasional yang jatuh pada Senin 25 November 2024. Lagu Hymne Guru, tentu saja mengingatkan sosok sederhana, Sartono, yang tak lain pencipta lagi yang melegenda itu.
Mengenal Sartono, seorang mantan guru seni muasik di Kota Madiun, Jawa Timur, lahir pada 29 Mei 1936 dan meninggal pada 1 November 2015 silam.. Namanya dikenal luas sebagai pencipta lagu Hymne Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, yang menjadi lagu wajib di berbagai institusi pendidikan di Indonesia. Lagu ini pertama kali diciptakan pada tahun 1980-an dan hingga kini sering dinyanyikan di sekolah-sekolah dari tingkat SD hingga SMA.
Pria ini, Sartono menjalani hidup sederhana di sebuah rumah berdinding kayu di Jalan Halmahera Nomor 98, Kelurahan Oro-Oro Ombo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun. Ia tinggal bersama istrinya, Damiyati, yang juga merupakan pensiunan guru SD. Pasangan ini hidup tanpa memiliki anak.
Yang menarik, meski dikenal sebagai guru seni music, Sartono tidak pernah menempuh pendidikan formal di bidang musik, tetapi belajar secara otodidak. Pada tahun 1978, ia dikenal sebagai satu-satunya guru seni musik di Madiun yang mampu membaca not balok. Keterbatasan alat musik tidak menghalanginya dalam menciptakan karya. Lagu Hymne Guru sendiri ia ciptakan hanya dengan bersiul dan menulis notasi di atas kertas.
Karier dan prestasi bermusik Sartono mencuat saat dirinya mengajar di SMP Katolik Santo Bernardus, Kota Madiun, pada tahun 1978. Di sekolah itu, Sartono mengabdi hingga pensiun pada tahun 2002. Hidup sederhana dengan keterbatasan penghasilan sebagai guru, kecintaan Sartono terhadap musik mendorongnya untuk menciptakan sejumlah lagu bertema pendidikan.
Pada tahun 1980, Sartono mengikuti lomba cipta lagu bertema pendidikan yang diadakan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional. Dari ratusan peserta, lagu Hymne Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa keluar sebagai pemenang. Selain hadiah uang tunai, Sartono bersama sejumlah guru teladan lainnya diberangkatkan ke Jepang untuk program studi banding.
Sartono juga menciptakan delapan lagu lain yang juga bertemakan pendidikan. Atas dedikasinya, ia menerima penghargaan dari Menteri Pendidikan Nasional Yahya Muhaimin dan Dirjen Pendidikan Soedardji Darmodihardjo. Pada tahun 2011, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memberikan penghargaan seni dan budaya kepada Sartono pada peringatan Hari Pahlawan.
Di dunia musik, Sartono menginspirasi komponis kontemporer Ananda Sukarlan. Pada tahun 2023, Ananda menciptakan karya bertajuk Variations on Sartono’s Hymne Guru untuk kuartet flute, klarinet, cello, dan piano sebagai bentuk penghormatan.
Selain itu, Sartono juga pernah diminta oleh TNI Angkatan Darat untuk memberikan semangat kepada para guru di Aceh pascabencana tsunami pada tahun 2004.
Guru yang hidup sederhana ini meninggal dunia pada 1 November 2015 atau pada usia 79 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Madiun akibat komplikasi kesehatan, termasuk stroke, penyakit jantung, diabetes, dan penyumbatan darah di otak.
Pribadi sederhana seorang guru yang mendedikasikan pada dunia music yang tema-temanya soal Pendidikan. Sartono meninggalkan warisan berupa lagu Hymne Guru. Lagu ini akan dikenang dan digelorakan sosok seorang pendidik yang sederhana. Setidaknya dikenang saat Hari Guru Nasional yang diperingati tiap 25 November.