Hutan Tua Cagar Alam Ceding, Benteng Terakhir Ekosistem Alami Bondowoso
Di sudut timur Pulau Jawa, tersembunyi bentang alam kecil yang menyimpan kekayaan hayati luar biasa. Cagar Alam Ceding menjadi saksi bisu perjalanan ekosistem sejak era Hindia Belanda.
Kawasan ini ditetapkan sebagai cagar alam melalui Surat Keputusan Gubernur Hindia Belanda Nomor GB 45 Stbld 726 tertanggal 9 Oktober 1920. Meski luasnya hanya sekitar 4,549 hektare, Ceding menjadi sisa terakhir ekosistem hutan alami di Dusun Belawan, Desa Kalianyar, Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso.
Di balik luasnya yang relatif kecil, Ceding menyimpan keanekaragaman flora yang khas. Pepohonan tua menjulang tinggi membentuk kanopi rapat, menciptakan suasana teduh dan lembap di lantai hutan.
Beberapa jenis flora yang tumbuh di kawasan ini antara lain: Gintungan (Biscovia javanica), Gondang (Ficus variegata), Beringin (Ficus benjamina), Suren (Toona sureni), Tritih (Celtis cinnamomea), Nyatoh (Dillenia reticulata) dan Klampok (Eugenia sp.)
Di lapisan bawah, tumbuhan seperti pakis (Athyrium esculentum), ilalang (Imperata cylindrica), berokan (Ageratum caudatum), hingga wedusan (Ageratum conyzoides) menutup permukaan tanah.
Liana poncosudo (Jasminum multiflorum) menjalar di antara batang-batang pohon besar. Sementara itu, berbagai jenis anggrek epifit menempel di batang pohon tua, membentuk simbiosis alami yang telah berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun.
Tak hanya flora, Cagar Alam Ceding juga menjadi habitat penting bagi sejumlah satwa liar. Beberapa satwa yang kerap dijumpai di kawasan ini antara lain: Lutung jawa, Monyet ekor Panjang, Babi hutan dan Sanca kembang
Lutung jawa terlihat melompat di antara dahan, sementara monyet ekor panjang mencari buah di tepian hutan. Jejak babi hutan menghiasi lantai tanah yang basah, dan di balik rimbunnya vegetasi, sanca kembang berdiam diri sebagai predator alami.
Topografi Ekstrem dan Jejak Vulkanik
Secara geografis, Ceding memiliki karakter topografi yang ekstrem. Bagian selatan relatif datar, namun semakin ke utara berubah menjadi perbukitan dengan kemiringan lebih dari 45 derajat.
Di sisi utara, terdapat jurang setinggi sekitar 40 meter yang menjadi benteng alami kawasan ini. Tanah di Ceding didominasi jenis andosol, regosol, dan aluvial, hasil endapan abu vulkanik ribuan tahun lalu.
Menariknya, di beberapa titik juga muncul sumber air panas alami, menandakan aktivitas geotermal di bawah permukaan tanah yang turut menopang keseimbangan ekosistem.
Bentang Alam yang Rapuh dan Terancam
Meski tampak kokoh, Cagar Alam Ceding adalah ekosistem yang rapuh. Tekanan dari aktivitas manusia di sekitar kawasan, terutama perluasan lahan pertanian dan perkembangan permukiman, menjadi tantangan serius bagi kelestariannya.
Di sekitar kawasan juga terdapat makam-makam tua yang sering dikunjungi peziarah. Jejak aktivitas manusia ini menjadi pengingat bahwa batas antara konservasi dan eksploitasi sangatlah tipis.
Status hukum sebagai cagar alam saja tidak cukup untuk menjamin kelangsungan kawasan ini. Diperlukan kesadaran kolektif masyarakat dan komitmen kuat dalam menjaga ekosistem yang tersisa.
Sumber/data: bbksda jatim