Ramadan di India, Alami Panas Ekstrem dan Terpaksa Sahur Nasi Biryani Tiap Hari
Jika awal puasa di Indonesia adalah 1 Maret 2025, lain halnya dengan di luar negeri. Salah satunya adalah di negara India. Di negeri Bollywood itu, puasa dimulai sejak 2 Maret 2025. Menjalani ibadah puasa bukan di negeri sendiri memiliki cerita dan tantangannya tersendiri. Seperti yang dialami pelajar Indonesia di bumi Mahatma Gandhi.
Adalah Nurtria Rendi Rahmadi, Mahasiswa S3 jurusan Management Studies di Indian Institute of Technology (IIT) Roorkee. Mengenakan baju koko, pria asal Jogjakarta itu membagikan kisahnya kepada Ngopibareng.id melalui google meet.
Kala itu, Rendi baru saja menyelesaikan ibadah salat zuhur. “Beruntung, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, puasa kali ini suhu cuacanya tidak panas. Karena ini bulan Maret, jadi masih dingin,” ucap Rendi membuka.
Pria berkulit sawo matang itu mengenang, baginya puasa di negeri rantau yang menantang adalah ketika dia mengenyam pendidikan S2. Saat itu, cuaca di India ekstrem mencapai 45 derajat. Terlebih, komunitas muslim di kampusnya kurang dari 10 orang.
“Waktu saya S2 di kampus yang lokasinya di Narela, dekat dengan Haryana saat itu cuacanya 45 derajat. Kalau nggak salah di tahun 2016, jadi panas banget. Mahasiswa internasional yang beragama Islam jumlahnya sekitar tujuh orang,” pungkasnya.
Buka Puasa di Masjid Kampus dengan Menu Beragam
Berbeda dengan pengalaman berpuasa saat menjalani studi pasca sarjana, kala menjadi mahasiswa program doktoral di India Rendi mengalami banyak kisah manis. Kendati jauh dari anak dan istri, alumnus Guru Gobind Singh Indraprastha University itu tak merasa sendiri. Di kampus yang sekarang, sebagian besar staf dan pendidiknya muslim. Tak hanya itu, ada banyak mahasiswa internasional yang berasal dari berbagai negara dengan mayoritas muslim. Di antaranya Sudan, Nigeria, Maroko, dan Syiria.
“Di IIT Roorkee banyak orang muslimnya, ya kira-kira 100 orang. Baik dari civitas kampus, mahasiswa lokal, dan juga mahasiswa internasional. Jadi saya nggak ngerasa sendiri,” katanya.
Yang menarik, setiap harinya, awardee The Indian and Technical Economy Program itu tak perlu pusing memikirkan sekaligus menyiapkan menu buka puasa. Sebelum azan magrib berkumandang, Rendi bergegas menuju masjid di kampusnya dengan berjalan kaki. Berjarak 150 meter dari apartemen tempat tinggal dia tinggal, di masjid ini menyediakan 300 porsi makanan gratis untuk para jemaah. Baik putra pun putri, khususnya saat ramadan.
“Alhamdulillah bisa berhemat, kalau buka puasa bisa pergi ke masjid kampus. Di sana sudah ada makanan gratis setiap hari,” katanya.
Rendi menyebut, menu yang tersedia setiap hari pun beragam. Antara lain chicken biryani, mutton biryani, dan chicken korma. Rendi membeberkan, makanan di masjid itu disuplai oleh donatur kampus.
Dimasak Langsung seperti Tonton Live Show
Sebelum memakan menu utama, kala berbuka ada hidangan ringan yang disediakan. Mulai dari buah-buahan segar, jus buah, minuman bersoda, hingga gorengan khas India.
“Biasanya sebelum makan berat ada mixed fruit isinya pepaya, pisang, anggur, dan apel dengan masala atau rempah asli India. Ada juga lho gorengannya versi sini yaitu Pakora atau kentang digoreng dan samosa yang mirip pastel,” katanya.
Yang menarik, pria kelahiran 1982 itu menyebut, hidangan utamanya dimasak secara langsung. Yaitu dengan mendatangkan koki beserta peralatan masaknya. Sehingga, para jemaah bisa menonton.
“Iya makanannya itu fresh from the oven, jadi mereka masak langsung seperti live show,” katanya.
Penerima beasiswa The Doctoral Fellowship in India for ASEAN itu mengatakan, sistem buka puasa di masjid kampus IIT Roorkee mirip di pesantren. Di mana, jemaah disediakan makanan di piring, dan untuk mengambilnya perlu mengantre.
“Masjid di kampus saya itu modelnya seperti di Timur Tengah, jadi luas banget pelatarannya. Kayak pesantren, jadi kalau berbuka kita dapat piring dan bisa makan dengan duduk bareng,” katanya.
Terpaksa Sahur Nasi Biryani Tiap Hari
Kala sahur, Rendi memilih menu yang simpel. Di mana, menu tersebut tidak basi hingga waktu sahur tiba. Bagi Rendi, nasi biryani adalah pilihan tepat. Terlebih, Rendi dapat mengantongi porsi melimpah dengan harga miring. Tak heran, setiap harinya Rendi menjadikan nasi biryani sebagai menu andalan. Biasanya Rendi membeli menu ini di restoran yang berlokasi di samping apartemennya.
“Dengan harga 60 Indian Rupees atau 12 ribu rupiah, saya sudah dapat satu potong ayam ukuran besar. Nasi biryani jadi menu saya setiap hari karena tahan lama dan nggak mudah basi,” ucapnya.
Nasi biryani menjadi penyelamat Rendi kala sahur rupanya hal ini dikarenakan kebanyakan masakan India berbumbu kental. Tak hanya itu, sausnya pun pekat alias gravy.
Kaget Saat Ikut Salat Tarawih dan Witir
Selain karena cuaca dan makanan, pria alumnus SMAN 7 Yogjakarta itu menyebut, pengalaman berkesan lainnya adalah ketika salat witir. Pernah suatu waktu, Rendi mengikuti salat tarawih hingga witir berjemaah. Rendi mengingat, salatnya menyerupai salat subuh.
“Waktu saya tarawih itu nggak ada bilalnya. Terus pas ikut salat witir saya kaget, salatnya mirip salat subuh. Jadi rukuk lalu baca doa seperti kunut, rukuk lalu baca doa lagi dan baru sujud,” katanya.
Pria berkacamata itu mengatakan, dia baru menyadari bahwa sebagian besar muslim di India mengikuti mazhab Hanafi. Sementara, di Indonesia mayoritas mengikuti mazhab Syafii.
“Saya baru ingat kalau mereka ikut Imam Hanafi, ya ternyata begini. Ya nggak papa, sama saja sebenarnya. Cuma kalau di kita nggak pakai itu,” papar Rendi menutup.