Pariwisata Menjadi Unggulan Investasi Indonesia
Kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia semakin meningkat. Dalam waktu tiga tahun peringkat ease of doing bisnis Indonesia melonjak dari 120 menjadi 72.
Tidak ingin menyia-nyiakan momentum Presiden Joko Widodo kemarin langsung menggelar rapat terbatas guna menyelaraskan semua bidang.
"Ibarat manusia, iklim investasi di Indonesia itu sehat. Kolesterol baik, jantung baik, paru-paru baik, darah tinggi juga tidak ada. Namun, tetap saja tidak bisa berlari cepat. Ini ada sesuatu yang salah dan harus segera di selesaikan," kata Presiden Jokowi.
Lebih lanjut Presiden mengatakan, Semua bidang harus dilaksanakan searah dalam mengejar peningkatan investasi dan ekspor. Sehingga, bila dalam pelaksanaannya di lapangan terdapat problem, segera bisa ditangani dengan baik. bukan malah mandek tanpa tahu bagaimana memperbaikinya.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengakui, Indonesia masih tertinggal. Meskipun pertumbuhan investasi sudah positif, namun negara-negara pesaing juga ikut tumbuh, bahkan lebih tinggi. Itulah yang harus dicarikan solusinya agar Indonesia tetap bisa bersaing.
Menurut dia, ada dua sektor yang investasinya paling berpeluang tumbuh pesat tahun ini. Yakni, pariwisata dan e-commerce. Pariwisata menjadi unggulan karena mayoritas berada di sektor jasa.
Pariwisata merupakan komoditas yang paling berkelanjutan dan menyentuh hingga ke level bawah masyarakat. Setiap tahun, performa pariwisata Indonesia menanjak di saat beberapa komoditas lain, seperti minyak, gas, batu bara, serta kelapa sawit terus merosot.
’’Hasilnya cepat, dampak lapangan kerjanya cepat, dan pengahasilannya cepat. Devisanya jalan,’’ kata Lembong.
Tidak bisa dipungkiri, dalam kurun waktu tiga tahun pariwisata telah menjelma menjadi kekuatan ekonomi baru. Hal ini tidak lepas dari peran Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. Menpar Arief Yahya terus mendorong pariwisata Indonesia menjadi lebih cantik dan menarik, from nothing to something. Walhasil, destinasi pariwisata Indonesia menjadi magnet bagi para wisatawan mancanegara.
Melalui branding Wonderful Indonesia, peringkat pariwisata Indonesia di dunia berada di posisi ke-50 pada 2015. Bahkan, berdasarkan laporan resmi World Economic Forum, Indonesia berhasil melejit delapan peringkat hingga ke peringkat 42 pada 6 April 2017. Sebelumnya, di peringkat ke-70 dari 141 negara pada 2013.
“Target saya, Indonesia akan mampu mencapai ranking ke-20 sebelum 2019 dan bertekad pariwisata akan menjadi penghasil devisa negara terbesar sekaligus menjadi destinasi pariwisata terbaik di tingkat regional serta global,” ungkap Arief Yahya.
Sektor pariwisata diproyeksikan mampu menyumbang produk domestik bruto sebesar 15%. Sebesar Rp 280 triliun untuk devisa negara. Sebesar 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara.
Sebanyak 275 juta perjalanan wisatawan nusantara dan menyerap 13 juta tenaga kerja pada 2019. Lebih jauh, sektor pariwisata diyakini mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang lebih tersebar di seluruh negeri ini.
"Pariwisata akan mampu memutus rantai kemiskinan, pengangguran, juga kesenjangan dengan cepat dan tepat. Saya optimis pariwisata menjadi core economy negara ini ke depan," kata Menpar Arief.(*)