PG Djatiroto Jejak Gula Manis dari Masa Kolonial
Salah satu pabrik tertua di Indonesia adalah Pabrik Gula Djatiroto. Pabrik yang berlokasi di Jalan Ranu Pakis No.1, Kaliboto Lor, Kecamatan Jatiroto, masih berdiri kokoh dan beroperasi hingga sekarang. Keberadaan PG Djatiroto bukan sekadar saksi bisu sejarah, tetapi juga pusat aktivitas ekonomi yang membentuk kehidupan masyarakat sekitar.
Usia pabrik ini sudah satu abad lebih. Adalah Handelsvereeniging Amsterdam (HVA), sebuah perusahaan swasta asal Belanda, yang sejak 1884 mencari lokasi strategis untuk ekspor gula ke pasar Eropa. Menurut Roger G. Knight dalam Commodities and Colonialism, The Story of Big Sugar in Indonesia 1880β1942 (2013), pencarian lokasi itu berakhir pada 1901 di Desa Ranupakis, Klakah.
Di situlah cikal-bakal pabrik yang kala itu bernama PG Ranupakis mulai dibangun. Kapasitas awal yang hanya 1.200 ton tebu per hari terus meningkat mengikuti tingginya permintaan gula dari Eropa; pada 1912 kapasitas melonjak menjadi 2.400 TCD. Sejak itu pula namanya berubah menjadi Pabrik Gula Jatiroto.
PG Djatiroto berkembang pesat pasca-1910. Salah satu tokoh HVA bernama Reineke adalah menjadi sosok yang banyak berjasa dalam perencanaan pabrik. Berdasarkan catatan Knight (2013), Reineke bahkan menghabiskan masa mudanya di Eropa sebelum kembali ke Hindia Belanda dan menjabat sebagai kepala perwakilan HVA di Surabaya. Ia bernegosiasi dengan pemerintah kolonial untuk mendapatkan lahan dan akses air dari Sungai Jatiroto, yang kemudian menjadi urat nadi produksi gula.
Perkebunan tebu di kawasan ini awalnya seluas 5.000 hektar. Tidak berapa lama kemudian berkembang hingga 7.000 hektar pada 1923. Pengangkutan tebu dari areal perkebunan yang luas, HVA membangun jaringan rel sepanjang 270 kilometer. Bahkan ada 40 lokomotif dan 2.000 gerbong. Tak hanya itu, modernitas pabrik juga tercermin dari adanya rumah sakit dengan tenaga medis Eropa. Sekitar 40β50 dokter bertugas di sana yang sebagian biayanya ditanggung Pemerintah Hindia Belanda. Investasi besar juga digelontorkan HVA. Pada 1910 saja, sekitar 10 juta gulden dikeluarkan untuk operasional PG Djatiroto.
Slametan Giling
Di bawah kepemimpinan F.J. Wirix sebagai administrator awal, PG Djatiroto berkembang dan menjadi pusat ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Dari sinilah tradisi βSlametan Gilingβ atau βPesta Gilingβ muncul. Tadrisi ritual adalah ungkapan syukur menjelang musim giling, sekaligus harapan agar produksi berjalan lancar tanpa kecelakaan kerja. Pesta giling akhirnya menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Djatiroto dan memperkuat solidaritas antara warga dan pekerja pabrik.
Masa kelam sempat terjadi ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Jepang mengganti fungsi banyak pabrik gula menjadi pabrik senjata. Ketika dianggap surplus, Gunseikan Jepang melarang penanaman tebu melalui Osamu Seirei No. 31/1944. PG Djatiroto pun mengalami perubahan fungsi dan penurunan produksi drastis pada periode ini.
Tonggak sejarah penting terjadi pada Desember 1957 saat pemerintah Indonesia mengambil alih perusahaan-perusahaan Belanda, termasuk PG Djatiroto. Harnoko dkk. (2018) mencatat bahwa proses nasionalisasi ini dilakukan sebagai upaya memperbaiki pengelolaan perkebunan dan meningkatkan kontribusi ekonomi bagi negara.
Dalam peristiwa ini, Belanda diwakili oleh Grit Van Litje dan Schipolt, sedangkan Indonesia diwakili oleh tokoh nasional seperti Soekarno, Soekandar, dan Mochtar Effendi. Saat ini PG Djatiroto lebih dari sekedar pabrik. PG Djatiroti adalah monumen hidup yang menyimpan lapisan sejarah kolonialisme, modernisasi industri, perjuangan nasionalisasi, hingga dinamika ekonomi masyarakat lokal. PG Djatiroto tetap berdiri dan menjaga denyut industri gula Indonesia.
Penulis: Nurul Huda
Advertisement