Konflik Global Memanas, Kadin Sidoarjo Dorong Efisiensi dan Diversifikasi Pasar Ekspor
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai memunculkan kekhawatiran bagi dunia usaha di daerah. Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Sidoarjo, Ubaidillah Nurdin, mengingatkan bahwa eskalasi konflik global berpotensi memberikan tekanan terhadap stabilitas ekonomi nasional, termasuk bagi sektor industri di daerah.
Menurutnya, dampak paling cepat terasa biasanya berasal dari lonjakan harga minyak dunia yang berimbas pada biaya produksi, logistik, hingga kebijakan subsidi energi pemerintah.
“Jika harga minyak terus naik, pemerintah akan menghadapi dilema. Di satu sisi subsidi perlu dijaga untuk melindungi daya beli masyarakat, tetapi di sisi lain beban anggaran negara bisa semakin berat,” ujar Ubaidillah, Senin, 9 Maret 2026.
Ia menilai peningkatan beban subsidi dalam jangka panjang berpotensi menekan kondisi fiskal negara serta memicu pelemahan nilai tukar rupiah.
“Jika subsidi terus membengkak, kondisi ini tidak sehat bagi keuangan negara. Nilai tukar rupiah bisa terkoreksi dan pada akhirnya mempengaruhi neraca pembayaran nasional,” tambahnya.
Industri Kertas Sidoarjo Mulai Terdampak
Dampak ketidakpastian global juga mulai dirasakan sektor industri di Kabupaten Sidoarjo, khususnya industri kertas yang memiliki pangsa pasar ekspor cukup besar.
Dua perusahaan kertas berskala internasional yang beroperasi di wilayah tersebut, yakni PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk dan PT Pabrik Kertas Indonesia (Pakerin), diketahui memiliki jaringan ekspor hingga ke kawasan Timur Tengah, termasuk Iran.
Namun, situasi geopolitik saat ini mulai memengaruhi jalur distribusi logistik, terutama melalui transportasi laut.
“Pengiriman barang menjadi lebih lama karena kapal harus memutar rute pelayaran untuk menghindari wilayah yang rawan konflik,” jelas Ubaidillah.
Jika sebelumnya pengiriman ke pasar Eropa dapat ditempuh sekitar 30 hari, kini waktu perjalanan bisa bertambah hingga 45 hari. Kondisi tersebut tentu berdampak pada biaya logistik serta efisiensi rantai pasok. Meski demikian, ia memastikan aktivitas ekspor dari Sidoarjo masih terus berjalan sambil menunggu situasi global kembali stabil.
Strategi Pengusaha Hadapi Ketidakpastian Global
Untuk mengantisipasi dampak yang lebih besar, Kadin Sidoarjo mendorong para pelaku usaha melakukan sejumlah langkah strategis agar bisnis tetap bertahan di tengah dinamika ekonomi global.
Langkah pertama adalah melakukan efisiensi operasional, terutama dalam pengelolaan biaya produksi dan distribusi agar perusahaan tetap kompetitif.
Selain itu, pengusaha juga didorong melakukan diversifikasi pasar ekspor dengan tidak hanya bergantung pada pasar tradisional.
“Kami mendorong pengusaha mulai melirik pasar non-tradisional yang potensinya cukup besar, seperti kawasan Afrika maupun negara-negara di Asia Tenggara seperti Vietnam, Malaysia, dan Timor-Leste,” jelasnya.
Selain pasar luar negeri, penguatan pasar domestik juga menjadi strategi penting. Kadin Sidoarjo bersama Kadin Jawa Timur berencana terus memperluas program misi dagang antardaerah guna meningkatkan penyerapan produk industri lokal di dalam negeri.
“Selama pengusaha terus berinovasi dan membuka peluang baru, pasar sebenarnya masih sangat luas. Yang penting jangan bergantung pada satu wilayah saja,” tegasnya.
Harapan pada Diplomasi Indonesia
Di tengah ketidakpastian global, Ubaidillah juga berharap peran diplomasi Indonesia dapat membantu menjaga stabilitas perdagangan internasional.
Dengan posisi politik luar negeri yang non-blok, Indonesia dinilai memiliki ruang untuk mendorong dialog dan menjaga hubungan ekonomi dengan berbagai negara.
“Diplomasi pemerintah sangat penting untuk membantu menciptakan stabilitas global. Jika situasi dunia lebih kondusif, jalur perdagangan internasional juga akan kembali normal,” pungkasnya.