Polisi Periksa Pengelola SPPG, Buntut Siwa SMA Negeri 2 Lamongan Diduga Keracunan Menu MBG
Satreskrim Polres Lamongan mulai beraksi terkait kasus keracunan siswa SMA Negeri 2 Lamongan yang diduga akibat makan bergizi gratis (MBG).
Setidaknya, mengawalinya dengan memeriksa pemeriksaan pihak pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jetis, Kecamatan Lamongan.
Kasi Humas Polres Lamongan, Ipda M. Hamzaid, mengatakan, ketika muncul kasus dugaan keracunan MBG, Polres Lamongan langsung menurunkan tim untuk melakukan pengecekan dan pendataan keadaan siswa yang di duga keracunan
"Kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan pihak terkait, dan hari ini dilakukan pemeriksaan terhadap pengelola SPPG, "katanya, Jumat 19 September 2025.
Hanya, Kasi Humas Ipda Hamzaid belum bisa memberikan keterangan panjang lebar soal materi pemeriksaan. Ia hanya memastikan keterangan yang diminta tidak lepas dari kegiatan dan kronologis proses penyediaan MBG.
Adapun soal kepastian dugaan materi penyebab keracunan masih masih diselidiki. Yakni, menunggu hasil uji laboratorium dari sampel MBG.
"Untuk ini, kami sudah melakukan koordinasi dengan Dinkes Lamongan untuk mengambil sampel makanan dan sudah dilakukan uji ke Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK), "terangnya.
Sebelum pemeriksaan, Pengelola SPPG Jetis, Frangky Irawan, mengatakan, begitu begitu muncul kabar adanya siswa SMA Negeri 2 Lamongan keracunan, pihaknya mengambil langkah cepat dengan mensterilkan dapur. Sekaligus mencari tahu seperti apa sumber penyebabnya.
Selama proses sterilisasi, Frangky, memutuskan untuk memberhentikan sementara aktivitas di dapur MBG yang dikelolanya.
"Saya sudah bersurat ke pusat, untuk pemberhentian sementara, untuk mensterilkan dapur. Dan uji lab juga sudah saya luncurkan ke sana. Jadi biar sama-sama terang," ujarnya.
Menurut Frangky, makanan MBG bukan satu-satunya penyebab terjadinya keracunan yang dialami siswa SMA Negeri 2 Lamongan. Tetapi, bisa disebabkan faktor lain.
"Secara logika, kalau keracunan karena MBG, kan tidak mungkin cuma 12 orang.Sedang siswanya sebanyak 1.200 an, "tandasnya.
Karena itu Frangky berharap pengkajian kasus ini sedapatnya dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari kondisi siswa, makanan MBG serta pengujian terhadap makanan yang di konsumsi siswa selain MBG.
"Kita juga ndak tahu. Kalau untuk masak dan yang lain-lain, kita sudah sesuai prosedur satu sama lain," imbuhnya.
Namun Frangky menegaskan, jika memang penyebab utama keracunan berasal dari makanan MBG dari pihaknya, ia siap dievaluasi dan menerima segala konsekuensinya.
"Kalau kita memang salah, ya siap dievaluasi. Tapi kalau dari pihak luar yang salah, ya kita jangan ikut disalahkan," pungkasnya.