Pemadaman Kebakaran Hutan di TWA Kawah Ijen Libatkan Banyak Relawan, Termasuk Tour Guide
Upaya pemadaman kebakaran hutan di kawasan TWA Kawah Ijen terus dilakukan. Berbagai elemen masyarakat turut membantu proses pembakaran sebagai relawan agar api tidak semakin meluas. Termasuk para tour guide yang selama ini bekerja di kawasan TWA Kawah Ijen.
Kebakaran di pegunungan Ijen terpantau sejak Rabu, 2 September 2026. Api pertama kali terlihat di dekat kebuan Pasewaran. Hembusan angin kencang dan banyaknya bahan bakar berupa ranting dan daun kering membuat api cepat menjalar ke Gunung Merapi Ungup-Ungup.
Kebakaran akhirnya sampai di kawasan TWA Kawah Ijen pada Kamis, 3 September 2026. Upaya pemadaman api yang sudah memasuki kawasan Pos 4 jalur pendakian Ijen terus dilakukan. Namun api semakin membesar karena hembusan angin.
Karena api telah memasuki jalur pendakian, BBKSDA Jatim memutuskan menutup kawasan wisata tersebut dari kunjungan wisatawan. Penutupan ini dilakukan demi keselamatan wisatawan.
Berbagai pihak turun tangan mengatasi kebakaran tersebut. Selain petugas pemerintah daerah dan aparat berwenang, para pemandu wisata atau tour guide TWA Kawah Ijen ikut turun membantu memantau kebakaran dan memadamkan api sebagai relawan.
Salah satu guide yang ikut turun adalah Misyono. Pria yang sudah 11 tahun menjadi pemandu wisata di TWA Kawah Ijen ini tergerak untuk ikut turun melakukan upaya pemadaman.
"Saya sudah dua malam menginap di sini," kata dia.
Misyono menyebut, jumlah guide di TWA Kawah Ijen berkisar di angka 200 orang. Mayoritas dari mereka ikut turun tangan memantau perkembangan di lokasi kebakaran. Meksipun, tak banyak dari mereka yang memilih menginap seperti dia.
Para guide akan bergantian dengan petugas lapangan untuk memadamkan api ketika muncul kobaran di jalur yang mudah dijangkau. Persoalannya, kobaran api sering terjadi di area hutan yang nyaris tak mungkin dijangkau dari jalur pendakian. Dalam kondisi ini, para petugas dan relawan memilih bersiaga di titik terdekat dari api untuk mencegah kebakaran meluas.
Upaya pencegahan dilakukan dengan menyemprotkan air dari tangki yang dibawa oleh petugas. Tangki tersebut diangkut menggunakan mobil dobel gardan dari area Pal Tuding. Medan yang sulit membuat mobilitas tangki air tersebut relatif terbatas.
Misyono menambahkan, para relawan dan petugas sebenarnya telah berupaya mengantisipasi kebakaran setiap musim kemarau. Hampir setiap hari, kata dia, beberapa orang guide dijadwalkan untuk membantu petugas berpatroli menilik tempat-tempat berisiko.
"Saat kebakaran di kawasan Kawah Wurung Bondowoso beberapa waktu lalu, teman-teman sudah antisipasi dengan bersiaga di area perbatasan. Tapi ternyata, api yang merembet justru dari arah Pasewaran," ungkapnya.