Sekitar 6,7 juta Penduduk Indonesia Terinfeksi Hepatitis B dan 2,5 Juta Hepatitis C
Pemerintah Indonesia menyoroti data Survei Kesehatan 2023 yang mencatat sekitar 6,7 juta penduduk terinfeksi hepatitis B dan 2,5 juta terinfeksi hepatitis C di Indonesia. Respon terkait Peringatan Hari Hepatitis Sedunia (HHS) 2025 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat komitmen eliminasi hepatitis B dan C pada tahun 2030.
Sedangkan tema global yang diusung, yaitu "Let's Break It Down" dan tema nasional "Bergerak Bersama, Putuskan Penularan Hepatitis,"
Tantangan dan Upaya Pemerintah
Hepatitis B dan C kronis menjadi penyebab utama kanker hati, penyakit yang menempati posisi ketiga sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia. Menanggapi tantangan ini, Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Ina Agustina Isturini, menekankan bahwa Indonesia telah menunjukkan kemajuan signifikan."Prevalensi hepatitis B menurun drastis dari 7,1% pada 2013 menjadi 2,4% pada 2023," ungkap dr. Ina dalam keterangan pers dikutip Kamis 24 Juli 2025.
Sedangkan untuk pencapaian ini didukung oleh berbagai program pemerintah, antara lain: Skrining dan Imunisasi Ibu Hamil: Pada 2024, sebanyak 89,6% ibu hamil telah menjalani skrining hepatitis B. Lebih dari 93% bayi dari ibu reaktif HBsAg juga telah menerima imunisasi HB0 dan HBIg dalam 24 jam pertama.
Pemberian Antivirus Tenofovir: Sebanyak 1.410 layanan di 206 kabupaten/kota kini menyediakan antivirus Tenofovir untuk ibu hamil dengan hepatitis B.
Deteksi dan Pengobatan Hepatitis C: Terapi menggunakan Direct Acting Antiviral (DAA) yang mampu menyembuhkan lebih dari 95% pasien, kini tersedia di 71 rumah sakit di 56 kabupaten/kota.
Kolaborasi Kunci untuk Eliminasi Hepatitis
Prof. David H. Muljono, anggota Komite Ahli Hepatitis Kemenkes RI, menyoroti pentingnya pendekatan yang spesifik dan terdesentralisasi. "Saat ini, lebih dari 60% masyarakat Indonesia belum memiliki kekebalan terhadap hepatitis B," katanya.
Ia menekankan bahwa strategi eliminasi tidak bisa menggunakan pendekatan tunggal. Penting untuk melibatkan tokoh agama, adat, dan masyarakat dalam setiap wilayah. Selain itu, layanan diagnosis dan terapi harus tersedia hingga ke tingkat Puskesmas agar pasien di daerah terpencil bisa mendapatkan pengobatan tepat waktu.
Kementerian Kesehatan RI mengajak seluruh masyarakat untuk berpartisipasi aktif melalui empat gerakan "atasi": atasi ketidaktahuan dengan edukasi, atasi keterlambatan diagnosis dengan skrining, atasi akses terbatas dengan memperluas layanan gratis, dan atasi stigma dengan empati.
HHS 2025 menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa bahwa eliminasi hepatitis adalah tugas bersama. Masyarakat diimbau untuk memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG), melengkapi imunisasi anak, serta mendukung upaya edukasi demi mewujudkan generasi Indonesia bebas hepatitis.