Pemugaran Gedung Grahadi Sayap Barat Dimulai, Target Tuntas Oktober 2026
Pemugaran Gedung Negara Grahadi sisi sayap Barat yang terbakar pada aksi demonstrasi pada Agustus 2025 lalu mulai dilakukan. Hal ini ditandai dengan pelatakan batu pertama oleh Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, Rabu 1 Maret 2026.
Pemugaran ini merupakan proyek pelestarian cagar budaya mengingat gedung yang terbakar masuk kategori cagar budaya peninggalan masa penjajahan Belanda.
“Ini tanggung jawab kita untuk menjaga dan melestarikan cagar budaya. Sehingga, kita berharap ke depan tidak ada lagi hal-hal yang kemudian menjadikan sasaran siapapun, akhirnya yang terdampak ini adalah gedung-gedung yang harus kita lestarikan, cagar budaya di antaranya,” ujar Khofifah.
Karena itu, Pemprov Jatim telah berkoordinasi dengan tim cagar budaya untuk memastikan setiap detail bangunan mirip dengan aslinya untuk mempertahankan nilai historis dari cagar budaya tersebut.
Tak hanya itu, seluruh bahan bangunan diupayakan mendekati bahan asli mulai dari kapur khusus pengganti semen seperti konstruksi awal yang dibeli dari Jerman. Karena itu, pemugara ini tidak sederhana dan mendapat pendampingan dari tim cagar budaya.
“Kayak tadi itu ada paku-paku, nah ini ternyata pakunya dulu dibikin manual maka tidak sama misalnya. Kemudian, kita butuh kapur dan ternyata kapur ini sesuai dengan kebutuhan pemugaran ini kita harus mendatangkan dari Jerman misalnya dan seterusnya. Betapa identifikasi dan detail proses tadi sudah dijelaskan dan kita mengetahui bahwa pemugaran ini tidak sederhana,” kata mantan Mensos RI itu.
Sementara itu, I Nyoman Gunadi selaku Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPRKPCK) Jatim mengatakan, pekerjaan ini memakan anggaran APBD sebesar Ro12,7 miliar dengan target pengerjaan hingga Oktober 2025 nanti.
Dalam pengerjaan proyek nanti akan dilakukan beberapa tahap. Pertama akan diawali pengerjaan atap karena ada penyesuaian dari awalnya yang tidak ada beton sekarang ada.
“Nah, untuk rangka atapnya kita menjaga struktur dinding tersebut dengan persetujuan dari teman-teman tim cagar budaya, akhirnya kita ganti pakai baja karena jauh lebih ringan daripada kayu,” ujarnya.
Ia memastikan seluruh material sudah siap termasuk material yang bersifat khusus. “Lantainya ini nanti kita marmer yang sesuai dengan jenis yang sudah ada. Kita sudah ready materialnya. Termasuk kayu-kayu. Jadi meskipun ini bersifat khusus, kita waktu perencanaan sudah kita kawal untuk persediaan material. Jadi enggak usah khawatir pemborongnya ini. Prinsipnya, mudah-mudahan sesuai dengan rencana tanggal 25 Oktober bisa selesai kita,” pungkasnya.