Mengenal Sejarah Jemaah Aboge Berdasar Pustaka
Saat Idul Fitri atau Idul Adha jemaah Aboge selalu menjadi bahan berita. Pasalnya, jemaah ini terkadang melaksanakan salat Id di waktu yang berbeda dengan pemerintah atau organisasi keagamaan lainnya. Tak heran, karena jemaah Aboge mempunyai perhitungan waktu sendiri untuk menentukan kapan Idul Fitri dan kapan Idul Adha. Berikut sekilas tentang Aboge.
Nama Aboge Ternyata Singkatan
Dalam skripsi mahasiswi IAIN Purwokerto, Aboge disebut singkatan dari "Alip Rebo Wage,". Aboge ini diklaim sebagai hasil akulturasi Islam dengan budaya Jawa. Mereka mengikuti kalender Jawa dalam menentukan Ramadan dan Idul Fitri, yang sering berbeda dengan perhitungan kalender hijriah.
Dalam karya tullis lain juga disebutkan jika masyarakat muslim lain mengacu kepada teks agama baik hisab maupun rukyat, maka masyarakat Aboge mengacu kepada perhitungan dan penanggalan Jawa yang diwariskan turun temurun dari nenek moyangnya. Hingga sekarang, masyarakat Islam Aboge masih tetap menggunakan penanggalan Jawa sebagai acuan dasar untuk menghitung dan menentukan hari-hari besar Islam.
Mengidentifikasi sebagai NU
Sebagai bagian dari umat Islam, sebagian besar masyarakat Aboge juga mengakui dirinya adalah orang NU (Nahdlatul Ulama). Masyarakat Aboge mengakui dirinya sebagai orang NU karena masyarakatnya masih menjalankan budaya dan amaliyah orang NU pada umumnya seperti tahlil, ziarah, muludan, tirakat, suwuk, dan tasawuf.
Meskipun begitu, masyarakatnya juga mengakui dirinya sebagai orang Jawa dengan tetap memegang prinsip-prinsip, ajaran, dan amalan Jawa sebagai peninggalan leluhur yang harus dilestarikan dan dijalankan.
Perhitungan Aboge ini sebenarnya merupakan cara menghitung kalender Jawa yang aslinya biasa saja, tetapi hal tersebut akan menjadi istimewa dan terlihat jelas kegunaannya ketika sudah memasuki bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.
Hal tersebut disebabkan pada bulan tersebut akan terlihat banyaknya tradisi umat Islam yang menggunakan perhitungan Aboge untuk melaksanakannya, mulai dari puasa, salat tarawih, tadarus Al-Quran, zakat fitrah, salat Idul Fitri dan juga salat Idul Adha. Pada bulan Ramadhan, perhitungan Aboge berperan untuk menentukan awal Ramadhan. Begitu juga pada bulan Syawal dan Dzulhijjah hitungan Aboge digunakan untuk menetapkan Hari Raya Idul Fitri dan Idhul Adha.
Adapun ciri khas dari masyarakat Aboge adalah penggunaan kalender Jawa dalam nenentukan hari besar umat Islam. Aboge dipercaya berasal dari ajaran Raden Sayid Kuning dan tetap menjadi bagian penting dalam menggambarkan keunikan penyebaran Islam di Jawa.
Cikal Bakal Aboge
Bermula dari abad ke-14 Masehi, wilayah Desa Onje Kabupaten Purbalingga masih berbentuk hutan dan belum ditinggali oleh manusia. Permukiman mulai dibangun ketika seorang ulama yang bernama Syekh Syamsudin datang ke wilayah tersebut.
Syamsudin merupakan utusan dari negeri Arab yang datang ke Pulau Jawa untuk membantu menghentikan penyebaran wabah penyakit. Dalam perjalanannya, ia singgah di hutan yang nantinya menjadi Desa Onje. Ia beristirahat untuk salat di atas sebuah batu. Ia kemudian mulai melakukan pembangunan masjid di tempat salatnya. Masjid yang ia bangun masih berupa bangunan dasar.
Pembangunan Masjid Raden Sayyid Kuning diadakan pada masa kekuasaan Kesultanan Demak. Setelah pembangunan masjid selesai, Raden Sayyid Kuning menjadi imam masjid yang pertama di desa tersebut.
Hingga kini, Masjid Raden Sayyid Kuning adalah masjid yang berada di Desa Onje, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa masjid ini sebagai salah satu cagar budaya Indonesia. Penetapannya melalui Surat Keputusan Nomor 432/226 tahun 2018 yang diterbitkan tanggal 7 Juni 2018. Nomor registrasinya ialah CB.1570.
Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua yang digunakan untuk penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Pada masa pembangunannya, wilayah sekitarnya dikelilingi oleh hutan yang ditumbuhi pakis. Karenanya tiang Masjid Raden Sayyid dibuat dari 4 batang pohon pakis. Bagian atapnya terbuat dari ijuk yang sebelum diberi nama Masjid Raden Sayyid Kuning, nama masjid ini adalah Masjid Onje.
Ciri khas Islam Aboge
1. Menggunakan kalender Alif Rebo Wage untuk menentukan hari-hari penting, seperti Idul Fitri dan Idul Adha.
2. Memanfaatkan sistem penanggalan Jawa Islam.
3. Memanfaatkan hisab rukyah kejawen.
Advertisement