Semua Wilayah Jawa Timur Rawan Bencana, Ribuan Petugas Gabungan Disiagakan Hadapi Musim Hujan
Ribuan personel gabungan di Jawa Timur disiagakan menghadapi ancaman bencana pada musim penghujan. Polda Jawa Timur menggelar Apel Gelar Pasukan Kesiapan Tanggap Darurat Bencana di Mapolda Jawa Timur, Surabaya, Rabu (5 November 2025).
Apel tersebut dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama jajaran Forkopimda Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi simbol kesiapan pemerintah daerah menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang berpotensi menimbulkan bencana di seluruh wilayah Jawa Timur.
Kesiapan 6.000 Personel Gabungan Hadapi Ancaman Bencana Hidrometeorologi
Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto menjelaskan, apel kesiapsiagaan ini juga dilaksanakan serentak di seluruh polres di 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur. Total ada 6.000 personel gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD, Basarnas, Dinas Sosial, PMI, relawan tangguh bencana, dan unsur masyarakat.
“Tujuannya untuk memastikan kesiapan personel dan peralatan yang kita miliki agar benar-benar siap membantu masyarakat ketika terjadi bencana,” ujar Irjen Pol Nanang Avianto.
Selain apel pasukan, kegiatan juga diisi dengan pengecekan peralatan penanganan bencana dari masing-masing instansi, seperti kendaraan evakuasi, perahu karet, dapur umum, hingga alat komunikasi darurat.
BMKG: Seluruh Wilayah Jawa Timur Berpotensi Dilanda Cuaca Ekstrem
Hasil koordinasi dengan BMKG Jawa Timur menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah Jawa Timur telah memasuki musim hujan, sementara sebagian daerah lainnya masih dalam masa pancaroba yang berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem.
Menurut Kapolda Jawa Timur, perubahan iklim yang terjadi sejak awal November menjadi sinyal peningkatan risiko bencana hidrometeorologi.
“Mulai kemarin sudah terjadi perubahan dari musim kemarau ke musim hujan. Beberapa kali juga sudah muncul kejadian bencana. Ini baru awal dan akan mendekati puncaknya, sehingga kesiapan kita harus benar-benar optimal,” tegas Nanang.
Ancaman bencana yang paling mungkin terjadi di Jawa Timur antara lain banjir, tanah longsor, angin kencang, hujan es, dan pohon tumbang.
Semua Wilayah Jawa Timur Rawan Bencana: Daftar Daerah dengan Risiko Tertinggi
Berdasarkan data dari BMKG dan BPBD Jawa Timur, hampir semua wilayah Jawa Timur rawan bencana hidrometeorologi. Berikut ini beberapa daerah dengan tingkat kerawanan paling tinggi:
Kabupaten Malang dan Kabupaten Pasuruan, tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kejadian bencana terbanyak sepanjang tahun 2025.
Kabupaten Lamongan, Kabupaten Tuban, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Gresik, dan Kabupaten Jombang menjadi langganan banjir akibat meluapnya sungai Bengawan Solo dan Kali Lamong.
Kabupaten Pacitan, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Ponorogo, dan Kabupaten Tulungagung berisiko tinggi terhadap tanah longsor karena kondisi geografis pegunungan.
Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya, Kabupaten Mojokerto, dan Kota Kediri rawan angin puting beliung dan pohon tumbang saat hujan lebat.
Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Jember, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Probolinggo sering mengalami cuaca ekstrem dan potensi banjir lahar dingin dari Gunung Semeru.
Kabupaten Sumenep dan Kabupaten Pamekasan di Pulau Madura juga masuk daftar daerah yang perlu waspada terhadap angin kencang dan gelombang tinggi.
Menurut data BPBD Jawa Timur, sepanjang Januari hingga Oktober 2025 tercatat 264 kejadian bencana di berbagai wilayah, termasuk banjir, longsor, kebakaran hutan, dan angin puting beliung.
Pemerintah Jawa Timur Perkuat Koordinasi dan Layanan Tanggap Darurat
Irjen Pol Nanang Avianto menegaskan, hasil evaluasi dari kejadian sebelumnya telah menghasilkan sejumlah perbaikan dalam sistem penanganan darurat.
“Kami sudah melakukan evaluasi dari kejadian-kejadian bencana tahun lalu. Sekarang sistem layanan sudah lebih cepat dan terkoordinasi. Harapannya, setiap kejadian bisa segera direspons dengan cepat dan tepat,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur harus siaga 24 jam menghadapi potensi bencana.
“Jangan tunggu bencana datang baru bergerak. Semua wilayah Jawa Timur rawan bencana, karena itu kesiapsiagaan harus menjadi prioritas utama,” kata Khofifah.
Ia juga meminta kepala daerah hingga perangkat desa untuk memastikan kesiapan posko bencana, jalur evakuasi, dan fasilitas penanganan korban di setiap daerah.