Aura Cinta Debat dengan Dedi Mulyadi, Ada yang Menduga Aura Pemain Sinetron alias Settingan?
Viral di media sosial seorang remaja perempuan di Bekasi menyuarakan protes soal kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang melarang sekolah menggelar wisuda. Dedi Mulyadi pun mengundang remaja perempuan ini untuk berdiskusi dengannya.
Dalam pertemuan tersebut remaja perempuan ini terlibat debat dengan Dedi Mulyadi terkait larangan sekolah menggelar perpisahan atau wisuda.
"Kalau bisa, wisuda itu pengeluaran lebih sedikit. Pokoknya tetap ada wisuda," kara remaja perempuan ini.
Menanggapi hal tersebut Dedi Mulyadi menanyakan di negara mana sih ada sekolah yang menyelenggarakan wisuda?
"Saya tanya, di negara mana ada TK wisuda, SD wisuda, SMP wisuda, SMA wisuda? Hanya di Indonesia. Wisuda untuk siapa? yang kuliah" ujar Dedi.
Kata Dedi acara wisuda yang biasanya diselenggarakan oleh sekolah dianggap membebani orang tua. Oleh karena itu dia mempunyai kebijakan untuk menghapuskan wisuda sekolah tersebut.
Sosok Remaja Perempuan
Namun bukan soal larangan wisudanya yang bikin netizen menjadi julit kepada Dedi Mulyadi. Melainkan remaja perempuan yang berdebat dengan Dedi Mulyadi itu. Dia diduga adalah Aura Cinta. Aura Cinta bersama keluarganya berasal dari Solo, Jawa Tengah yang kemudian tinggal di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Ayah Aura Cinta mencari nafkah sebagai pedagang sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga.
Aura mengaku lulusan SMA Negeri 1 Cikarang yang saat ini berencana melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia (UI) jurusan Filsafat. Orang tua Aura Cinta mengaku tinggal di bantaran sungai dan di atas tanah negara sejak lama.
Benarkah Aura Cinta bukan Settingan?
Klaim Aura Cinta sebagai anak remaja yang menentang penghapusan wisuda dipertanyakan oleh akun Instagram @digitalnews.co.id Dalam keterangannya akun ini menyebut remaja perempuan yang viral karena debat dengan Dedi Mulyadi itu pernah menjadi pemain sinetron. Akun ini pun mempertanyakan netizen apakah masih mempercayai dengan fakta dramaturgi yang disajikan? “Jadi ingat arsip tua masuk gorong-gorong,” kata akun ini.
Narasi yang dipaksa berulang untuk diadopsi sebagai fakta, tapi kebenaran palsu. Fenomena yang lagi rame ini bisa kita analisis pakek pendekatan konstruksi sosial yang digagas oleh Peter L. Berger.
L Berger : Realitas itu dibangun bukan dikasih mentah-mentah. (jadi ingat awal bencana dimulai dari 1 titik lubang gorong-gorong)
Maksudnya gini, apa yang kita percaya sebagai "fakta" dibentuk dari narasi yang berulang. Sama halnya seperti realitas gadis Bekasi yang kritik Dedi Mulyadi ini.
Sebagian orang percaya kalau ini fakta riil, namun dalam teori 'DRAMATURGI' kita punya argumen lain bahwasanya ini hanya agenda setting yang sudah dikondisikan.
Kalian tim yang kenakan permainan atau yang meragukan?
Descartes Said : (Aku Meragukan, Aku Berpikir, Maka Aku Ada) ‼️
*Teori dramaturgi adalah sebuah teori yang menjelaskan bahwa interaksi sosial manusia dapat dipahami sebagai sebuah pertunjukan teater atau drama, di mana individu berperan sebagai aktor yang berusaha menampilkan diri sesuai dengan peran yang mereka pilih. Teori ini dikembangkan oleh sosiolog Erving Goffman.