Kisah Diwisuda Jadi Sarjana di Saat Lansia
Sabtu pekan lalu, saya mengikuti wisuda di Universitas Brawijaya, Malang. Setelah dinyatakan lulus sebagai doktor sosiologi ekonomi dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor, beberapa bulan lalu.
Tadinya saya berpikir ujian terbuka adalah proses kelulusan terakhir. Ternyata belum. Saya disarankan untuk ikut upacara wisuda berbarengan wisuda sarjana lainnya. Ijazah akan diberikan saat wisuda itu.
Ini pengalaman saya mengikuti wisuda yang ketiga. Pertama di UGM setelah lulus sarjana 1993. Setelah sepuluh tahun jadi mahasiswa. Saat itu masih mungkin menjadi mahasiswa abadi. Statusnya nyaris DO (drop out).
Akhirnya lulus juga setelah mendapat desakan keras para dosen. Istri saya ikut βditerorβ para dosen untuk mendesak saya menyelesaikan tugas akhir. Tapi kalau tekanan para dosen itu tak terjadi, peristiwa kali ini tak mungkin terjadi.
Karena tak lulus-lulus, saya memutuskan bekerja dulu. Mahasiswa Jurusan Komunikasi, Fisipol, UGM seangkatan saya umumnya hanya punya cita-cita sama jika lulus. Menjadi wartawan surat kabar paling top atau majalah paling populer di Jakarta.
Ketika sudah setahun lebih bekerja di surat kabar terbesar kedua di Indonesia (saat itu), saya sempat ditanya bos besar saya Dahlan Iskan. ββRif, waktu dulu cita-citamu menjadi wartawan di mana?,ββ tanyanya.
Dengan terus terang saya menjawab, koran terbesar di Indonesia yang terbit dari Jakarta. Salah satu founder Jawa Pos Group yang pernah menjadi Menteri BUMN RI itu hanya tersenyum mendengan jawaban jujur saya.
Setelah tak menjadi wartawan, ternyata tingkat kesibukannya jauh berkurang. Meski statusnya menjadi orang kedua di Kota Surabaya. Masih terlalu banyak waktu kosong. Banyak gabut, istilahnya anak sekarang. Untuk mengisinya, saya ambil kuliah Paska Sarjana di Universitas Airlangga.
Saya mengambil Program Studi Sosiologi di Fisip perguruan tinggi terbesar di Surabaya ini. Tak seperti kuliah S1 yang molor panjang, hanya perlu 1,5 tahun lebih untuk menyelesaikan program ini. Saya menulis tesis tentang Pola Relasi Kepala dan Wakil Kepala Daerah di Era Desentralisasi. Tentang sesuatu yang saya geluti saat itu.
Saya pun diwisuda sebagai sarjana S2 di Auditorium Kampus C Unair. Saya lupa apakah saat wisuda didampingi istri atau tidak. Yang pasti, saya menjadi sarjana S2 di usia sebelum 50 tahun. Usia yang masih layak menjadi mahasiswa.
Saya pikir, itulah masa terakhir saya menjadi mahasiswa. Ternyata, hampir 15 tahun kemudian, saya ββterpaksaββ menjadi mahasiswa kembali. Kali ini di Universitas Brawijaya, Malang. Inilah perguruan tinggi negeri pertama yang menjadi incaran saya setelah lulus Madrasah Aliyah (SMA). Sayang, saat itu, saya gagal lolos ujian masuk.
Menjadi mahasiswa doktoral ini juga karena ββgabutββ dan permintaan Dr Faishal Aminudin, Wakil Dekan Nidang Akademik Fisip UB. Ia menawari saya untuk mengambil S3 di tempatnya untuk menarik mahasiswa lainnya. Jadi semacam marketing ambasador.
Tapi setelah mengikuti kuliah, saya punya pikiran lain. Saya ingin mendedikasikannya untuk menulis tentang transformasi di tempat saya bekerja. Istilahnya ingin mendokumentasikan secara akademik sebuah aksi korporasi. Kebetulan saat itu saya menjadi komisaris independen dari anak perusahaan PTPN Group yang sedang melakukan restrukturisasi dan konsolidasi secara radikal.
Karena itu, sejak kuliah metodologi di semester pertama, tema ini selalu saya jadikan bahan pertanyaan dan diskusi di kelas. Demikian juga, saya menjadikan kasus ini saat harus menggarap tugas menulis proposal penelitian. Meneliti aksi korporasi di BUMN Gula dengan pendekatan sosiologi ekonomi.
Yang pasti, itulah cara ampuh untuk bisa studi program doktoral secara cepat. Hanya perlu 2,5 tahun lebih sedikit untuk menyelesaikan disertasi. Sehingga, saat wisuda Sabtu kemarin, terhitung tepat 3 tahun bisa menyelesaikan studi doktoral.
Saya merasa paling tua diantara hampir 600 wisudawan dan wisudawati. Saya mengenakan toga di usia 61 tahun. Usia yang dipakai kebanyakan orang untuk menikmati masa pensiun. Salah satu wisudawan program doktoral dari Fisip yang bersama saya seorang ASN Muda dari Pemkot Palembang, Dr MGS Muhammad Farouq.
Saya menerima ijazah di panggung yang diberikan Dekan Fisip UB Prof Dr Anang Sujoko. Lalu foto bersama Rektor UB yang ganteng Prof Widodo, PhD. Hampir semua mahasiswa foto bersama sang rektor. Dengan gaya bermacam-macam. Mulai yang serius sampai dengan yang cengengesan.
ββLoh ini dulur yang lama tak berjumpa,ββ celetuk Prof Dr Ir Buhfil Hanani Ar, Ketua Senat Akademik. Ia yang duduk di kursi setelah rektor itu spontan berdiri langsung memeluk saya sambil cipika-cipiki. Mantan rektor ini memang saya mengenalkan dengan dekat. Tapi tidak tahu jika saya mengambil program doktoral di kampusnya.
Yang pasti, belajar memang tak seharusnya mengenal batas usia. Termasuk belajar di bangku sekolah formal. Apalagi bisa mendokumentasikan secara akademik apa yang sedang mereka tekuni atau ikut terlibat proses di dalamnya. Bisa menjadi sumbangan akademik sekaligus praksis.
Dokumentasi akademik yang mengantarkan saya diwisuda kemarin sudah dipublikasikan dalam bentuk buku. Yang terbit bersamaan dengan ujian terbuka, beberapa waktu lalu. Judulnya Perubahan Paradigma dan Ekosistem BUMN Gula; Strategi Baru Menuju Swasembada. Buku hasil penelitian disertasi ini diterbitkan Kompas Penerbit Buku.
Saya membayangkan jika banyak profesional mau menjadikan apa yang dilakukan di korporasinya menjadi obyek studi, pasti akan sangat bermakna bagi dunia akademik. Bisa menjadi jembatan antara dunia teori dan praktis. Memberi frame akademik untuk berbagai aksi bisnis dan korporasi.
Apakah studi sosiologi ekonomi dalam melihat aksi korporasi di PTPN Group ini bermakna untuk masa depan kita? Bisa jadi demikian. Yang pasti, saya sekarang masih ikut mengawal perbaikan kinerja dari hasil aksi korporasi ini dari dalam. Sungguh tampak perbaikan kinerja yang memberi harapan baru dari terciptanya swasembada gula.
Yang juga pasti, kini saya percaya bahwa setiap kegagalan adalah sukses yang tertunda. Saya pernah gagal ketika ingin menjadi mahasiswa S1 di Universitas Brawijaya. Tapi ternyata berhasil menjadi doktor di kampus yang sama. Setelah sebelumnya menjadi mahasiswa UGM dan Unair, dua perguruan tinggi negeri yang menjadi dambaan banyak orang.
Jadi jangan pernah berhenti mimpi dan berusaha terus menggapai!
Advertisement