Harga Plastik Kemasan Naik Drastis, Pedagang di Banyuwangi Mengeluh
Harga plastik kemasan di Banyuwangi meroket dampak perang di Timur Tengah. Kenaikannya mencapai 70 persen. Tingginya harga plastik ini dikeluhkan penjual hingga pedagang yang menggunakan plastik kemasan. Mereka mengaku dirugikan dengan tingginya harga plastik ini.
Kenaikan harga plastik kemasan ini sudah terjadi sejak pertengahan Maret 2026 atau menjelang Lebaran 2026. Kenaikan terjadi secara bertahap dan mencapai puncaknya beberapa hari terakhir.
Pemilik Toko Royal Plastik di Jalan KH Agus Salim, Steven Wijaya, 36 tahun, mengatakan, dari informasi yang diterimanya, kenaikan harga plastik kemasan ini dikarenakan kelangkaan bahan baku dan akibat terjadinya. Awalnya kenaikan hanya sekitar 30 persen. Namun saat ini sudah mencapai 70 persen.
Kenaikan paling tinggi terjadi pada gelas plastik. Besaran kenaikan tergantung pada merek dan kualitasnya. Untuk yang kualitasnya biasa, naik dari Rp 7.500 per slop menjadi Rp 12 ribu per slop. Ada juga yang harganya sudah naik menjadi Rp15 ribu dan bahkan Rp 20 ribu per slop.
Harga tas kresek juga naik dari Rp3.500 menjadi Rp6 ribu per kemasan. Wadah styrofoam naik dari Rp23 ribu per bal menjadi Rp 35 ribu per bal. Harga sedotan plastik juga naik.
"Semua barang yang mengandung bahan plastik naik, termasuk kertas minyak," ungkapnya.
Akibat kenaikan ini, Steven mengaku tidak berani menambah stok. Dia memilih membatasi stok sesuai kebutuhan pelanggannya. Ia menahan untuk tidak kulakan kemasan plasik ke pabrik karena khawatir harganya sewaktu-waktu akan turun. Padahal saat harga masih normal dia bisa dua hingga tiga kali kulakan dalam sebulan.
"Sekarang saya membatasi stok. Tidak langsung panic buying. Nanti tiba-tiba bulan depan harga turun, kan jadi susah jualnya ke pelanggan," ujarnya.
Dia mengaku, kenaikan harga ini juga berdampak daya beli pelanggannya. Para pelanggan yang mayoritas adalah pedagang pun turut membatasi pembelian. Secara umum daya beli pelanggannya turun hingga 30 persen.
"Padahal sebenarnya untuk pasar masih bagus. Karena barang plastik ini dibutuhkan. Hanya karena harganya naik tinggi, pembeli mulai membatasi," katanya.
Seorang penjual es kelapa muda di Jl. Kepiting, Banyuwangi, Mariani, 40 tahun, mengaku kenaikan harga plastik kali ini sangat tinggi. Sebelum Lebaran sempat naik dari Rp11 ribu per slop menjadi Rp13.500 per slop, lalu naik menjadi Rp15 ribu dan saat ini sudah di harga Rp21 ribu per slop.
"Ini kenaikannya benar-benar siginifikan, dari Rp11 ribu sekarang sampai Rp21 ribu hampir dua kali lipat," jelasnya.
Meski harga plastik kemasan naik, Dia mengaku belum berani menaikkan harga es kelapa muda. Dia masih mempertahankan harga lama karena tidak ingin kehilangan pelanggan. Risikonya, keuntungan yang didapatnya berkurang.
"Otomatis untungnya menipis," ujarnya.