Pelatih Persik Kediri Curhat: Main Cantik Saja Tak Cukup untuk Menang
Pelatih Persik Kediri, Marcos Reina, mengaku mendapat pengalaman baru selama berkarier di Indonesia. Sepuluh laga yang sudah ia jalani bersama Macan Putih di BRI Super League 2025/26 memberikan warna berbeda dalam perjalanan kepelatihannya.
Pria asal Spanyol berusia 41 tahun itu bukan sosok baru di dunia sepak bola internasional. Sebelum menangani Persik, ia sempat merasakan atmosfer kompetisi di Amerika Serikat, Meksiko, hingga Andorra. Namun menurutnya, atmosfer dan tensi persaingan di Indonesia punya karakter yang unik dan tak bisa disamakan dengan liga lain.
“BRI Super League punya karakter berbeda dengan liga yang pernah saya rasakan. Di sini kompetisi sangat ketat dan sulit. Tapi saya suka dengan kompetisi seperti ini,” ujarnya.
Adaptasi Taktik di Liga yang Super Ketat
Marcos Reina mengakui, perbedaan karakter kompetisi membuatnya harus bekerja ekstra setiap hari. Ia tak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan permainan. Setiap lawan punya gaya bermain berbeda, sehingga strategi harus terus disesuaikan.
Menurutnya, tak ada pertandingan yang benar-benar mudah di BRI Super League. Semua tim punya semangat dan daya juang tinggi. Bahkan tim papan bawah pun bisa menyulitkan siapa saja.
“Setiap pertandingan punya tantangan berbeda. Kami harus bermain bagus untuk menang. Tapi di sisi lain, kami juga harus siap bila kalah,” katanya.
Pernyataan itu menggambarkan betapa kompetitifnya liga musim ini. Tidak ada jaminan kemenangan meski secara kualitas permainan terlihat dominan.
Main Cantik Saja Tak Cukup
Sejak resmi dikontrak Persik pada 4 Desember 2025, Marcos Reina membawa filosofi sepak bola Spanyol ke Stadion Brawijaya. Permainan penguasaan bola yang kuat, rapi, dan agresif dalam menyerang mulai terlihat. Para pemain seperti Ezra Walian dan kawan-kawan tampil lebih berani mengontrol tempo laga.
Namun, pelatih asal Spanyol itu menyadari satu hal penting. Bermain indah saja tidak cukup untuk meraih poin penuh di Indonesia.
Ia mencontohkan saat menghadapi Persis Solo. Dalam laga tersebut, Persik tampil lebih rapi secara taktik. Tetapi dari sisi tenaga dan determinasi, lawan dinilai lebih unggul.
“Di BRI Super League, main bagus dan cantik saja tak cukup. Tiap tim harus punya tenaga dan spirit besar. Itu yang kami alami saat melawan Persis,” tuturnya.
Evaluasi dan Tantangan ke Depan
Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bagi Marcos Reina. Ia menilai keseimbangan antara taktik, fisik, dan mental jadi kunci utama bersaing di papan klasemen. Tanpa daya juang dan kekuatan fisik yang konsisten sepanjang 90 menit, sulit bagi tim untuk mengamankan kemenangan.
Kini, fokus Persik Kediri adalah memperbaiki detail-detail kecil yang bisa menentukan hasil akhir. Marcos Reina pun menegaskan komitmennya untuk terus beradaptasi dengan karakter sepak bola Indonesia.
Dengan kompetisi yang semakin sengit, tantangan Macan Putih jelas tidak ringan. Tapi di situlah justru letak daya tariknya. Bagi Marcos Reina, BRI Super League bukan sekadar liga baru, melainkan ruang belajar yang memperkaya perjalanan kariernya di dunia kepelatihan.