Ketua Gapasdap: Lintasan Ketapang-Gilimanuk Idealnya Harus Ada 14 Pasang Dermaga
Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk merupakan lintasan tersibuk kedua setelah Merak-Bakaheuni. Dilintasan ini terdapat 56 kapal yang existing. Dari jumlah itu, hanya 28 kapal yang beroperasi atau hanya 50 persen dari jumlah kapal ada. Idealnya, lintasan Ketapang-Gilimanuk memiliki 14 pasang dermaga dengan jumlah kapal tersebut.
Ketua Umum DPD Gapasdap, Khoiri Soetomo, mengatakan, kemacetan di jalur menuju Pelabuhan Ketapang adalah tidak semata-mata masalah konektivitas Jawa Timur ke Bali. Tetapi juga Jawa Timur ke NTB, dan juga ke NTT.
"Itu merupakan extraordinary problem. Jadi tidak bisa diselesaikan dengan cara yang biasa," tegasnya usai mengikuti rapat di Pelabuhan Ketapang, Sabtu, 11 Juli 2026, petang.
Dia menegaskan, lintasan Ketapang-Gilimanuk tidak kekurangan kapal. Sebaliknya, di lintasan ini justru kelebihan jumlah kapal. Di lintasan penghubung Jawa dan Bali ini, total terdapat 56 kapal. Setiap hari hanya 28 kapal yang beroperasi. Sehingga masih ada sisa 28 kapal yang tidak beroperasi setiap harinya.
Artinya, lanjut Khoiri, tidak hanya kendaraan logistik yang harus antre untuk menyeberang. Sebanyak 28 kapal setiap hari menunggu antrean untuk beroperasi. Kapal-kapal ini harus bergiliran untuk melayani penyeberangan.
Menurutnya, Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk ini masih kekurangan infrastruktur yang seharusnya dicukupi oleh pemerintah. Kebutuhan infrastruktur yang harus dicukupi berupa dermaga.
"Dengan jumlah kapal yang 56, seyogianya paling tidak di lintasan Ketapang-Gilimanuk ini setidak-tidaknya, idealnya, harusnya punya 14 pasang dermaga di Ketapang maupun di Gilimanuk," tegasnya.
Jika memang pemerintah belum bisa memenuhi 14 pasang dermaga di Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk, setidaknya setiap tahun harus ada penambahan satu pasang dermaga atau masing-masing satu dermaga di sisi Ketapang dan Gilimanuk.
"Sehingga nanti tidak ada lagi kita berbicara waktu Nataru, waktu Idul Fitri, dan waktu tanggal merah itu terjadi antrian yang panjang," ungkapnya.
Jumlah dermaga juga harus diikuti dengan kapasitas yang mencukupi. Karena itu dirinya menyambut baik rencana ASDP untuk meningkatkan kapasitas dermaga menjadi 50 ton dari sebelumnya yang hanya 35 ton.
"Mudah-mudahan dalam waktu setahun, dua tahun ini, setidak-tidaknya harapan saya, setidaknya ada tiga pasang dermaga yang bisa ditingkatkan kapasitasnya," ujarnya.
Lintasan Ketapang-Gilimanuk ini, sambungnya, kondisi alamnya sangat unik. Selat Bali adalah palung sempit di antara Samudera Indonesia dan Laut Jawa. Perbedaan tekanan pada waktu pasang surut, menimbulkan gelombang dan pusaran arus.
Maka sudah seharusnya Pelabuhan Ketapang harus dilengkapi infrastruktur dermaga yang cukup jumlahnya, cukup kapasitasnya, dan cukup kualitasnya.
"Sebuah dermaga yang ada kolam pelabuhannya, ada breakwater-nya, ada sistem manajemennya, sehingga kapal-kapal kami mampu beroperasi dengan kondisi yang tahan cuaca," ujarnya.