Sering Macet di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk, Gapasdap: Perlu Penambahan Dermaga
Antrean kendaraan selalu terjadi di sekitar Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk setiap musim mudik Lebaran atau liburan panjang. Kondisi ini menurut Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) disebabkan kurangnya jumlah dermaga. Bukan jumlah kapal penyeberangan.
Ketua Bidang Usaha dan Pentarifan DPP Gapasdap, Rakhmatika Ardianto, mengatakan, hari ini, Sabtu, 14 Maret 2026, dirinya mendapatkan informasi terjadi kemacetan kendaraan hingga 7 km di sisi Gilimanuk. Gapasdap, menurutnya, sudah memprediksi kondisi ini.
"Sudah kita sampaikan beberapa kali kepada pemerintah dan juga ketika ada kunjungan DPR RI Komisi V waktu yang lalu, bahwa akar permasalahan yang ada di Ketapang, di Gilimanuk ini adalah jumlah dermaga yang kurang," jelasnya, saat meninjau arus mudik di Pelabuhan Ketapang, Sabtu, 14 Maret 2026.
Saat ini, menurutnya, di lintas Ketapang Gilimanuk masing-masing terdapat 7 pasang dermaga yang beroperasi. Rinciannya, empat dermaga MB dan 3 dermaga LCM. Satu dermaga masing-masing 4 kapal. Sehingga dalam sehari kapal yang bisa beroperasi hanya 28 kapal. Padahal kapal yang ada di lintas Ketapang-Gilimanuk sebanyak 55 kapal.
"Nah, ini kurang lebih kan hanya sekitar 50% dari total kapal yang ada. Sisanya kemana? Sisanya off," terangnya.
Kapal yang off, menurutnya harus menunggu giliran untuk beroperasi. Artinya, kata dia, jumlah kapal yang ada lintasan penghubung Jawa dengan Bali ini sudah berlebih.
Oleh karena itu, Gapasdap meminta kepada Pemerintah dan DPR RI agar menambah dermaga di Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk. Idealnya, masing-masing yakni di pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk ditambah minimal 3 dermaga lagi. Sehingga total ada 10 pasang dermaga.
Kalau ada tambahan 3 pasang dermaga, kata dia, maka kapal yang beroperasi bisa bertambah kurang lebih 12 unit. Kapal tambahannya bisa dioptimalkann dari kapal yang saat ini off. Penambahan 12 kapal itu, nantinya akan menambah daya angkut tambahan sebesar 40% dari kapasitas existing.
Dia menyebut, hari ini jumlah kapal yang beroperasi sebanyak 35 kapal dari kondisi normal 28 kapal. Tujuh kapal tambahan, menurutnya, jadwalnya disisipkan di dermaga yang ada. Hal ini kata dia, malah mengganggu pelayanan dan bahkan merusak jadwal.
"Karena masing-masing dermaga itu punya kapasitas maksimal berapa kapal yang bisa beroperasi di situ. Nggak bisa dipaksakan semuanya beroperasi di situ, akhirnya rusak," tegasnya.
Penambahan dermaga ini, menurutnya sudah menjadi sebuah keharusan. Sebab, tidak lama lagi, jalan tol Surabaya-Banyuwangi akan tersambung. Jika tol sudah tersambung, maka dipastikan terjadi lonjakan pengguna jasa penyeberanga.
"Kalau kita nggak planning-kan mulai sekarang. Jangan sampai terlambat. Masyarakat banyak yang menggunakan jalur wisata ke Bali, kita nggak bisa nampung," ujarnya.
Dia menegaskan, penambahan dermaga ini sangat memungkinkan dilakukan. Pembangunan dermaga bisa menggunakan model sirip ikan seperti yang dilakukan di luar negeri.
"Jadi bukan satu, satu. Tapi bisa satu ke tengah besar, kemudian di kanan kirinya itu kayak sirip ikan. Itu bisa lebih banyak. Dan itu saya pikir harus di-planning-kan mulai sekarang. Kalau enggak, kapan lagi?" ujarnya.