Pentingnya IPAL, Pakar Ingatkan Bahaya Limbah Cair bagi Lingkungan dan Manusia
Keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dinilai menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga kualitas lingkungan sekaligus melindungi kesehatan masyarakat.
Namun, hingga saat ini masih banyak pelaku usaha yang belum menerapkan sistem pengolahan limbah secara optimal.
Pakar IPAL dan limbah B3 medis di Sidoarjo, dr. Andre Yulius, mengatakan, setiap pelaku usaha dengan penggunaan debit air yang cukup besar pada dasarnya wajib memiliki IPAL.
Kewajiban tersebut telah diatur dalam regulasi pemerintah guna mencegah pencemaran lingkungan akibat limbah cair.
βIPAL merupakan instalasi yang berfungsi mengolah air limbah sebelum dibuang ke lingkungan. Sayangnya, masih banyak pelaku usaha yang menganggap keberadaan IPAL hanya sebagai syarat administratif atau simbolis,β ujarnya, saat ditemui Ngopibareng.id di klinik AMC Sidoarjo, Rabu 10 Juni 2026.
Menurut Andre, tujuan utama IPAL adalah mengurangi risiko pencemaran air dengan memastikan limbah yang dibuang telah melalui proses pengolahan, Sehingga, kandungan pencemarannya berada pada ambang batas yang dapat diterima lingkungan.
Ia menjelaskan, hampir seluruh sektor usaha menghasilkan limbah cair yang perlu diolah. Mulai dari restoran, hotel, rumah sakit, klinik, hingga usaha laundry.
Air bekas kegiatan operasional umumnya telah tercampur minyak, deterjen, sabun, bahan kimia, maupun zat organik lainnya yang berpotensi mencemari lingkungan.
βAir limbah harus dipisahkan antara zat padat dan zat cair, kemudian dilakukan proses sterilisasi serta penguraian bakteri penyebab bau dan pencemaran. Tujuannya agar air yang keluar dari sistem pengolahan menjadi jauh lebih aman bagi lingkungan,β jelasnya.
Selain limbah cair, sisa endapan maupun sampah hasil pengolahan juga harus ditangani dengan benar. Baik melalui penimbunan yang sesuai ketentuan maupun dimanfaatkan kembali menjadi produk yang lebih bernilai seperti pupuk.
Ancaman bagi Ekosistem dan Kesehatan
Andre menegaskan, pembuangan limbah secara langsung ke sungai, saluran air, maupun lingkungan terbuka dapat menimbulkan dampak yang luas.
Dari sisi lingkungan, limbah yang tidak diolah berpotensi menimbulkan bau menyengat, meningkatkan pertumbuhan bakteri pembusuk, serta merusak keseimbangan ekosistem perairan.
Ikan, tumbuhan air, kepiting, cacing, dan organisme lain dapat terpapar zat berbahaya hingga mengalami kematian.
βKetika organisme yang telah terkontaminasi itu kemudian dikonsumsi manusia, risikonya bisa menyebabkan keracunan, gangguan kesehatan, bahkan dalam kondisi tertentu dapat berakibat fatal,β katanya.
Selain itu, limbah cair yang mengandung deterjen, minyak, maupun bahan kimia lainnya juga dapat menyebabkan kualitas air sungai menurun, membuat air menjadi keruh, berbau, serta mengganggu pertumbuhan vegetasi di sekitar lokasi pembuangan.
Kesadaran Masyarakat Masih Rendah
Meski manfaat IPAL cukup besar, Andre menilai tingkat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengolahan limbah masih relatif rendah.
Banyak pihak yang menganggap IPAL hanya diperlukan oleh perusahaan besar, padahal usaha skala menengah hingga kecil juga menghasilkan limbah yang berpotensi mencemari lingkungan.
Ia mencontohkan usaha laundry, kafe, rumah makan, kos-kosan, hingga warung kopi yang setiap hari menghasilkan air limbah dari aktivitas mencuci maupun kegiatan operasional lainnya.
βKalau berbicara dari sisi lingkungan, semua usaha yang menghasilkan limbah cair sebenarnya perlu memperhatikan sistem pengolahan limbah. Hanya saja, biaya pembangunan dan operasional IPAL masih menjadi tantangan bagi banyak pelaku usaha kecil,β ujarnya.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang lebih adaptif dengan mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat tanpa mengabaikan aspek perlindungan lingkungan.
Bagaimana Cara Kerja IPAL?
Andre menjelaskan, prinsip dasar IPAL adalah mengubah air limbah yang masuk ke sistem menjadi air yang kualitasnya jauh lebih baik sebelum dilepas ke lingkungan.
Proses tersebut dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari pemisahan endapan, pengolahan biologis menggunakan bakteri pengurai, penambahan oksigen, hingga penyaringan menggunakan media seperti sarang tawon, pasir silika, zeolit, dan karbon aktif.
Selanjutnya, air akan melewati bak klarifikasi dan filtrasi sebelum dilakukan pengujian baku mutu. Hasil uji tersebut menjadi indikator apakah air hasil pengolahan sudah memenuhi standar lingkungan atau masih memerlukan perbaikan pada sistem pengolahan.
βTargetnya bukan menjadi air minum, tetapi menjadi air yang aman untuk lingkungan dan dapat dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan tertentu seperti kolam, pertanian, atau kebutuhan non konsumsi lainnya,β terang Andre.
Perawatan Harus Dilakukan Berkala
Selain instalasi yang memadai, Andre menekankan pentingnya perawatan rutin agar kinerja IPAL tetap optimal. Ia menyarankan pemeriksaan dan pemeliharaan sistem dilakukan setiap tiga bulan sekali.
Sementara itu, pengujian kualitas air hasil pengolahan idealnya dilakukan setiap bulan untuk memastikan seluruh parameter masih memenuhi baku mutu yang ditetapkan.
βIPAL bukan hanya dibangun lalu dibiarkan. Harus ada perawatan, pembersihan, dan evaluasi berkala agar fungsi pengolahan limbah tetap berjalan maksimal,β tegasnya.
Melalui pengelolaan limbah yang baik, Andre berharap keseimbangan lingkungan dapat terjaga sekaligus mendukung aktivitas usaha yang berkelanjutan tanpa menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat sekitar.
Advertisement