KONI Jatim Dorong Langkah Hukum Pelecehan Pelatih Terhadap Atlet Menembak
Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur mendorong proses penegakan hukum terhadap pelatih olahbl raga Menembak Surabaya yang diduga melakukan pelecehan terhadap atlet di bawah usia. Kasus ini mencuat setelah diviralkan oleh akun Instagram @viralforjusticecom.
Menyambut kabar tersebut, Muhammad Nabil selaku Ketua KONI Jatim mengatakan, tindakan tersebut tidak benar dilakukan oleh seorang pelatih yang harusnya membina atlet untuk berprestasi.
“Tentu harus diberikan sanksi. Sanksinya tergantung, secara organisatoris atau ada proses hukum, kalau bisa diselesaikan baik-baik ya harus diselesaikan,” tegas Nabil.
Meski bukan merupakan pelatih di bawah naungan KONI Jatim, ia menegaskan, apabila sudah terbukti harus ditindak tegas agar tidak memperburuk proses pembinaan atlet.
Menurutnya, seorang pelatih harus menunjukkan teladan yang baik bagi atlet agar bisa meningkatkan prestasi. Para pelatih harus memiliki moral, sikap, hingga disiplin yang baik untuk ditranformasikan kepada atlet.
“Pelatih itu substansinya tidak hanya sekadar tranformasi skill dan kompetensi, tapi hal-hal lain yang harus melekat di situ. Sehingga, yang akan menjadi rujukan oleh atlet ya pelatihnya sendiri dalam hal begitu,” tuturnya.
Nabil menegaskan, dalam proses latihan juga harus dilakukan di tempat-tempat terbuka. Artinya, latihan tidak ada di ruang tertutup secara pribadi untuk menghindari tindakan pelecehan seperti yang terjadi.
Dikabarkan sebelumnya, Kasus pelecehan seksual dialami oleh seorang atlet menembak Kota Surabaya berusia 15 tahun.
Dugaan pelecehan ini diduga dilakukan oleh pelatihnya. Kabar ini memcuat setelah viral melalui akun Instagram @viralforjusticecom yang mengunggah foto tulisan kronologi kejadian ditulis tangan oleh korban.
Dalam tulisan yang diposting, pelaku ini mendapat beberapa perlakuan tidak pantas. Diduga, dari kejadian ini ada indikasi child grooming atau upaya manipulasi untuk membangun kedekatan emosional, rasa percaya dan ketergantungan pada seorang anak.
Dari cerita yang ada, kasus ini bermula dari hukuman fisik yang diberikan sang pelatih kepada korban yang melakukan kesalahan teknis menjatuhkan magasin. Hukuman tersebut diberikan di dalam ruangan latihan dan hukuman susulan di dalam kendaraan.
"Awal mulanya dia memberi aku hukuman fisik karena keseringan jatuhin mag (magasin/alat penyimpanan dan penyuplai amunisi pada senjata api). Pada suatu waktu, dia menagih hukuman fisiknya kepadaku. Lalu saat itu di lapangan hanya ada aku berdua bersama dia karena berhubung teman-teman sudah pulang semua. Aku membantu dia membawa barang ke dalam ruangan. Lalu dia menagihnya di dalam ruangan itu dan di saat itu aku hanya menurut saja. Lalu dia memulainya, menggelitik area pinggangku dan sampai sudah selesai dia tiba-tiba memeluk aku dari belakang dsn mencium rambutku," isi penggalan cerita.