Longsor di Cisarua Bandung Barat, 19 Prajurit Marinir Masih Dicari
Bencana longsor melanda kawasan Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026 sekitar pukul 03.00 WIB itu mengakibatkan puluhan prajurit Marinir tertimbun material longsoran.
Hingga Selasa, 28 Januari 2026, tim gabungan baru berhasil menemukan empat prajurit dalam kondisi meninggal dunia. Sementara itu, sebanyak 19 anggota Korps Marinir lainnya masih dalam proses pencarian.
Penjelasan resmi terkait peristiwa tersebut disampaikan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali, pada Selasa, 27 Januari 2026. Ia menjelaskan bahwa para prajurit yang menjadi korban merupakan anggota Korps Marinir dari Batalyon Infanteri 9/Bala Jala Yudha Perkasa, Brigif 4 Marinir/BS.
Menurut KSAL, para prajurit tersebut tengah melaksanakan latihan rutin sebagai bagian dari persiapan penugasan strategis di wilayah perbatasan Indonesia–Papua Nugini. Namun nahas, kawasan latihan diguyur hujan deras selama dua hari berturut-turut hingga memicu longsor besar yang menimbun area tersebut.
“Latihan ini memang bagian dari persiapan penugasan penting. Namun kondisi cuaca ekstrem membuat tanah menjadi labil dan akhirnya terjadi longsor,” ujar Muhammad Ali.
Saat ini, TNI Angkatan Laut bersama tim gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri, serta relawan terus melakukan operasi pencarian secara intensif. Proses evakuasi dilakukan dengan bantuan drone, alat thermal, dan anjing pelacak, mengingat alat berat belum sepenuhnya bisa menjangkau lokasi.
“Alat berat memang belum bisa masuk karena cuaca dan akses jalan yang sempit. Tapi pencarian tetap kita lanjutkan dengan teknologi drone, thermal, dan anjing pelacak,” kata KSAL.
Seluruh jenazah yang berhasil ditemukan selanjutnya diserahkan kepada Tim DVI Polda Jawa Barat untuk proses identifikasi.
Tak hanya menimpa prajurit Marinir, longsor tersebut juga berdampak pada permukiman warga. Kepala Desa Pasirlangu, Nur Awaludin Lubis, menyebut sedikitnya sekitar 30 rumah warga dilaporkan tertimbun material longsor.
“Kejadiannya sekitar jam tiga pagi. Pusat longsor di RT 05 RW 11. Dua hari sebelumnya memang hujan terus mengguyur wilayah ini,” ujarnya.
Hingga kini, pendataan korban dari kalangan warga masih terus dilakukan. Pemerintah desa bersama tim terkait masih memastikan apakah terdapat korban jiwa dari masyarakat sipil akibat bencana tersebut.