Naiknya Harga Daging Sapi di Lamongan Ternyata Akibat Ketersediaan Sapi Siap Potong Menipis
Naiknya harga daging di sejumlah pasar di Kabupaten Lamongan tidak kunjung turun. Sudah hampir sebulan harga masih tetap berkisar Rp130-140 ribu per kilogram.
Kondisi harga ini sepertinya sulit turun. Mengingat persediaan atau jumlah sapi siap potong di Lamongan sedang menipis.
Menurut Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lamongan, Shofiah Nurhayati, populasi sapi sebelum Idul Adha mencapai sekitar 108 ribu ekor.
Jumlah itu berkurang untuk memenuhi kebutuhan kurban Idul Adha. Tidak hanya kebutuhan domestik di Lamongan, tapi juga banyak terjual ke berbagai daerah luar Lamongan.
Tercatat, sebanyak 5.678 ekor sapi dipotong sebagai hewan kurban saat Idul Adha. Sedangkan sapi asal Lamongan yang terjual ke daerah lain mencapai sekitar 5.000 ekor.
"Akibatnya, stok sapi siap potong di Lamongan menjadi berkurang cukup signifikan," katanya, Jumat 17 Juli 2026.
Adapun persediaan sapi dikatakan menipis, lanjut Shofi, sapaan akrabnya, karena sapi siap potong di Lamongan sekarang ini tinggal sekitar 16.109 ekor.
Sehingga, dari pengurangan sapi siap potong tersebut, sisa dari 108 ribu ekor dinyatakan usia belum siap potong.
Masih berupa sapi muda atau indukan (betina), sedangkan para peternak, juga baru akan mengisi kembali kandangnya.
"Sebenarnya masih sapi. Tapi, banyak yang belum cukup umur untuk dipotong. Adapun disebut langka, adalah sapi jantan dewasa yang siap dipotong," terangnya.
Karena keterbatasan jumlah sapi siap potong ini, masih lanjut Shofi, akhirnya bepengaruh langsung terhadap naiknya harga daging sapi di pasaran Lamongan.
Secara otomatis berlaki hukum pasar Ketika permintaan meningkat, sementara stok sapi potong terbatas, harga dipastikan ikut naik," imbuhnya.
Atas fenomena ini, Dinas Peternakan dan Kesehatan Lamongan tentu tidak tinggal diam. Adapun upaya yang sudah dilakukan adalah mejaga ketersediaan sapi dengan program inseminasi buatan (IB).
Shofi menjelaskan, tahun ini program IB menghasilkan sekitar 8.300 kelahiran pedet atau anakan sapi, nantinya menjadi cadangan populasi sapi di Lamongan.
"Kami terus meningkatkan populasi melalui inseminasi buatan, pendampingan peternak, serta pengawasan kesehatan hewan dan vaksinasi. Sekarang peternak juga mulai berani membeli sapi lagi karena kasus PMK di Lamongan sudah melandai," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, akibat harga daging sapi melambung tinggi. Pedagang daging saoi eceran di pasar-pasar Lamongan memilih tutup. Alasannya, selain sepi pembeli, penghasilan juga tidak memadai.