Kemenag Berangkatkan Seribu Dai untuk Dakwah ke Daerah 3T hinga Luar Negeri
Kementerian Agama (Kemenag) RI melepas 1.000 dai se-Indonesia untuk berdakwah ke berbagai wilayah. Para dai ini akan berdakwah ke daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), wilayah khusus, hingga luar negeri.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam), Abu Rokhmad mengatakan bahwa pengiriman dai ke wilayah 3T merupakan program tahunan Kemenag setiap bulan ramadan sejak 2022. Para dai ini akan mengabdikan diri selama bulan Ramadan untuk membantu menyelesaikan masalah sosial dan budaya di wilayah perbatasan.
“Para dai yang kami kirimkan harus terpisah dengan keluarga selama sebulan, ini pengabdian luar biasa,” ujar Abu melalui keterangannya, Kamis 27 Februari 2025.
Menurut dia, Kemenag juga memperluas layanan keagamaan bagi diaspora Indonesia di luar negeri dengan mengirim 5 dai ke 3 negara. Seperti Australia, Jerman, dan Selandia Baru.
"Para pendakwah yang ditugaskan di luar negeri merupakan peraih juara MTQ di tingkat nasional," ucapnya.
Abu juga mengingatkan terkait dokumentasi dan evaluasi dakwah. Setiap dai diminta melaporkan aktivitasnya, mengaktifkan media sosial, serta membuat laporan berbasis data untuk mengukur perubahan yang terjadi di masyarakat.
“Negara membutuhkan tangan-tangan kreatif dan niat baik para dai. Bantu negara ini dengan mengajak masyarakat bekerja keras sesuai bidangnya," kata dia.
Sementara itu, Direktur Penerangan Agama Islam Ahmad Zayadi menambahkan, meningkatnya permintaan layanan keagamaan dari diaspora berpotensi menjadikan Indonesia sebagai kiblat dalam kajian praktik keislaman. Hal itu sebagaimana permintaan imam dan khatib dari berbagai negara, termasuk Kuwait dan Uni Emirat Arab.
“Layanan keagamaan yang kita berikan bisa dilihat dari keberadaan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) yang dibangun oleh Indonesia. Kampus tersebut memiliki 70 persen mahasiswa asing dan 30 persen mahasiswa lokal,” ujarnya menambahkan.
Untuk itu, Zayadi berharap, para dai yang diutus dapat memahami pentingnya mengenal audiens (mad’u) secara psikologis dan spiritual. Dikatakannya, dakwah perlu memperhitungkan faktor sosial dan budaya masyarakat.
"Dai tidak hanya bertugas menyampaikan ajaran agama. Akan tetapi juga melakukan analisis sosial agar dakwah lebih efektif,” ucap Zayadi.