Hari Keempat Ramadan 2025, Harga Cabai di Pasar Surabaya Sempat Sentuh Rp120 Ribu Perkilo
Hari keempat bulan Ramadan 2025 atau 1446 Hijriah, harga sejumlah barang ataupun komoditas pangan di pasar Kota Surabaya terpantau masih belum stabil.
Pantauan Ngopibareng.id di Pasar Genteng, Surabaya, harga komoditas pangan berupa bumbu dapur, seperti cabai dan bawang mengalami kenaikan harga yang fluktuatif.
Hali ini diungkapkan Parno, pedagang sayuran dan bumbu dapur di Pasar Genteng. Pria berusia 47 tahun itu menyebut, harga cabai pada bulan Ramadan ini bahkan bisa naik-turun tiap jamnya.
Sebelum bulan Ramadan jatuh, Parno mengatakan, harga cabai rawit bisa sampai menyentuh Rp 25.000 sampai 30.000 per kilogramnya.
"Cabai besar harganya Rp70 ribu, cabai rawit ini sudah nyentuh Rp100 ribu, mulai naiknya semua menjelang Ramadan, harganya naik turun, jam-jaman gitu," ungkapnya kepada Ngopibareng.id, Selasa 4 Maret 2025.
Hal senada diungkapkan pedagang lainnya di Pasar Genteng, Basuno. Lelaki paruh baya ini mengatakan, harga cabai yang dijualnya sempat menyentuh angka Rp 120.000 pada hari pertama Ramadan.
"Harga rawit sempat Rp120 ribu hari pertama puasa, sekarang Rp80 ribu, cabai besar Rp70 ribu, cabai keriting Rp60 ribu, sama harganya naik-turun juga," ungkap pria berusia 65 tahun ini.
Menurut Basuno, harga cabai yang fluktuatif tersebut terjadi karena pasokannya yang tidak pasti. Bahkan, pemasok langganannya sempat tidak mengirim komoditas pangan kepada dirinya.
"Awal Ramadan kemarin sempat libur pemasoknya makanya nggak mesti jual banyak saya, palingan dua kilogram karena yang beli cuma satu sampai dua ons saja," tuturnya.
Sementara di Pasar Tambahrejo, Surabaya, salah satu pedagang sembako, Warinten juga menjelaskan komoditas pangan seperti cabai, telur, bawang, hingga minyak kompak mengalami kenaikan.
Harga cabai rawit sebelum Ramadan hanya Rp30 ribu per kilogram, sekarang mencapai Rp110 ribu, cabai merah besar Rp60 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp30 ribu, dan telur Rp32 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp28 ribu.
"Begini ini bukan gara-gara puasa, harganya satu jam naik satu jam turun, kalau lombok begitu," tutur pedagang berusia 63 tahun.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pengendalian dan Distribusi Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Kota Surabaya, Agung Supriyo Wibowo, menjelaskan bahwa tren kenaikan harga pangan biasanya terjadi menjelang Lebaran. Oleh karena itu, Pemkot Surabaya akan terus melakukan pemantauan untuk mengetahui komoditas yang mengalami kenaikan harga.
Untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, Agung menerangkan bahwa Pemkot Surabaya bersama stakeholder terkait akan menggelar Pasar Murah dan Gerakan Pangan Murah (GPM).
Mengenai langkah yang akan diambil jika ditemukan pelanggaran oleh pedagang, Agung menjelaskan bahwa pihaknya lebih mengedepankan pendekatan persuasif.
"Kami sifatnya imbauan, tapi kalau nanti ada temuan kadaluarsa seperti di supermarket, kami kumpulkan nanti dari BBPOM akan dimusnahkan di sana," terangnya.
Agung berharap pengawasan ini dapat menjaga stabilitas harga bahan pokok dan memastikan pasokan tetap aman bagi masyarakat.