Puluhan Siswa dan Guru SMAN 3 Nganjuk Diduga Keracunan Program Makan Bergizi Gratis
Puluhan siswa dan seorang guru di SMAN 3 Nganjuk dilaporkan mengalami dugaan keracunan makanan usai mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu, 2 September 2026. Para korban mendadak mengeluhkan mual, pusing, hingga muntah beberapa jam setelah menyantap hidangan tersebut.
Berdasarkan data awal, jumlah korban diperkirakan mencapai 49 hingga 53 orang. Korban terdiri dari siswa kelas 10, kelas 11, serta seorang guru perempuan.
Kronologi dan Gejala Korban
Makanan program MBG tersebut dilaporkan tiba di lingkungan SMAN 3 Nganjuk sekitar pukul 10.00 WIB, lalu dibagikan kepada para siswa untuk dikonsumsi pada jam istirahat.
Namun, memasuki pukul 14.00 WIB, sejumah siswa dan guru mulai merasakan gejala klinis berupa mual, pusing, dan muntah secara bersamaan. Diduga kuat, onset gejala timbul beberapa jam setelah proses konsumsi.
Penanganan Medis di Berbagai Faskes
Guna mendapat perawatan darurat, para korban langsung dilarikan ke sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) terdekat di Kabupaten Nganjuk:
Puskesmas Begadung: 20 orang
RSUD Nganjuk: 17 orang
RS Bhayangkara Nganjuk: 12 orang
RSI Aisyiyah Nganjuk: Beberapa korban rujukan (jumlah pasti masih dalam konfirmasi)
Menu Pangan dan Status Produsen MBG
Menu MBG yang dikonsumsi para korban pada hari itu terdiri dari nasi goreng, ayam suwir, tahu bulat, potongan buah semangka, dan acar.
Penyedia makanan tersebut terkonfirmasi diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Begadung, Kabupaten Nganjuk. Pihak otoritas mencatat bahwa SPPG Begadung sebenarnya telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Saat ini, pihak berwenang masih mengonfirmasi apakah ada sekolah atau penerima manfaat lain yang turut menerima distribusi makanan dari SPPG yang sama pada hari tersebut.
Pengujian Sampel dan Investigasi Dinas Kesehatan
Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk bersama instansi terkait telah turun ke lapangan untuk melakukan penelusuran epidemiologi. Sampel makanan telah diambil dan dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya guna uji laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium ini bertujuan untuk memastikan jenis kontaminan atau parameter spesifik yang menjadi penyebab utama timbulnya gejala keracunan massal tersebut.
Selain itu, Wakil Bupati Nganjuk bersama Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) MBG Kabupaten Nganjuk telah meninjau langsung kondisi para korban di faskes serta mengawal proses penanganan. Investigasi menyeluruh kini berfokus pada rantai produksi pangan—mulai dari waktu pengolahan di dapur SPPG, tingkat higiene dan sanitasi, pola distribusi, hingga rentang waktu konsumsi para siswa.