PK PMII Unisla Lamongan Suarakan Keluhan Masyarakat Terdampak Dugaan Pertalite Perusak Motor
Sejumlah mahasiswa Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) Univwrsitas Islam Lamongan (Unisla) berunjukrasa soal dugaan pertalite bercampur ethanol, Senin 3 Nopember 2025, sore.
Aksi digelar di perempatan jalan dekat gedung DPRD Lamongan. Mereka menuntut kepada pemerintah dan Pertamina bertanggungjawab terkait dampak peredaran dugaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU tersebut.
Yakni, sepeda motor warga kebanyakan mengalami kerusakan setelah mengisi pertalite di SPBU. Mesin brebet dan ujung-ujungnya mogok.
Aksi mahasiswa PK PMII Unisla dilakukan dengan membentang sejumlah poster dan orasi.
Koordinator aksi, Galang Dimasqibin, menyampaikan, jika benar kebijakan mencampur etanol ke dalam pertalite, itu bukan solusi. Ternyata justru merugikan masyarakat.
“Kami menolak kebijakan itu karena merugikan rakyat. Buktinya, menyebabkan kerusakan mesin kendaraan,” teriaknya.
Mahasiswa PK PMII Unisla ini juga mendesak pemerintah untuk bersikap ilmiah dan berpihak kepada masyarakat kecil. Karena, penggunaan etanol dinilai tidak cocok diterapkan di Indonesia.
Pastinya, ada lima tuntutan yang disuarakan pada aksi yang digelar mulai pukul 15.00 WIB tersebut.
Di antaranya, mewujudkan kebijakan yang ilmiah dan berpihak pada rakyat. Menolak campuran etanol dalam pertalite. Menutup sementara distribusi pertalite di SPBU hingga kondisi normal.
Terakhir, Mlmenurunkan harga pertamax sebagai bentuk kompensasi bagi warga Lamongan dan Menuntut SPBU mengganti kerugian masyarakat maksimal dalam waktu 1x24 jam.
Aksi tersebut direspon Ketua DPRD Lamongan, Mukhammad Freddy Wahyudi. Ia mendukung penuh aspirasi mahasiswa tersebut.
“Kami sepakat dengan tuntutan rekan-rekan PMII. DPRD Lamongan akan menindaklanjuti dan bertanggung jawab atas aspirasi ini,” janji Freddy.
Usai ditemui Ketua DPRD Fredy dan terjadi dialog, tidak lama mahasiswa pengunjukrasa membubarkan diri.