Joglo Gula: Kolaborasi SGN dan UGM dalam Pengembangan Industri Gula
Keunikan sebuah joglo di tengah gedung bertingkat yang menjulang memang menarik perhatian. Apalagi jika bangunan kayu khas Jawa itu berfungsi sebagai pusat studi gula, sebuah komoditas yang kini tengah digenjot untuk mencapai swasembada.
Joglo yang dimaksud terletak di lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), perguruan tinggi negeri yang belakangan ini menjadi sorotan publik setelah polemik ijazah mantan Presiden Joko Widodo. Bangunan tersebut kini dikenal sebagai Sugarcane Learning Center (SLC).
Joglo ini berdiri atas kontribusi PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) dan BRI, dan kini berfungsi sebagai pusat riset untuk berbagai persoalan terkait gula dan sawit, yang menjadi core business PTPN III Holding, induk perusahaan PT SGN yang bergerak di industri gula.
Menariknya, Direktur Utama PT SGN, Mahmudi, adalah alumni Fakultas Pertanian UGM, begitu pula dengan Direktur Utama PTPN III Holding, Mohamad Abdul Ghani, yang menyelesaikan pendidikan S2 di program Pascasarjana hasil kerja sama LPP (Lembaga Pendidikan PTPN Group) dengan UGM. Sedangkan sarjana dan doktor mereka berasal dari IPB.
Dulu, saya pribadi kurang melirik Fakultas Pertanian UGM meskipun kampus ini hanya terpisah jalan dari tempat saya kuliah di FISIPOL UGM. Fakultas Ekonomi memang lebih menarik perhatian karena banyak mahasiswi yang cukup βkeceβ. Namun kini, saya mulai terkesan dengan kampus ini, terutama setelah berdirinya joglo yang kini menjadi pusat riset gula.
βJoglo ini didirikan satu setengah tahun lalu. Pembangunannya dibantu oleh BRI, sementara isinya dibantu oleh PT SGN,β kata Dekan Fakultas Pertanian, Jaka Widada.
Direktur Program Irham menambahkan bahwa gagasan untuk mendirikan SLC sebenarnya sudah ada sejak lama, namun baru terealisasi dan diresmikan pada tahun 2023. Awalnya, Fakultas Pertanian telah banyak bekerja sama dengan PTPN Holding dalam berbagai riset, seminar, dan kegiatan lainnya.
Irham, yang meraih gelar doktor dari University of Tokyo, Jepang, juga menjelaskan bahwa dia memimpin salah satu riset yang menghasilkan metode "ring pit" untuk meningkatkan produktivitas tebu di Jatiroto, Lumajang.
Metode "ring pit" adalah teknik penanaman tebu di dalam lubang bundar yang dapat meningkatkan efisiensi penyerapan pupuk dan air, serta mendukung pertumbuhan batang tebu. Metode ini, yang diadaptasi dari India, terbukti mampu meningkatkan produktivitas tebu hingga 2 hingga 3 kali lipat di sana.
Selain itu, PT SGN juga mengimplementasikan metode BULE (tebu kedelai), yaitu teknik tumpangsari antara tebu dan kedelai.
Pada Jumat, 3 Mei 2025, ditandatangani kesepakatan bersama antara Fakultas Pertanian UGM dan PT SGN di Joglo Gula. Kesepakatan ini mencakup program pendidikan S2 khusus bagi karyawan PT SGN, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang tangguh di sektor gula. Penandatanganan dilakukan oleh Jaka Widada dan Mahmudi, dengan saya turut menjadi saksi, bersama Komisaris SGN, Bagas Angkasa, yang juga alumni Fakultas Pertanian UGM. Tiga dari lima komisaris SGN saat ini adalah alumni UGM, sementara Komisaris Utama SGN, Amri Siregar, adalah alumnus IPB.
Kerja sama ini jelas bukan sekadar kerja sama biasa. Ini merupakan upaya bersama untuk mengembangkan dunia akademik dan industri. Khususnya bagi industri gula yang tengah berjuang untuk mengembalikan produktivitasnya dan mencapai swasembada setelah sempat menjadi negara pengimpor.
Kemerosotan produksi gula selama ini adalah akibat kelalaian kita bersama. Terlalu lama kita terlena dengan kesuburan lahan tanpa mengembangkan inovasi yang signifikan. Terlalu sedikit ruang untuk perubahan, sehingga kita kalah bersaing dengan negara lain.
Industri gula telah terjebak dalam stagnasi, sementara perguruan tinggi terlalu terpaku pada teori dalam menara gading mereka. Kedua pihak seharusnya bisa bersinergi untuk memenuhi kebutuhan bangsa. Inilah yang mendorong pentingnya kolaborasi antara PT SGN dan UGM.
βPT SGN membawa kompleksitas industri, mulai dari kebun-kebun tebu yang terbentang luas hingga lini-lini produksi yang penuh tantangan efisiensi. Fakultas Pertanian UGM, di sisi lain, membawa semangat ilmu pengetahuan dan inovasi yang tak lekang oleh waktu.β
Sinergi antara keduanya diharapkan tidak hanya melahirkan tenaga profesional yang siap bekerja, tetapi juga menghasilkan individu-individu yang berpikir kritis dan peduli terhadap masa depan pertanian. Mereka akan menjadi agen perubahan di tengah industri yang sedang bertransformasi.
Kerja sama ini membuka jalan untuk lahirnya ekosistem pendidikan dan riset yang hidup, di mana pendidikan bukan sekadar teori, tetapi juga mengangkat pengalaman dunia kerja dalam perspektif akademis. Riset tidak berhenti pada jurnal dan tesis, tetapi dapat menjelma menjadi solusi nyata di lapangan. Program pelatihan dan pengembangan juga akan mengubah semangat menjadi keahlian yang aplikatif.
Lebih dari itu, kolaborasi ini menciptakan ruang bagi riset aplikatif yang menyentuh persoalan nyata, seperti pemuliaan varietas tebu unggul, manajemen lahan berkelanjutan, efisiensi penggilingan, dan diversifikasi produk turunan. Semua itu bertujuan tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga untuk menjaga kemandirian pangan bangsa di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.
Bagi Profesor Irham, yang telah lama bergelut di riset dan pengembangan industri gula, kerjasama ini membawa mimpi baru. "Saya membayangkan banyak buku dan jurnal akan lahir dari kerjasama ini. Bukan hanya buku dan jurnal akademis, tetapi yang berbasis data lapangan terkini."
Transformasi BUMN Gula melalui SGN telah membawa harapan baru untuk kebangkitan industri gula Indonesia. Namun, masih banyak yang harus disempurnakan melalui inovasi dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, harapan tersebut bisa terwujud secara berkelanjutan untuk mencapai swasembada gula.
Salah satunya adalah bagaimana mendorong petani tebu bertransformasi dengan teknologi modern, bukan hanya mengikuti cara bertani konvensional, tetapi menjadi petani modern yang mengadopsi teknologi terkini. Dengan demikian, kesejahteraan mereka bisa semakin terjamin.
Karena itu, Joglo Gula di UGM bukan hanya sekadar bangunan unik di tengah gedung bertingkat. Lebih dari itu, ia menjadi simbol interaksi baru antara dunia industri dan perguruan tinggi yang dapat mengubah mindset bangsa kita. Dari bangsa konsumen menjadi bangsa produsen, dari negara yang tergantung menjadi negara yang berdaulat.
Advertisement