Pakar Gizi IPB Ajak Masyarakat Perbanyak Konsumsi Tahu Tempe, Murah Tapi Kaya Protein
Guru Besar Pakar Gizi Mesyarakat dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Ali Khomsan, mengajak masyarakat untuk memperbanyak konsumsi tahu dan tempe. Meskipun dua jenis makanan tradisional ini bentuknya sederhana dan harganya murah, tetapi kandungan protein yang dibutuhkan tubuh manusia cukup tinnggi. Karena itu, dia menyayangkan orang yang menganggap remeh makanan asli Indonesia tersebut.
"Kalau ada orang yang mentertawakan ketika tahu tempe menjadi menu tambahan pada program makan bergizi gratis (MBG), perlu belajar tentang ilmu gizi dan makanan. Mereka hanya melihat dari segi harganya yang murah tidak memperhitungkan makanan itu bermanfaat untuk kesahatan atau tidak," kata Ali Khomsan mengupas manfaat tempe dan tahu bagi masyarakat sebagai sumber protein penopang gizi anak Indonesia di Jakarta, Jumat.14 Novemver 2025
Konsumsi protein yang berasal dari hewani maupun nabati, menjadi penting untukmendukung proses tumbuh kembang anak, khususnya dalam upaya menurunkan angka stunting diIndonesia. Ali Khomsan mengungkapkan, protein merupakan zat gizi utama yang berperan dalam pembentukan sel dan jaringan tubuh anak.
“Masalah stunting yang masih terjadi pada balita dan anak usia sekolah antara lain disebabkan oleh rendahnya konsumsi protein, terutama yang berasal dari pangan hewani seperti susu, daging, dan ikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, rendahnya tingkat konsumsi pangan hewani di masyarakat menjadi salah satu faktor utama kekurangan asupan protein. Berdasarkan data, konsumsi susu, daging dan ikan di Indonesia masih rendah.
“Padahal kekurangan protein akan berdampak langsung terhadpertumbuhan anak,” ujarnya kepada media.
Namun demikian, Prof. Ali turut menyoroti peran penting dari pangan nabati seperti kacang kedelai, yang juga memiliki kandungan protein tinggi dan telah lama menjadi bagian dari budaya makan masyarakat Indonesia.
“Kedelai yang diolah menjadi tahu dan tempe adalah sumber protein nabati yang digemari masyarakat. Ini keberuntungan bagi kita karena sumber nabati ini harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan protein hewani,” katanya.
Meski demikian, Prof. Ali mengingatkan bahwa kualitas protein hewani masih lebih baik dibandingkan protein nabati. “Tahu dan tempe bagus, tetapi kandungan asam aminonya tidak bisa disamakan dengan protein hewani seperti daging atau susu. Idealnya, keduanya dikonsumsibergantian agar asupan protein tetap seimbang,” pesannya.
Susu kedelai bisa menjadi solusi bagi anak-anak yang memiliki alergi terhadap susu sapi atau intoleransi laktosa.
“Dalam kasus tertentu, susu protein nabati seperti susu kedelai bisa menjadi alternatif yang baik,” ungkapnya.
Ia mengajak masyarakat untuk kembali menghargai kearifan lokal yang telah mengenal tempe sejakabad ke-18. Menurutnya, tempe adalah makanan fermentasi yang bergizi, murah dan relevan untuk masyarakat Indonesia.
“Tradisi konsumsi tempe dan tahu harus dilestarikan sebagai bagian dari pola makan bangsa,” tegasnya.
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) konsumsi kedelai nasional saat ini diperkirakan mencapai sekitar 2,75 juta metrik ton di tahun 2025. Tingginya kebutuhan tersebut salah satunya karena pelaksanaan program MBG.
Sebagian besar kebutuhan kedelai nasional tersebut saat ini belum bisa dipenuhi dari hasil produksi pertanian dalam negeri. Hal ini menunjukkan masih besarnya potensi pengembangan produksi kedelai lokal di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan nasional.