Program Langit Biru Kawasan JTB: Dari Penghijauan, Hutan Sekolah hingga Bank Sampah
Program Langit Biru Jambaran-Tiung Biru (JTB) resmi digelar di salah satu hotel di Bojonegoro pada Kamis, 11 September 2025. Program ini menjadi wujud kolaborasi PT Pertamina EP Cepu Zona 12, Pemkab Bojonegoro, Perhutani, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), sekolah-sekolah, hingga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam mendorong pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Dengan tema besar penghijauan, pengelolaan sampah, serta pembangunan hutan sekolah, program ini diharapkan mampu menjadi model pengurangan jejak emisi karbon di kawasan tambang JTB.
Empat Tahun Program Penghijauan
Perwakilan IdfoS, Rizal, memaparkan bahwa program penghijauan telah berjalan sejak 2022.
Tahun 2022 ditanam 202 pohon, hanya 82 tumbuh.
Tahun 2023 ditanam 3.810 pohon, hanya 947 tumbuh.
Tahun 2024 ditanam 5.300 pohon, hanya 2.100 tumbuh.
Tahun 2025 ditanam 4.222 pohon, masih dalam evaluasi pertumbuhan.
Lokasi penghijauan berada di Petak 52 Perhutani Bojonegoro, dengan luas 13,51 hektare. Jenis tanaman bervariasi, termasuk tanaman produktif. “Menanam itu mudah, merawatnya yang susah,” ujar Rizal.
Ruang Hijau dan Hutan Sekolah
Perwakilan LSM Ademos, Arif, menjelaskan program pengembangan ruang hijau di desa sekitar tambang JTB, meliputi Desa Dolokgede, Bandungrejo, dan Pelem di Kecamatan Ngasem. Vegetasi dilakukan dengan penanaman 12.000 tanaman seperti rumput gajah, bambu, hingga tanaman lokal lainnya.
Selain itu, Ademos juga menginisiasi:
Pembuatan biopori di 80 titik sekolah. Rintisan hutan sekolah di beberapa SMP di Ngasem dan Purwosari. Pengembangan konsep ruang belajar terbuka di lingkungan sekolah. “Kami berharap sekolah punya ruang belajar di alam terbuka,” ungkap Arif.
Bank Sampah Jadi Energi Baru
Program juga menampilkan pengalaman sukses Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSMKH) yang digagas Imam Mukhlas dari Desa Sendangharjo, Ngasem. Sejak 2016, bank sampah ini membawa tagline ‘Nabung Sampah untuk Bayar Pajak’, di mana warga bisa membayar Pajak Bumi Bangunan (PBB) melalui hasil tabungan sampah.
Sampah yang terkumpul dipilah menjadi:
Plastik → diolah jadi Bahan Bakar Alternatif (BBA).
Organik → jadi pakan maggot BSF dan lele.
Sampah residu → dijual ke pengepul rongsok.
“Awalnya niatnya hanya ingin bermanfaat. Sampah ternyata bisa jadi uang, bahkan energi,” jelas Imam.
Kini, bank sampah ini juga mulai mengembangkan wisata greenhouse anggur, menggabungkan konsep edukasi lingkungan dan ekonomi kreatif.
Sinergi dan Tantangan
Diskusi dipandu oleh Edi Arto, Community Relations & CSR Field Officer Pertamina EP Cepu Zona 12. Beberapa isu penting turut disoroti, seperti persoalan perawatan pohon, penebangan di pinggir jalan, serta tantangan pengembangan bank sampah yang masih sering berjalan di tempat. “Semua masukan akan kami tampung untuk penyempurnaan program,” pungkas Edi.